Arsip untuk April, 2010|Halaman arsip bulanan

Cerita Hot – Akibat Salah Pijat

Cerita ini berawal ketika kantor saya mengadakan workshop (jalan-jalan tahunan) dan saat itu tujuan kami adalah hotel Novus, Puncak. Adalah salah satu teman bernama Tari Rismayati (panggilan Riris) yang masih single juga sama seperti saya. Dia berumur satu tahun dibawah saya dan belum berkeluarga juga. Terus terang saya heran melihat dia. Secara fisik Riris orangnya tergolong cantik, rambut panjang sebahu, wajah oval, kulit kuning langsat cenderung putih mulus, dengan buah dada yang besar menantang. Dan yang paling membuat saya berdehem dalam hati kalau melihat pinggul dan pantatnya yang besar dan membulat mencetak celana dalam ukuran mini yang selalu dia pakai jika di kantor. Itu selalu saya perhatikan setiap hari bahwa ukuran roknya selalu kekecilan dengan pinggul yang indah jika sedang berjalan.

Satu minggu sebelum berangkat Workshop, kami sempat makan siang bersama disebuah restoran dalam gedung kantor kami. Setelah ngobrol kesana kemari akhirnya subject pembicaraan mengarah ke workshop.

Saya bertanya, “‘Ntar workshop gimana kamu?”.

Riris menjawab dengan wajah yang lesu, “Ach, nggak tau juga Di, aku lagi bete nich, kayaknya kesana lumayan buat nyegerin pikiran aku.”

“Lho emangnya ada apa,”tanyaku menyelidik.

“Aku abis putus ama cowok ku soalnya dia selingkuh, maen belakang, trus ketauan ama aku,”celetuknya dengan muka sedikit memerah menahan marah.

“Ya udah,” sambungku “Ntar saya temenin kamu disana biar ngelupain dia.”

Dia tersenyum sambil bilang, “Tapi aku lagi mo sendiri Ardi.”

Aku tak kalah gesit menjawab ucapannya, “Iya Ris, Aku juga lagi mo sendiri aja ‘en rencana ntar aku mo sewa kamar sendiri aja, kalau kamu mau gabung aja kita bisa ngobrol ampe malem keluarin semua unek-unek yang ada dikepala kita masing-masing.”

Aku terus menjelaskan rencanaku minggu depan dihotel tersebut. Dan tak diduga respon dari Riris, “Oleh juga tuh Di, aku emang butuh itu enak kali yah ngobrol ngobrol kita berdua sampe malem”. “Iya, sekalian kalau kamu mau, saya juga nggak keberatan ngelonin kamu tidur,” candaku kepadanya.

“Ha, gila kamu” mata Riris memancarkan arti yang tidak dapat saya cerna.

Satu hari sebelum berangkat kami didata ulang oleh panitia, menyangkut pembagian kamar tidur. Sudah menjadi tradisi kantor kami, bahwa satu kamar berdua, dan diatur oleh nomor nomor kamar yang ada. Saya berdua dengan teman saya Hendra, dan Riris waktu itu terdata satu kamar bersama Wina. Dan tibalah waktunya bahwa kami satu kantor berangkat menuju hotel Novus ada hari Sabtu bersama sama dengan menggunakan satu bis besar. Kantor kami hanya berjumlah total 50 orang bersama orang asing juga. Rupanya dalam batas akhir sebelum naik ke bis, ada dua orang yang batal ikut karena alasan keluarga, mereka adalah Tiara, dan Wina. Wina?, bukannya Wina satu kamar dengan Riris, dan berarti nanti Riris sendirian dong dikamar. Pendulumku langsung bereaksi mendengar kabar tersebut. Sambil mengisi waktu, kami banyak bersenda gurau dalam perjalanan hingga akhirnya tiba tepat makan siang di hotel. Setelah kami makan dengan lahap, kami diberikan kunci kamar oleh panitia dan langsung check-in ke dalam kamar masing masing.

Sore harinya kami memanfaatkan kolam renang yang ada di hotel untuk bermain main. Dapat saya lihat Riris yang sudah memakai pakaian renang yang seksi. Uh, bukan main indahnya, saya betul betul terangsang melihat keadaan Riris seperti itu. Otak kotorku mulai bekerja supaya bagaimana dapat tidur dengannya malam ini. Dalam kumpulan laki laki ada Pak Kardi yang nyeletuk kepada teman laki laki berkata, “Waduh si Riris kalo abis berenang gue mau tuh mandiin dia.” Sambil matanya juga tak lepas dari gerakan pantat Riris yang berlenggang lengok kekiri kekanan mengikuti irama langkahnya.

Ketika Riris sudah selesai bermain dikolam renang dan akan kembali ke kamarnya, akupun mengikutinya seakan akan akupun sudah selesai dan ingin mandi. Sambil berjalan dibelakangnya, saya melihat celana dalam mini berenda yang dipakai Riris tercetak jelas oleh baju renang tipis yang berwarna ungu.

“Waduh, kok cepet selesainya Ris,” celetukku sambil berjalan disampingnya.

Riris menjawab, “Habis aku nggak tahan airnya terlalu dingin.”

Sambil dia menyilangkan tangannya dikedua belah dadanya yang padat montok tersebut.

“Trus kamu ngapain juga selesai,” tanya dia lanjut.

“Akh, aku udah bosen mendingan mandi air hangat terus nunggu makan malam, khan enak tuh”.

Lalu pembicaraan kami terpisah ketika Riris harus mengambil arah kekiri dan saya kekanan sambil berucap, “Sampai nanti ,. dagg”.

Waktu menunjukan pukul delapan, setelah perut saya isi dan kenyang sekali rasanya. Makan malam dihotel ini terasa nikmat sekali. Saya melihat sudah beberapa kali Riris menguap dan kemudian pamit dari kerumunan anak anak untuk pamit ke kamar. Dalam perjalanan ke kamarnya, dia ada melihat saya dan kemudian mengerdipkan mata seperti memberi tanda ke saya. Dengan sedikit tegang saya berpura pura seolah saya pun capek setelah bermain seharian dengan teman kantor dan ingin tidur.

Pada sore hari saya sudah memberitahu ke Hendra (teman sekamar saya) bahwa mungkin saya akan begadang keluar hotel, jadi nanti dia tidak kawatir atau curiga kepada saya. Dalam perjalanan dari restoran ke cottage agak jauh.

Riris berjalan kecil sendiri dan saya dengan cepat mengejarnya, dan menyapanya,

“Ris, udah ngantuk ya sayang, mau tidur..”

Riris menyahut, “Iya nih, nggak tahu kenapa nich badan semua jadi pegel semua, mungkin tadi renangnya kebanyakan kali.” Sambil berkata begitu, dia mengusap usap belakang lehernya sambil kepala digelengkan kekiri lalu kekanan.

“Makanya kamu juga sih terlalu over berenangnya, kamu kebanyakan diliat ama temen temen cowok lagi pas kamu berenang,” sahutku.

“Hm, aku tahu, justru karena mereka aku jadi lebih semangat,” kata Riris sambil masih tetap mengusap leher belakangnya.

“Kamu mau saya pijit pijit kecil Ris,” kataku sedikit berani.

“Hhh, boleh juga, tapi cuman di leher sama sekitar pundak yah,” sahutnya sedikit lemah.

Tak lama kami sudah tiba didepan pintu kamar Riris. Setelah dia membuka pintu kami berdua langsung masuk, saya sempat melihat pada sudut mata Riris ketika dia tutup pintu, matanya seperti melihat kiri kanan takut takut kalau ada orang disekitar yang melihat kami.

Dalam kamar Riris mempersilahkan saya duduk sambil dia permisi sebentar ke toilet. Sambil menunggu Riris saya menonton TV yang ada dikamar. Tidak begitu lama, Riris sudah keluar dan telah berganti baju tidur daster. Daster yang dipakai berwarna kuning dengan ukuran yang dapat saya katakan mini. Kenapa demikian? Daster tersebut hanya sebatas setengah pahanya saja dan berenda kuning juga, kemudian di pundaknya hanya mengenakan satu tali saja. Buah dada yang ranum menantang sekali dengan dua puting yang mencuat. Gila bukan main, dia sudah tidak memakai BH, tapi masih memakai celana dalam.

Celana dalam itu jelas tercetak menerawang tembus pandang dari daster kuning tersebut. Celana dalam Riris juga dalam ukuran yang sexy, mini CD warna putih, kontras dengan daster yang dipakai. Sebelum saya memberi komentar, Riris sudah berbicara,

“Ardi, kamu jangan salah sangka dulu, saya pakai ini supaya kamu mudah pijat leher dan pundak saya, lagi pula saya juga tidak bawa baju tidur lain selain yang ini, mudah-mudahan kamu tidak keberatan.”

“Oh, tentu tidak dong Ris, suka suka kamu aja, yang penting bajunya jangan menggangu pijat memijat,” kataku sambil menelan ludah beberapa kali.

Riris tersenyum lagi dan berkata, “Kamu pijet saya pake kaos lengan panjang apa tidak mengganggu, apa lagi nanti kamu naik ke ranjang kalau perlu, keliatannya celana panjang kamu juga ganggu, apa nggak lebih baik ganti yang pendek atau dilepas sekalian?”

Saya bengong atas ucapannya, lalu saya katakan, “Betul juga Ris, saya buka kaos aja deh,” sambil saya mengangkat koas saya sehingga saya sudah bertelanjang dada, dan kemudian Riris melihat ke celana panjang saya sambil mulutnya sedikit dimonyongkan. Saya pun membuka celana panjang saya, dan hanya tertinggal celana boxer saya. Riris tersenyum puas setelah melihat saya akan mudah nanti memijitnya. Dia langsung naik ke ranjang dan berbaring terlungkup, sambil memanggil nama saya, “Di, ayo dong mulai, badan Riris makin pegel nih”. Mendengar rengekan Riris saya langsung naik ke ranjang dan memulai aktivitas dengan memijit Riris.

Sungguh sempurna tubuh Riris dari belakang. Mimpi apa aku semalam sehingga Riris begitu pasrah memberikan sajian gratis seindah ini. Kulit yang mulus dengan pinggang ramping, pinggul yang besar dengan buah pantat yang membulat mumbul tinggi. Dapat kulihat dengan jelas belahan pantat Riris yang dibalut dengan CD mininya. Sebentar saja tangan saya sudah memijat bagian leher yang tegang, dan seeskali kebawah meijat pundaknya. Riris terkadang bersuara mendesah ketika tangan saya sedikit keras memijitnya,

“Uh, oh, hmm,” desahnya putus putus, membuat saya makain panas saja.

Adik kecil dibalik celana boxerku sudah mengacung keras siap tempur, entah apa yang sedang dipikir Riris sekarang.

Kemudian setelah kurang lebih 4 menit, Riris minta dipijit agak kebawah. Dengan yakin tangan saya kedua duanya merayap ke bawah, dari arah ketiak terus turun kebawah. Sambil sekali kali jari jemari saya dengan nakalnya menyentuh dari samping kedua bukit ranum yang mengembung keluar kesamping karena tertindih tubuhnya. Saya terus terang sudah tidak ada pikiran positif, otak ngeres saya terus bermain main fantasi, hingga suatu ketika,

“Di, pijatan kamu enak deh sekarang Riris minta dipijat bagian depan ya sayang,” sahut Riris sambil membalikan tubuhnya kedepan.

Waduh mak bukan main saat itu saya betul betul tidak tahan saya langsung meraba kedua belah susunya yang tegak menjulang, hal yang membuat Riris langsung kaget.

“Mardi,.! saya minta tolong kamu untuk pijat saya kenapa kamu memanfaatkan itu dengan meraba tubuh saya,” hardiknya.

Langsung saya kaget, saya kira dia minta lanjut dalam permainan tersebut ternyata dia memang betul betul minta dipijit. Langsung saya minta maaf kepadanya,

“Waduh maaf deh Ris, aku kelepasan, maklum deh tubuh kamu ranum sekali, sexy apalagi dengan itu (sambil menunjuk kedua buah dada Riris) yang mancung bikin aku jadi geregetan mau iseng.”

“Maaf ya sekali lagi Maaf,” kataku dengan penyesalan.

Riris yang melihat saya begitu agak melunak tapi kemudian dia menangis sambil berkata, “uhh, hh, hg hg hg,. emang setiap laki laki yang mau sama Riris cuman mau tubuh Riris aja, ini juga terjadi dengan cowok Riris yang dulu, maunya making love terus sama Riris, nggak ada perasaan sama sekali.”

Aku terhenyak, ternyata wanita didepan saya ini memang sudah pernah melakukan hubungan suami istri sebelum menikah, dan pendulumku kembali kontak. Dengan gaya yang gentle saya memeluk dia dari belakang dalam posisi duduk, tangan saya berada di perutnya sambil berkata,

“Riris, aku tuh memang udah salah, kamu Maafin ya, aku janji pokoknya malem ini kita cuman sayang sayangan aja deh nggak sampe kelewatan,” kataku menenangkannya.

Dia menengok ke belakang hingga wajahnya dekat sekali denganku dan berucap,

“Bener ya janji, kamu cuman kelonin aku aja nggak sampe kebablasan?”.

Aku mengiyakan dengan anggukan kepala sambil mencium kecil pipi kanannya.

Dia tersenyum, kemudian membalas mencium kecil bibirku. Aku pun serta merta tangan kanan mulai naik dari perut meraba buah dada yang menggantung tersebut. Riris menutup mata merasakan kenikmatan tersebut, kemudian dengan itu juga aku mencium bibirnya yang sensual, sambil sesekali kuhisap bibir bawahnya dan lidahku menjelajah ke rongga giginya dan menghisap lidahnya.

Riris benar benar menikmatinya, maka setelah melihat lampu hijau seperti itu, kedua tanganku sudah berada pada dua buah dada ranumnya. Oh alangkah nikmatnya tanganku bermain disana, meremas remas sambil kupelintir kedua puting susunya dengan ibu jari dan telunjukku. Riris terkadang bergetar tubuhnya ketika kombinasi yang kulakukan yaitu meremas sambil memuntir puting susunya. “Ah, Ardi kamu pinter bikin aku terangsang ya, ingat lho kita nggak boleh lebih jauh dari ini,” kata Riris mengingatkanku.

“Iya dong sayang aku pasti inget, khan ada kamu juga yang ngingetin!”

Sambil berkata begitu aku membaringkan tubuhnya diranjang dan aku dari belakang langsung ke depan menindihnya sambih terus melanjutkan meremas dan mencium bibir sensual nan menggairahkan tersebut. Riris masih terus mengingatkan, namun bahasa tubuhnya lain. Alat kelamin kami sudah bersentuhan, dimana batang kemaluanku yang sudah keras menggesek bibir luar kemaluannya dan gerakan kami seperti orang yang sedang bersenggama. Saya mendorong kebawah, Riris mendorong pula pantatnya yang tembem keatas, saya tarik pinggang saya, dia pun demikian.

Ketika mulut saya sudah mulai menjalar kedadanya dia mulai protes.

“Mardi, kamu nggak boleh kesana sayang, ohh, hh!” desah Riris tapi tangannya sama sekali tidak menutupi dadanya.

Saya menjawab dengan lembut, “Riris sayang, kalau peting cium atau jilatin nenen aja boleh dong, khan nggak kenapa napa?” saya mencoba tawar menawar dengannya.

“Ohh, kamu katanya kelonin aku, kok sekarang kita peting sih? ” rajuknya dengan muka bersemu merah menahan birahi yang terpancar keluar dari tubuhnya. Tanpa menunggu alasan lagi dari si cantik itu langsung mulutku menjilat puting susu yang memerah muda, karena birahi sambil aku menyedot putingnya bagaikan anak kecil yang sedang netek keibunya. Riris menggigit bibir sendiri menahan luapan emosinya yang meletup letup kian besar. Oh nikmatnya tiada tara menjilati dan menyedot susu seorang Riris.

Kaki Riris sudah menyepak kesana kemari membuat daster yang dikenakan tidak bisa menutupi bagian bawahnya. Terus terang sambil menjilat, saya memperhatikan gundukan yang tembem di bawah pusar yang bagai kue apem mumbul dengan sedikit bulu bulu kemaluannya yang menyembul keluar menambah indahnya pemandangan tersebut. Pinggulnya bergerak tak menentu membuat indahnya pemilik gundukan tersebut.

“Hhh, Mardi.. hh enak sayang”, erang Riris.

Mendapat respon seperti tangan saya secara reflek mulai turun menjelajah dari buah dadanya ke bawah perut, mengusap daerah pusar yang rata nan halus, kemudian turun lagi dibawah pusar yang ditumbuhi bulu bulu halus, kemudian meraba daerah selangkangan Riris yang wow bukan main empuknya.

Aku tekan sekali sekali sambil kuremas secara acak. Hal ini menyebabkan gerakan pinggul Riris yang makin panas. Suasana alam puncak pada malam hari yang dingin, tidak dapat membuat tubuh kami berdua kedinginan malah justru sebaliknya. Saya dapat melihat butiran butiran keringat birahi yang menetes dari dahi Riris yang sedang membasahi rambut panjang dan indah itu.

Oh.. aku benar benar makin terbawa emosi birahi yang menggebu. Riris antara sadar dan tidak masih mengingatkan saya,

” Di, kamu nggak boleh buka CD aku yah.. kita khan udah janji cuman peting aja,” katanya sambil menahan sesuatu dalam tubuh yang bergelora.

“Oke Ris, aku buka daster kamu aja yah, liat tuh udah nggak karuan bentuknya sayang,” sahutku mencoba menawar.

Dan berhasil. Riris sendiri yang meloloskan dasternya, dia angkat dari bawah dan dinaikkan lewat lehernya. Berarti keadaan kami sekarang hanya masing masing tinggal celana dalam saja. Kami langsung berpelukan sambil berciuman panjang, oh nikmatnya dapat memeluk Riris dalam keadaan begini. Kulit kami langsung bersinggungan tanpa ada pemisah lagi. Setelah pelukan plus ciuman aku rasa cukup, tanganku mulai bermain ke arah selangkangan Riris dengan mengusap lembut naik turun melewati belahan vaginanya. Dari luar celananya saya bisa merasakan bahwa didalam sudah lembab sekali, tentu banyak cairan yang sudah keluar dari lubang vaginanya. Vagina Riris benar benar tembem aku rasa kalau aku benamkan milikku ke dalamnya pasti nikmat sekali.

Karena Riris menggunakan CD mini yang memang kurang bahan untuk menutupi kemaluannya, jari saya dengan mudahnya dapat melesat masuk melalui samping selangkangan dan bermain di sana, sebentar kemudian keluar lagi tanpa sempat Riris protes pada saya untuk tidak boleh melakukannya. Sesekali jari saya bermain pada bibir vaginanya agak lama setelah dia membuka suara,

“Di, jangan nanti aku keterusan.. ohh,” sambil meliukan pinggangnya bergoyang goyang.

Aku tetap tenang mengelus bahkan saat tangannya ingin mengeluarkan tanganku dari dalam CDnya seluruh jariku masuk dan meremas vagina Riris dengan lembut. Hal ini membuat Riris melenguh keras, dan lupa untuk melarang saya. Sambil tangan-tangan meremas vagina Riris, tangan kiri masih terus aktif memerah susu ranum baik yang kiri maupun yang kanan sambil dibantu oleh mulutku untuk mengisap bibir dan salah satu puting susu yang nganggur.

Jari tengahku mulai memainkan aksinya dengan mengilik klitoris Riris. Benar saja, klitoris itu sudah membesar dan basah. Riris menggeliat tak tentu arah sambil mendesah,

“Oh.. Mardi enak sekali sayang, nghh.. kamu udah nggak boleh lebih dari itu ya..”

Ternyata alam sadar Riris masih ada, dia masih ingat bahwa kita hanya boleh peting. Aku berkata sambil berbisik ditelinganya.

“Riris sayang.. CDnya dibuka ya biar kamu nggak kegencet, liat tuh CD kamu kekecilan nggak bisa nampung pantat kamu yang bulat besar sama vagina kamu yang tembem, lagian kamu juga udah basah, khan sayang ntar CDnya jadi lengket.”

Awalnya dia tidak mau, tapi saya katakan lagi.

“Ris.. nggak kenapa napa deh sayang.. khan aku masih pake boxerku, jadi cuman kamu aja yang telanjang, kalau aku tidak.”

Akhirnya Riris setuju, aku loloskan CD mini putih berenda itu, dan kali ini aku benar benar melihat Riris dalam keadaan polos tanpa sehelai benangpun, dengan keadaan birahi tinggi. Bukan main indahnya bentuk vagina Riris, dia mempunyai bulu vagina yang lebat denga bulu-bulu halus semua warna hitam. Bulu-bulu tersebut nampak rapih, karena dalam keadaan lurus tidak keriting seperti wanita kebanyakan. Mulutku mulai menjalankan aksinya, aku mulai menyusuri ke arah pusarnya terus turun dan berhenti tepat dibawah vaginanya.

Riris sedikit jengah dan berkata, “Oh, kamu jangan liat punya kayak gitu dong.. aku kan malu” sambil tangannya mencoba menutupi.

Tapi dengan cepat tanganku menahannya dan langsung bibirku mencium bibir luar vaginanya sambil kuhisap-hisap kedua belah bibir vagina Riris.

Dia benar benar kelojotan,” Ah Mardi, gila kamu, oh.. enak banget, hmm.. oh iya bener gitu sayang.. ohh..”

Aku makin berani kusapukan lidahku naik turun sambil tak lupa klitoris yang sebesar kacang tanah itu aku emut emut dan didalam bibirku aku kedut kedutkan. Lidahku mulai merangsek masuk ke dalam lubang vagina Riris yang memang benar benar sudah basah. Wangi semerbak yang tercipta karena napsu biharinya membuat aku makin berlipat ganda untuk keinginan menyetubuhinya. Dalam keadaan yang gamang tersebut kepala Riris tersentak kekiri dan kekanan menahan luapan cinta yang tak kunjung reda, aku diam-diam melepas celana boxerku sambil bibir tak lepas dari vaginanya.

Cukup mudah untuk melepas celan boxerku karena memang celana dalam dengan kondisi longgar. Satu kali tarik dengan tangan kiri, lolos sudah dan aku sudah telanjang bulat bersama Riris, tanpa dia sadari. Aku bisa melihat dan merasakan Riris hampir sampai titik orgasme, dan aku mulai dengan menuntun batang kemaluanku yang sudah siap tempur dengan topi baja yang mengkilap. Kedua belah kaki Riris aku lebarkan sambil tangan kiriku mempermainkan klitorisnya dengan ibu jari dan tangan kananku mengarahkan batang kemaluanku ke lubang vagina Riris.

Riris masih antara sadar dan tidak ketika kepala penisku bertemu dengan lubang depan yang merah menganga. Kepala penis langsung seperti kena hisap alat yang kuat oleh lubang vagina Riris. Riris mulai merasa aneh karena dia merasakan lain, bukan jari tanganku dan bukan bibirku yang bermain di kemaluannya. Dengan sedikit membuka mata dia melihatku. Aku tidak mau dia nanti memberontak menolak keadaan ini, langsung aku peluk dia sambil sedikit aku goyangkan tanpa aku mendorong masuk ke dalamnya. Cukup kepala penis saja yang terjepit di dalam vagina Riris.

Riris melotot kearahku dan dia berbicara dengan suara serak,

“Mardi.. kok kamu masukin, khan kita udah janji sayang cuman peting, nggak boleh begini dong.” Namun dalam bahasa tubuhnya pinggul dia tetap mengimbangi gerakanku yang naik turun menggesek vaginanya.

“Riris.. aku cuman masukin kepalanya aja sayang, kamu juga ngerasainkan?”

Tambahku, “Itu juga udah cukup buat kita, lagi nggak usah dimasukin semua.. kamu enak khan digini’in?” sambil aku goyang kekiri dan kekanan. Kepala penisku benar benar dijepit erat oleh vagina Riris.

Riris merem melek keenakan, dan tangan Riris akhirnya memelukku dan mengimbangi gerakanku. Baru aku tahu kalau dalam keadaan begini Riris benar benar dapat berkata vulgar, karena tiba tiba dia berkata,

“Di, penis kamu enak banget sih hangat kena vagina Riris.”

“Oh, Riris ini mah nggak seberapa sayang,” kataku.

Setelah kurang lebih tiga menit kami seperti itu, aku merasakan pantat Riris menaik lebih tinggi, seakan akan ingin merasakan lebih batangku. Maka akupun mulai sedikit demi sedikit mendorong lebih dalam, ternyata makin panas gerakan kami berdua, dan walhasil seluruh batangku terbenam di dalam vagina Riris. Dan aku rasa Riris pun mengetahui hal itu, dan dia mulai meracau lagi,

“Oh Ardi.. enak banget penis kamu masuk semua ke dalem vaginaku sayang.. hh”

“Ohh, Di.. dorong lagi biar makin dalem sayang..”

Bukan main, aku makin nafsu saja mendengar erangan dan kata-kata vulgarnya. Aku pun tidak mau kalah sambil memompa aku bertanya,

” Riris.. penis Mardi lagi ngapain vaginanya Riris sayang?”

“Hhh, skh.. hh penis kamu lagi ngentotin vagina aku sayang,” sambil Riris meremas pantatku gemas.

Aku pura pura tidak mendengar ingin dia mengulang lagi kata katanya,

“Ha.. lagi ngapain sayang?”

“Lagi dientot sayang..ohh nikmatnya..”

Aku bertanya lagi, “Emang Riris mau dientot ama Mardi?”

Riris menyahut,”Iya sayang Riris ketagihan nih mengentot sama kamu, abis penis kamu mantap, nikmat, enak rasanya.”

Sambil begitu saya benar-benar merasakan jepitan-jepitan halus dari dinding vagina Riris. Benar benar wanita yang tercipta sempurna untuk bersenggama. Lubang vaginanya mempunyai jepitan yang kuat dengan variasi batang kemaluanku di dalam seperti dirayapi oleh jutaan semut, jadi seperti terkena setrum kecil, tapi hangat dengan sebentar-bentar vagina tersebut mencucup kembang kempis menyedot seluruh batang kemaluanku.

Setelah lebih 20 menit kami bersenggama dengan ucapan ucapan vulgar, Riris sudah hampir mendekati klimaksnya.

“Ayo Mardi, aku udah mau keluar, entot terus aku iya teken biar kena klitorisku oh.. benar begitu sayang.. aduh, enak bener ngentot ama kamu.”

Gila juga nih perempuan, kalo dalam keadaan birahi begini omongannya jadi vulgar seperi ini. Akupun merasakan intensitas kedutan vagina Riris makin tinggi, dan sepertinya akupun ingin melepaskan kenikmatan bersama Riris sayangku.

“Oh, Ris.. enak banget vagina kamu ada empot ayamnya sayang, rasanya legit, rapet, peret, oh, aku mau klimak sayang, gimana nih didalam atau diluar,” kataku dalam keadaan yang kejang kejang nikmat.

Lalu dijawab oleh Riris, “Didalem aja Mardi biar enak, aku juga mau ngerasain disemprot ama penis kamu, dan mungkin besok lusa ada dapet haid, jadi aman,” desah Riris yang juga menahan amukan dalam gelora birahi yang siap meledak beberapa saat lagi.

Akhirnya aku merasakan batang kemaluanku diremas kuat sekali oleh otot vaginanya, gerakan pinggul Riris terhenti, sambil pantatnya ditinggikan aku mengocok sedikit memberikan nuansa lain dalam vaginanya, lagi Riris menggeram dan..

“Oh sayang aku klimaks, ouh.. ahh. nggh ahh enak.. enak hh..”

Aku pun tak tahan penisku diremas dan disedot oleh vagina Riris, dengan satu dan dua kali sentakan penisku menyemportkan sperma jauh langsung masuk kedalam rahim Riris, dan yang semportan kedua tak kalah nikmatnya. Gerakan kami seperti begitu kompak, ketika aku menyemprotkan sperma, vagina Riris menyedot kencang hingga kami berdua merasakan nikmat senggama yang sangat indah.

Puas aku selesai klimaks dan begitu juga Riris, ketika aku ingin melepas penisku, Riris mencegahnya.

“Biarin didalam dulu sampe ngecil dan keluar sendiri yah.”

Akhirnya kami berbaring menyamping dengan keadaan kemaluan kami masing-masing masih menyatu, masih dapat aku rasakan kedutan dalam vagina Riris namun sudah melemah, dan batangku mulai berangsur-angsur mengecil dan akhirnya lepas dengan sendirinya dari vagina Riris.

Waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi, setelah kami selesai mandi berdua di dalam bathup, dan ketika aku mau kembali ke kamarku Riris menahannya, dan dia minta sekali lagi untuk bermain cinta. Akupun melayaninya. Katanya mumpung ada waktu. Ronde kedua kami lakukan lebih hot lagi karena yang kedua dilakukan tanpa takut-takut seperti yang pertama, dan kami akhiri dengan klimaks bareng dengan sempurna.

Sepulangnya dari puncak, hubunganku dengan Riris makin hangat, tapi kami selalu menutupi di kantor dengan berpura pura bahwa antara kami tidak ada hubungan apa-apa hanya sebatas teman kerja. Padahal kalau ada waktu di kantorpun kami peting. Saya berkerja di bagian komputer, Riris bagian Settlement. Kalau salah satu dari kami ingin dipeluk, maka kami memberikan kode untuk menuju ruang komputer yang tidak ada orang, kemudian kami ketempat yang paling pojok supaya aman dan berpelukan. Biasanya kami berpelukan sambil mengusap usap apa yang perlu diusap, biasanya saya meremas gemas pantatnya, dan meremas lembut buah dadanya, sambil dibarengi dengan ciuman bibir dengan sedikit panas. Setelah kami puas, Riris biasanya keluar lebih dulu dari ruang komputer, dan tidak lama kemudian baru saya.

Rasa ingin bersenggama dengan Riris demikian besar, begitu juga Riris yang ingin sekali bercinta dengan saya. Akhirnya saya mencari kost-kost’an yang dekat dengan kantor yang fungsinya kalau istirahat makan siang kami dapat mencuri waktu berdua kekost’an saya dan kami berdua saling melepas hasrat terpendam dan setelah selesai kami dapat dengan cepat kembali ke kantor, dan untuk makan siang kami membiasakan ngemil di kantor, jadi tidak begitu lapar.

TAMAT

Tags : Cerita hot,cerita sex indonesia,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,photo bugil maria ozawa,video bugil maria ozawa, gambar telanjang mahasiswi, bokep mahasiswi, mahasiswi ngentot, memek mahasiswi, mahasiswi montok, mahasiswi mulus, jablay mahasiswi

Cerita Hot – Indahnya dengan kekasih baruku

Pada tahun 2009 aku tercatat sebagai siswa baru pada SMUN ** (edited), pada waktu itu sebagai siswa baru. Yah, acara sekolahan biasa saja, masuk pagi pulang sekitar jam 14:00, sampai pada akhirnya aku dikenalkan oleh teman seorang gadis yang ternyata gadis itu sekolah juga di dekat sekolahku yaitu di SMPN ** (edited). Ketika kami saling menjabat tangan, gadis itu masih agak malu-malu, kulihat juga gadis itu tingginya hanya sekitar 158 cm dan mempunyai dada yang memang kelihatan lebih besar dari anak seumurnya, sekitar 34B (kalau tidak salah umurnya 14 tahun), mempunyai wajah yang manis sekali dan kulitnya walaupun tidak terlalu putih tapi sangat mulus, (sekedar info, tinggiku 165 cm dan umurku waktu itu 16 tahun).

Aku berkata, “Siapa nama kamu?” dia jawab L**** (edited).

Setelah berkenalan akhirnya kami saling memberikan nomor telepon masing-masing. Besoknya setelah saling telepon dan berkenalan akhirnya kami berdua janjian keluar besok harinya sebagai jalan pertama, sekaligus cinta pertamaku membuatku deg-degan, tetapi namanya lelaki yah… jalan terus dong.

Akhirnya malam harinya sekitar jam 19:00, aku telah berdiri di depan rumahnya sambil mengetuk pagarnya, tidak lama setelah itu L**** muncul dari balik pintu sambil tersenyum manis sekali, dia mengenakan kaos ketat dan rok yang kira-kira panjangnya hampir mencapai lutut berwarna hitam.

Aku tanya, “Mana ortu kamu…?” dia bilang kalau di rumah itu dia cuma tinggal bersama papanya dan pembantu, sedangkan kalau kakaknya dan mamanya di kota lain.

“Oohh…” jawabku. Aku tanya lagi, “Terus Papa kamu mana?” dia jawab kalau Papa lagi keluar ada rapat lain di hotel (Papanya seorang pejabat kira-kira setingkat dengan Wagub) jadi saat itu juga kami langsung jalan naik motorku, dan tanpa disuruh pun dia langsung memeluk dari belakang.

Penisku selama jalan-jalan langsung tegang, habis dada dia begitu kenyal terasa di belakangku seakan-akan memijit-mijit belakangku (motorku waktu itu sangat mendukung, yaitu RGR).

Setelah keliling kota dan singgah makan di tempat makan, kami langsung pulang ke rumahnya. Setelah tiba kulihat rumahnya masih sepi, mobil papanya belum datang.

Tiba-tiba dia bilang “Masuk yuk! Papaku kayaknya belum datang.”

Akhirnya setelah menaruh motor, aku langsung mengikutinya dari belakang, aku langsung melihat pantatnya yang lenggak-lenggok berjalan di depanku. Kulihat jam ternyata sudah pukul 21:30, setiba di dalam rumahnya kulihat tidak ada orang.

Kubilang, “Pembantu kamu mana?” dia bilang kalau kamar pembantu itu terpisah dari bangunan utama rumah ini agak jauh ke belakang.

“Oohh…” jawabku.

Aku tanya lagi, “Jadi kalau sudah bukakan kamu pintu pembantu kamu langsung pergi ke belakang?” dia jawab iya.

“Terus Papa kamu yang bukain siapa…”

“Aku…” jawabnya.

“Kira-kira Papa kamu pulang jam berapa sih…” tanyaku.

Dia bilang paling cepat juga jam 24:00.

Langsung saja pikiranku ngeres sekali.

Kutanya lagi, “Kamu memang mau jadi pacarku..?”

Dia bilang, “Iya…”

Lalu aku bilang, “Kalau gitu sini dong dekat-dekat aku..!”

Belum sampai pantatnya duduk di kursi sebelahku, langsung kutarik ke dalam pelukanku dan mengulum bibirnya, dia kaget sekali, tapi belum sampai ngomong apa-apa tanganku langsung memegang payudaranya yang benar-benar besar itu sambil kuremas-remas dengan kuat sekali (habis sudah kebelet) dia pun mengeluh, “Ohh.. oohh sakit,” katanya.

Aku langsung mengulum telinganya sambil berbisik, “Tahan sedikit yah…” dia cuma mengangguk.

Payudaranya kuremas dengan kedua tanganku sambil bibirku menjilati lehernya, kemudian pindah ke bibirnya langsung kulumat-lumat bibirnya yang agak seksi itu, kami pun berpagutan saling membenamkan lidah kami masing-masing. Penisku langsung kurasakan menegang dengan kerasnya. Aku mengambil tangan kirinya dan menuntun memegang penisku di balik celanaku, dia cuma menurut saja, lalu kusuruh untuk meremasnya.

Begitu dia remas, aku langsung mengeluh panjang, “Uuhh… nikmat sayang,” kataku.

“Teruss…” dengan agak keras kedua tanganku langsung mengangkat kaos yang dia kenakan dan membenamkan wajahku di antara payudaranya, tapi masih terhalang BH-nya, aku jilati payudaranya sambil kugigit-gigit kecil di sekitar payudaranya, “Aahh… aahh…”

Dia pun mendesis panjang tanpa melepas BH-nya, aku langsung mengangkat BH-nya sehingga BH-nya berada di atas payudaranya, sungguh pemandangan yang amat menakjubkan, dia mempunyai payudara yang besar dan puting yang berwarna kemerahan dan menjulang keluar kira-kira 1/2 cm dan keras, (selama aku main cewek, baru aku tahu sekarang bahwa tidak semua perempuan nanti menyusui baru keluar putingnya). Kujilat kedua payudaranya sambil kugigit dengan keras putingnya. Dia pun mengeluh sambil sedikit marah.

“Aahh… sakkiitt…” tapi aku tidak ambil pusing, tetap kugigit dengan keras.

Akhirnya dia pun langsung berdiri sambil sedikit melotot kepadaku.

Sekarang payudara dia berada tepat di depan wajahku. Sambil aku memandangi wajahnya yang sedikit marah, kedua tanganku langsung meremas kedua payudaranya dengan lembut.

Dia pun kembali mendesis, “Ahh… aahh…” kemudian kutarik payudaranya dekat ke wajahku sambil kugigit pelan-pelan.

Dia pun memeluk kepalaku tapi tangannya kutepiskan. Sekelebat mata, aku menangkap bahwa pintu ruang tamunya belum tertutup, aku pun menyuruh dia untuk penutup pintunya, dia pun mengangguk sambil berjalan kecil dia pergi menutup pintu dengan mengendap-endap, karena bajunya tetap terangkat sambil memperlihatkan kedua bukit kembarnya yang membuat hati siapa saja akan lemas melihat payudara yang seperti itu.

Setelah mengunci pintu dia pun kembali berjalan menuju aku. Aku pun langsung menyambutnya dengan memegang kembali kedua payudaranya dengan kedua tanganku tapi tetap dalam keadaan berdiri kujilati kembali payudaranya. Setelah puas mulutku pun turun ke perutnya dan tanganku pelan-pelan kuturunkan menuju liang senggamanya sambil terus menjilati perutnya sesekali menghisap puting payudaranya. Tanganku pun menggosok-gosok selangkangannya, langsung kuangkat pelan-pelan rok yang dia kenakan, terlihatlah pahanya yang mulus sekali dan CD-nya yang berwarna putih.

Kuremas-remas liang kewanitaannya dengan terburu-buru, dia pun makin keras mendesis, “Aahh… aakkhh… ohh… nikmat sekali…” Dengan pelan-pelan kuturunkan CD-nya sambil kutunggu reaksinya, tetapi ternyata dia cuma diam saja, (tiba-tiba di kepala muncul tanda setan). Terlihatnya liang kewanitaannya yang ditumbuhi bulu-bulu tapi sangat sedikit. Aku pun menjilatinya dengan penuh nafsu, dia pun makin berteriak, “Aakkhh… akkhh… lagi… lagii…”

Setelah puas aku pun menyuruhnya duduk di lantai sambil aku membuka kancing celanaku dan kuturunkan sampai lutut, terlihatlah CD-ku. Kutuntun tangannya untuk mengelus penisku yang sudah sangat tegang sehingga sepertinya mau loncat dari CD-ku. Dia pun mengelusnya lalu mulai memegang penisku. Kuturunkan CD-ku, maka penisku langsung berkelebat keluar hampir mengenai wajahnya. Dia pun kaget sambil melotot melihat penisku yang mempunyai ukuran lumayan besar (diameter 3 cm dan panjang kira-kira 15 cm), aku menyuruhnya untuk melepas kaos yang dia kenakan dan roknya juga, seperti dipangut dia menurut saja apa yang kusuruh lakukan. Dengan terburu-buru aku pun melepas semua bajuku dan celanaku, kemudian karena dia duduk di lantai sedangkan aku di kursi, kutuntun penisku ke wajahnya dia pun cuma melihatnya saja. Kusuruh untuk membuka mulutnya tapi sepertinya dia ragu-ragu.

Setengah memaksa kutarik kepalanya, akhirnya penisku masuk juga ke dalam mulutnya.

Dengan perlahan dia mulai menjilati penisku, langsung aku teriak pelan, “Aakkhh… aakkhh…” sambil ikut membantu dia memaju-mundurkan penisku di dalam mulutnya.

“Aakk… akk… nikmat sayyaangg…”

Setelah agak lama akhirnya aku suruh berdiri dan melepaskan CD-nya, tapi muncul keraguan di wajahnya, akhirnya CD dan BH-nya dia lepaskan juga, maka telanjang bulatlah dia di depanku sambil berdiri. Aku pun tak mau ketinggalan, aku langsung berdiri dan langsung melepas CD-nya. Aku langsung menubruknya sambil menjilati wajahnya dan tanganku meremas-remas kedua payudaranya yang putingnya sudah semakin tegang, dia pun mendesis, “Aahh… aahh… aahh… aahh…” sewaktu tangan kananku aku turunkan ke liang kemaluannya dan memainkan jari-jariku di sana.

Setelah agak lama baru aku sadar bahwa jariku telah basah. Aku pun menyuruhnya untuk membelakangiku dan kusiapkan penisku. Kugenggam penisku menuju liang senggamanya dari belakang. Kusodok pelan-pelan tapi tidak mau masuk-masuk, kusodok lagi terus hingga dia pun terdorong ke tembok, tangannya pun berpangku pada tembok sambil mendengar dia mendesis, “Aahh… ssaayaa… ssaayaangg… kaammuu…” aku pun terus menyodok dari belakang.

Mungkin karena kering, penisku nggak mau masuk-masuk juga. Kuangkat penisku lalu kuludahi tanganku banyak-banyak dan kuoleskan pada kepala penisku dan batangnya, dia cuma memperhatikan dengan mata sayu setelah itu. Kugenggam penisku menuju liang senggamanya kembali.

Pelan-pelan kucari dulu lubangnya, begitu kusentuh lubang kemaluannya dia pun langsung mendesis kembali, “Ahh… aahh…” kutuntun penisku menuju lubang senggamanya itu tapi aku rasakan baru masuk kepalanya saja, dia pun langsung menegang tapi aku sudah tidak peduli lagi. Dengan satu hentakan yang keras kusodok kuat-kuat lalu aku rasa penisku seperti menyobek sesuatu, maka langsung saja dia berontak sambil berteriak setengah menangis, “Ssaakkiitt…” aku rasakan penisku sepertinya dijepit oleh dia keras sekali sehingga kejantananku terasa seperti lecet di dalam kewanitaannya.

Aku lalu bertahan dalam posisiku dan mulai kembali menyiuminya sambil berkata, “Tahann.. sayang… cuman sebentar kok…”

Aku memegang kembali payudaranya dari belakang sambil kuremas-remas secara perlahan dan mulutku menjilati belakangnya, lalu lehernya, telinganya dan semua yang bisa dijangkau oleh mulutku agak lama.

Kemudian dia mulai mendesis kembali menikmati ciumanku di badan dan remasan tanganku di payudaranya, “Ahh… aahh… ahh… kamu sayang sama aku kan?” dia berkata sambil melihat kepadaku dengan wajah yang penuh pengharapan.

Aku cuma menganggukkan kepala, padahal aku sedang menikmati penisku di dalam liang kewanitaannya yang sangat nikmat sekali seakan-akan aku sedang berada di suatu tempat yang dinamakan surga.

“Enak sayang?” tanyaku.

Dia cuma mengangguk pelan sambil tetap mengeluarkan suara-suara kenikmatan, “Aahh… aahh…” lalu aku mulai bekerja, aku tarik pelan-pelan penisku lalu aku majukan lagi, tarik lagi, majukan lagi, dia pun makin keras mendesis, “Aahh… ahh… ahhkkhh…”

Akhirnya ketika kurasakan bahwa dia sudah tidak kesakitan lagi, aku pun mengeluar-masukkan penisku dengan cepat, dia pun semakin melenguh menikmati semua yang aku perbuat pada dirinya sambil terus meremas payudaranya yang besar itu.

Dia teriak, “Akuu mauu keeluuarr…”

Aku pun berkata, “Aahhkk saayanggkkuu…”

Aku langsung saja sodok dengan lebih keras lagi sampai-sampai aku rasakan menyentuh dasar dari liang senggamanya, tapi aku benar-benar kesetanan tidak peduli lagi dengan suara-suara, “Ahh… aahh… ahh… akkhh… akkhh… truss…” langsung dia bilang, “Sayyaa keelluuaarr… akkhh… akhh…” tiba-tiba dia mau jatuh, tapi aku tahan dengan tanganku.

Kupegangi pinggulnya dengan kedua tanganku sambil kukocok penisku lebih cepat lagi, “Akkhh… akkhh… ssaayyaa mauu… keelluuaarr… akkhh…” peganganku di pinggulnya kulepaskan dan langsung saja dia terjatuh terkulai lemas.

Dari penisku menyemprotlah air mani sebanyak-banyaknya, “Ccroott… croott… ccrroott…” Aku melihat air maniku membasahi sebagian tubuhnya dan rambutnya, “Akhh…, thanks sayangkuu…” sambil berjongkok kucium pipinya sambil kusuruh jilat lagi penisku. Dia pun menjilatinya sampai bersih. Setelah itu aku bilang untuk memakai pakaiannya, dengan malas dia berdiri mengambil bajunya dan memakainya kembali.

Setelah kami berdua selesai aku mengecup bibirnya sambil berkata, “Aku pulang dulu yah sampai besok sayang…!” Dia cuma mengangguk tidak berkata-kata lagi mungkin lemas mungkin menyesal, tidak tahu ahh. Kulihat jamku sudah menunjukkan jam 23:35, aku pulang dengan sejuta kenikmatan.

TAMAT

Tags : Cerita hot,mahasiswa bugil,cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,,taman sex,gadis berjilbab,sarah azhari,ceweki,artis,gadis seks,gadis bandung bugil,bokep,gadis nakal,lalatx,gambar bogel

Cerita Hot – Nikmatnya Cewek Keturunan India

gw cowo umur 20thn,gw kuliah di salah satu perguruan tinggi di jakarta,dan gw ber dua dengan teman gw ngontrak rumah deket kampus diseberang rumah kontrakan gw tinggal keluarga keturunan india yang baru pindah kira2 1bulan, bapaknya keturunan india sedangkan nyokapnya orang sunda, mereka punya 1 anak yang masi kelas 3 sma cantik bgt, bodynya montok ,kulitnya putih- kecoklatan,dan rambutnya pendek. namanya wiwit.

awal kenalan dengan wiwit gara2 gw maen basket tiap hari minggu dilapangan kompleks perumahan tempat kita tinggal, setiap selesai maen basket wiwit terlihat tambah cantik bagi gw dengan baju ketat yang dibasahi sama keringatnya sungguh menggairahkan bgt buat gw. singkat cerita sekitar 1 bulan akhirnya gw jadian sama wiwit, tapi tanpa sepengetahuan ortu wiwit , karena wiwit dilarang pacaran sebelum lulus sma, kalao mau pergi nge-date gw selalu nuggu wiwit di depan gerbang kompleks karena takut ketauan sama ortu wiwit.

Setelah pacaran selama kurang lebih 2 bulan, pada satu hari ortu wiwit berangkat ke surabaya karena paman wiwit mengalami kecelakaan.

dirumah,wiwit hanya tinggal dengan pembantunya saja. karena ortu wiwit keluar kota jadi gw bisa dengan tenang menagajak wiwit main ke kontrakan gw.setiap wiwit datang kekontrakan gw selalu minta pengertian sama temen kontrakan gw untuk pergi keluar rumah.karena cuma ber 2 dengan wiwit dikontrakan gw bisa leluasa bermesra2an dengan wiwit,terkadang sekali2 gw menciumi bibir wiwit yang mungil.

waktu itu hari sabtu sekitar pukul 1.30 siang, temen gw pergi dengan pacarnya dan gw telp wiwit agar datang ke kontrakan gw, waktu itu gw sedang nonton acara happy song di indosiar, ga berapa lama wiwit datang menggunakan baju ketat dan celana jeans yang pendek bgt, akhirnya kita duduk disofa sambil bermesra2an dan nonton happy song, ketika iklan gw tawarin wiwit untuk nonton dvd dan gw memang punya beberapa dvd porno, mau nonton film apa yang? tanya wiwit dan gw jawab film laga padahal yang gw masukin dvd porno korea, tanpa menunggu jawaban wiwit langsung aja gw stel dvd tersebut. begitu muncul filmya wiwit langsung mecubit perut gw dan bilang ” kamu boong yang, katanya film laga kok taunya film ginian” gw tersenyum dan gw jawab aja ini juga film laga kok, tapi tempatnya beda ini film laga di ranjang.

wiwit mencibir bibirnya dan bilang kamu nakal ya yang, walaupun begitu wiwit tetap duduk disofa sambil nonton adegan sex di tv. setelah adegan sang cowo menjilati MQ sang cw korea langsung aja gw pegang tangan wiwit dan gw tanya, yang kamu pernah nonton film ginian dan wiwit hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan pandagannya dari tv, gw remas2 tangannya dan akhirnya gw jilatin bibir wiwit yang imut, pertama wiwit menolak karena dia bilang takut, gw terus menciumi bibirnya sambil merayu wiwit, akhirnya lama kelamaan wiwit juga menggerakan bibirnya dan kita saling mengulum bibir, sambil mengulum bibir wiwit gw raba2 perutnya dan dia tidak memberikan reaksi apa2, langsung aja gw remas toketnya yang sekel bgt, nafas wiwit makin berat dan gw perlahan2 membuka kaos ketat yang dipakai wiwit, setelah koas terbuka betapa indahnya gw liat tokot wiwit yang menyembul dari BH nya gw jilatin toketnya dan wiwitpun mendesah, sambil menjilat tokotnya gw pelan2 membuka kaitan BH wiwit, setelah terbuka gw semakin konak karena baru kali ini gw melihat langsung toket cw secara langsung, gw jilati puting wiwit yang berwarna kecoklatan dan desahan wiwit pun semakin menjadi2, gw buka semua pakaian gw dan gw telanjang bulat, wiwit pun cuma terdiam memandang kontol gw yang sudah sangat tegang.

aku baru kali ini liat punya cowo secara langsung yang kata wiwit, dan gw juga bilang kalo baru kali ini juga gw liat dan jilat2 toket cw, wiwit hanya tersenyum. dan gw bilang buka juga dong celana kamu biar adil, gw kan juga pengen liat punya kamu yang, dengan gayanya yang sangat manja wiwit bilang, kamu buka aja sendiri kan kamu yang pengen liat, tanpa menunggu lama lagi langsung aja gw berlutut dibawah sofa sambil menghadap ke selangkangan wiwit, gw buka celana jeansnya dan celana dalam wiwit sudah basah, kamu udah kepengen ya wit, tuh cd kamu basah.. ih kamu nakal bgt d jawab wiwit, suara wiwit yang manja semakin membuat gw konak, langsung aja gw pelorotin cd nya dan gw jiatin memek wiwit,sambil gw raba2 clitnya, baru sekitar 1 menit wiwit udah mendesah desah dan teriak…

yangggg terus yangggg enak bangett…. gw percepat jilatan gw dan gw raba2 terus clit wiwit yang udah nonjol.. akhirnya wiwit teriak ahhh…. yanggg geli bangettt nih dan MQ wiwit ngeluarin cairan dan daging MQ nya bergerak ndut2an.. setelah itu gw ajak wiwit ke kamar gw gw gendong wiwit dalam keadaan sama2 telanjang bulat, enak banget tadi yang kata wiwit, dan gw bilang masi ada yang lebih enak lagi yang..

makanya aku ajak kamu ke kamar biar kita lebih leluasa, sampai di kamar gw rebahin tubuh mulus wiwit dan gw kembali cium bibir imutnya sambil gw remas2 toket nya, gw minta wiwit untuk mengulum kontol gw tapi wiwit menolak karena katanya ga berani, langsung aja gw pegang tangan wiwit dan gw arahin ke kontol gw, kalo kamu ga mau pake mulut kamu kocok ajapake tangan ya wit, gw pengen bgt ngerasain di kocok sama kamu, sekitar 30 detik wiwit mengocok kontol gw, gw udah konak abis, wit.. masukin ya ke punya kamu, enak kok rasanya..

wiwit menganggukan kepalanya sambil bilang pelan2 ya yang aku takut, gw arahin kontol gw ke MQ nya rasanya sempit bgt baru masuk 1/2 wiwit sudah merintih kesakitan, sakit yang.. kamu tahan aja nanti sakitnya ilang kok malahan sakitnya jadi rasa geli seperti yang kamu rasaain di luar tadi kok rayu gw. akhirnya gw berhasil memasukan semua kontol gw ke dalam MQ wiwit, wiwit menjerit dan teriak.. sakit yang… gw diemin kontol gw didalam MQ

wiwit dan gw mencium cium bibir dan toket wiwit, setelah beberapa menit merangsang toket dan mengulum bibir wiwit, akhirnya nafas wiwit kembali terasa berat dan sekali2 wiwit mendesah, pelan2 gw kocok lagi kontol gw didalem MQ wiwit, gw percepat maju mundur kontol gw dan wiwit pun semakin mendesah2 sambil meraba2 clitnya sendiri, sekitar 3 menit gw memompa wiwit, wiwit mendesah.. yanggg… geliiiiiiiii bgtttttt, aku mau pipis yanggg…. dan kontol gw didalem MQ wiwit terasa seperti tersiram cairan hangat, gw yakin wiwit orgasme, gw cabut kontol gw dari MQ wiwit dan gw lihat ada darah di kontol gw, dan gw bilang enak kan yang..

iya enak bgt, kamu mau lagi ga? wiwit cuma bilang aku cape yang.. ga apa2 kamu tiduran aja biar aku yang bikin kamu geli2 lagi,langsung gw angkat ke dua kaki wiwit dan gw letakan kaki wiwit di bahu gw,gw masukin kontol gw kedalem MQ wiwit lama kalamaan wiwit kembali mendesah dan teriak.. terus yangggg enak bgt.. aku sayang sama kamu yangg…. gw percepat laju kontol gw dan akhirnya gw merasa kontol gw udah mau nyembur gw makin percepat maju mundur gw dan wiwit teriak.. ahhhhh…… ahhhhh…. geliiiii yangg…. dan gw cabut kontol gw dan gw tumpahin sperma gw ke toket wiwit, gw dan wiwit tertidur di ranjang dan ketika bangun gw lihat waktu menujukan pukul 16.40.

melihat wiwit yang masi berbaring gw jilatin MQ nya wiwit dan wiwit terbangun, gw cium bibir mungil wiwit dan gw ajak dia mandi bareng, dikamar mandi gw dan wiwit kembali saling berciuman bibir, dan kita melakukannya kembali di dalam bathtub, ternyata ML di bathtub lebih menyenangkan daripada di ranjang. kali ini gw berbaring di bathtub dan wiwit memasukan kontol gw ke MQ nya,wiwit bergerak naik turun dan gw konak bgt liat toketnya bergerak2 keatas dan ke bawah sambil mendesah desah ah.. ah..ahhh…gw cubit2 puting wiwit yang tegang dan sekitar 5 menitan wiwit kembali mendesah2 dan dia bilang yankkk aku mau keluar lagi yangg…

kembali kontol ku terasa hangat karena cairan MQ wiwit, akhirnya kita saling membersikan badan dan keluar dari kamar mandi dengan telanjang karena pakaian gw dan wiwit tertinggal di ruang tamu

setelah berpakaian wiwit balik kerumahnya. selama 4 hari ortu wiwit keluar kota gw puas bgt ML sama wiwit.. wit.. i love you very much..

TAMAT

Tags :Cerita Hot,Cerita Ngentot,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,gadis cantik, telanjang gadis indonesia, gadis abg telanjang, gadis genit, foto memek, memek indonesia

Cerita Hot – Percintaan Membara dengan Kekasih Kakaku

Namaku Rudi tinggal di Bandung . Aku baru saja menyelesaikan kuliah di salah satu universitas di Bandung . Saat ini aku mempunyai seorang pacar bernama Maya. Maya tinggal bersama orang tuanya dan seorang kakak wanita yang bernama Mbak Sylvia. Maya berusia 23 tahun sedangkan Mbak Sylvia berusia sekitar 25 tahun, atau lebih tua 4 bulan dariku. Ada peristiwa yang terjadi tanggal 20 November 2000 yang lalu, dan hal ini akan kuceritakan kembali. Dalam tulisan ini aku hanya akan menggambarkan tentang Mbak Sylvia karena memang dengan dialah peristiwa ini kualami.

Sama seperti aku, Mbak Sylvia pun baru saja menyelesaikan kuliahnya, kemudian bekerja di sebuah perusahaan swasta. Mbak Sylvia mempunyai seorang tunangan dan bekerja di sebuah BUMN di Surabaya. Mbak Sylvia itu orangnya cantik dan mudah bergaul sehingga enak diajak bicara. Mbak Sylvia memiliki tinggi sekitar 160 cm atau kira-kira 5 cm lebih pendek dariku. Kelebihan yang dimiliki oleh Mbak Sylvia dibandingkan wanita lain umumnya adalah kulit tubuhnya yang sangat putih dan juga sangat mulus dengan rambut lebat tergerai sebahu. Selain itu payudara dan pantatnya juga sangat indah menantang terutama jika kebetulan sedang mengenakan celana pendek dan kaos singlet yang ketat. Aku sering mencuri pandang jika Mbak Sylvia sedang mengenakan pakaian seksi tersebut. Sering aku membayangkan, betapa nikmat rasanya jika aku bisa menjamah tubuh mulusnya, tapi khayalan itu tidak pernah terwujud.

Suatu hari, saat itu hari minggu kira-kira jam 9 pagi, aku datang ke rumah pacarku dengan maksud hendak mengajaknya pergi untuk makan siang terakhir sebelum besoknya mau bersiap-siap untuk menghadapi puasa. Rencananya sih mau ngasih kejutan, tapi ternyata rencana tersebut gagal. Saat pertama datang, aku memang tidak melihat ada mobil yang biasa parkir di garasinya. Dan ternyata benar saja setelah di bell berkali-kali ternyata tidak ada seorangpun yang membukakan pintu rumahnya, bahkan tidak juga pembantunya. Setelah mencoba beberapa kali, karena tidak ada yang membukakan pintu juga aku memutuskan untuk kembali pulang, tapi saat akan masuk ke mobil tiba-tiba keluar Mbak Sylvia membukakan pintu, matanya kelihatan masih mengantuk, pasti baru bangun gara-gara terganggu suara bell.

“Lho, Rudi mau ketemu Maya ya… ayo masuk dulu,” kata Mbak Sylvia.

“Iya Mbak, tapi kok kayaknya lagi nggak ada di rumah ya,” sahutku sambil masuk ke rumah dan duduk di kursi ruang tamu. Sementara Mbak Sylvia menutup pintu. Saat itu Mbak Sylvia hanya mengenakan daster tipis yang pendek, sehingga bayangan celana dalamnya dengan jelas terpampang. Aku sempat bengong dibuatnya.

“Iya kan sekarang semuanya pada pergi ke Sumedang, ya biasa nyekar kan besok puasa,” Mbak Sylvia menjelaskan.

“Emangnya nggak janjian dulu?” sambungnya.

“Nggak Mbak, tadinya sih mau ngasih kejutan, tapi gagal,” kataku sambil tersenyum.

“Tapi kok Mbak Sylvia nggak ikut, sendirian dong di rumah?” tanyaku sambil memandang wajahnya, cantik sekali dia padahal baru bangun tidur.

“Iya soalnya Mbak baru tidur jam 3 pagi, abis chating, jadinya nggak ikut, soalnya ngantuk,” katanya sambil tersenyum.

“Ya udah telpon aja dulu ke HP-nya Maya, kali aja lagi di jalan mau pulang, soalnya tadi perginya dari jam 6. Udah ya ditinggal dulu Mbak mau makan dulu, lapar nih. Eh, mau ikut makan nggak?” ajak Mbak Sylvia.

“Nggak Mbak, tadi udah.” jawabku sambil beranjak hendak menelepon pacarku, sementara Mbak Sylvia pergi ke dapur untuk makan.

Setelah tersambung ke HP pacarku, terdengar suara Maya.

“Hallo?”

“Hallo Maya… ini Rudi,” jawabku.

“Lho kok ada di rumah Maya? Ada apa?” serunya kaget.

“Iya.. tadinya sih mau ngajak Maya jalan tapi taunya nggak ada..” sahutku.

“Kenapa nggak ngomong dari kemarin? Tau mau ke rumah, Maya kan nggak akan ikut pergi,” suara Maya terdengar agak menyesal.

“Ya udah pokoknya sekarang tungguin sampe Maya pulang! Awas kalo Maya pulang udah nggak ada! Soalnya sekarang udah mau nyampe ke Sumedang kok, mestinya sih nyampenya dari tadi, tapi jalannya maceeet banget, jadi nyampenya telat padahal mestinya kan 1 jam juga udah nyampe,” kata Maya dengan nada yang manja.

“Iya.. Tapi cepet ya..” kataku.

“Iya.. nanti si Papa disuruh ngebut nyetirnya,” kata Maya sambil ketawa.

“Eh, tadi dibukain Mbak Sylvia ya..? udah bangun emang?” tanya Maya.

“Iya.. Sekarang lagi makan tuh,” jawabku.

“Ya udah dulu aja ya… mahal tuh pulsa,” katanya, “Tapi tungguin ya.. biar nggak kesel nonton film aja.. ada VCD Charlie Angel’s tuh baru pinjem kemaren..” tambah Maya.

“Iya.. iya…” jawabku sambil menutup telepon.

Setelah itu aku duduk di sofa depan TV, kemudian menyalakan VCD dan menontonnya. Di rumah pacarku itu aku sudah seperti di rumah sendiri, ini dikarenakan aku sudah hampir 3 tahun berpacaran dengan Maya, jadinya aku sudah sangat akrab dengan keluarga Maya. Bahkan rencananya bulan maret ini kami mau tunangan.

Setelah beberapa saat menonton film, Mbak Sylvia keluar dari ruang makan.

“Gimana, udah nelponnya?” tanya Mbak Sylvia.

“Udah Mbak, terus disuruh nunggu nih,” jawabku.

“Oh.. ya udah.. tunggu aja.. kalo mau minum atau makan ambil aja sendiri ya.. Mbak mau mandi dulu nih,” kata Mbak Sylvia.

“Iya Mbak, makasih..” sahutku sambil menoleh ke arah Mbak Sylvia yang berjalan melintasiku hendak mandi. Pandanganku kembali terpaku menatap bayangan tubuhnya, pantatnya terlihat begitu ranum di balik daster tipisnya, sampai Mbak Sylvia menghilang di balik pintu kamarnya. Aku kemudian kembali menonton, sementara itu dari arah kamar Mbak Sylvia terdengar suara air mengalir, karena letak kamar mandinya memang ada di dalam kamar tidur Mbak Sylvia.

Setelah kira-kira 5 menit tiba-tiba terdengar telepon berbunyi, aku segera mengangkat telepon.

“Hallo,” kataku.

“Iya.. bisa bicara dengan Sylvia?” terdengar seorang pria berkata.

“Oh, Sylvia-nya lagi mandi tuh… nanti aja telpon lagi,” jawabku.

“Aduh.. gimana ya.. Saya ada keperluan penting nih.. tolong kalo bisa dipanggil aja.. mungkin mandinya bisa ditunda dulu.. bilang aja ada telpon dari Apin, tolong ya..” katanya, dari nada bicaranya keliatan orang tersebut agak panik.

“Oh iya.. kalo gitu saya coba panggilin,” kataku sambil meletakkan gagang telepon.

Setelah itu aku beranjak menuju kamar Mbak Sylvia. Kudorong pintu kamar tidurnya yang memang agak terbuka, setelah di dalam aku memanggilnya beberapa kali. “Mbak.. Mbak Sylvia.. ada telpon…” kataku. Namun tidak ada jawaban, mungkin karena saat itu di kamar mandi airnya sedang mengalir sehingga Mbak Sylvia tidak bisa mendengarku. Setelah mencoba berkali-kali aku kemudian mencoba mengetuk pintu kamar mandinya. Namun saat kuketok alangkah terkejutnya aku karena ternyata pintunya terbuka sendiri, mungkin karena Mbak Sylvia tidak menutupnya dengan benar, sehingga dengan sedikit sentuhan saja pintunya jadi terbuka. Begitu pintunya terbuka terlihat Mbak Sylvia sedang membasuh tubuhnya yang putih mulus di bawah shower dengan posisi tepat menghadapku, sehingga dengan jelas terlihat sepasang payudara dan kemaluannya yang tertutup bulu lebat. Mbak Sylvia terlihat kaget, dia segera menutup payudara dengan kedua tangannya, sedangkan kaki kanannya agak disilangkan dengan maksud untuk menutupi kemaluannya, namun akibatnya kini terlihat bagian pantatnya yang padat dan seksi. Saat itu aku sangat kaget, senang sekaligus takut, takut Mbak Sylvia menyangka aku sengaja berbuat kurang ajar kepadanya.

“Eh.. ma.. maaf Mbak.. itu.. ee… ada telpon dari Apin, katanya penting sekali…” kataku terbata-bata sementara tubuhku seperti mematung tanpa bisa kugerakkan dengan mataku tetap manatap tubuhnya tanpa bisa kukendalikan. “Oh.. iya.. bilang tunggu sebentar,” katanya sambil tetap menutupi payudara dan kemaluannya, sementara itu air dari shower terus mengguyur tubuh Mbak Sylvia, sehingga memantulkan segala keindahan yang dimiliki tubuh mulusnya.

Aku segera beranjak pergi dan kembali duduk di sofa dengan degup jantung yang sangat cepat. Aku memang sering membayangkan tubuh indah kakak pacarku ini jika sedang melamun, namun ternyata lamunanku salah, karena kenyataannya tubuh Mbak Sylvia jauh lebih indah dari lamunanku selama ini.

Sesaat kemudian terdengar langkah Mbak Sylvia keluar dari kamarnya dan berjalan melintasiku. Mbak Sylvia menutupi tubuhnya dengan selembar handuk, sehingga bagian pahanya dengan jelas terlihat begitu indah. Kemudian dia mengangkat telepon dan berbicara dengan orang yang mengaku bernama Apin itu. Dari pembicaraannya aku berkesimpulan Apin itu teman sekantor Mbak Sylvia dan menanyakan tentang file di komputer kantornya yang berisi catatan keuangan, karena kantor tempat mereka bekerja sedang diaudit menjelang akhir tahun. Mereka bicara selama kurang lebih 5 menit, sementara itu aku terus memandangi tubuh Mbak Sylvia yang membelakangiku. Aku memandangi paha mulusnya yang tertutup sekedarnya, jika saja Mbak Sylvia agak membungkuk pasti pantatnya akan terlihat cukup jelas. Aku terus menikmati pemandangan indah itu, rangsangannya begitu kuat sehingga kemaluanku terasa menegang. Jika saja tidak kutahan, ingin rasanya aku memeluk dan menciumi setiap jengkal tubuh mulus Mbak Sylvia. Namun ada juga rasa khawatir jika saja Mbak Sylvia memarahiku setelah kejadian tadi. Tapi kekhawatiranku ternyata tidak terjadi, karena setelah selesai bicara di telepon, Mbak Sylvia sambil tersenyum kecil kemudian berkata, “Kenapa Rud? kok bengong?”

“Nggak Mbak.. ee.. maaf tadi Mbak.. tadi nggak sengaja,” kataku pelan.

“Iya.. udah.. nggak apa-apa…” sahut Mbak Sylvia sambil berlalu kembali ke kamarnya.

Setelah itu terdengar kembali suara shower mengalir tanda Mbak Sylvia meneruskan mandinya yang sempat tertunda. Sementara itu aku tertegun di sofa, seolah tidak percaya akan semua kejadian yang baru saja kualami. Dan sungguh, setelah melihat reaksi Mbak Sylvia yang kelihatannya tidak marah, nafsu birahiku pun memuncak. Saat itu dalam pikiranku hanya satu, aku harus bisa menikmati tubuh Mbak Sylvia, tidak terpikir sama sekali pacarku Maya yang selama ini sangat kucintai, saat itu aku seoleh terbius oleh kemolekan tubuh Mbak Sylvia. Telingaku terus mendengarkan setiap bunyi yang terdengar dari kamar mandi Mbak Sylvia sambil mambayangkan kira-kira apa yang sedang dilakukan Mbak Sylvia saat itu. Sementara mataku sekali-sekali menatap pintu kamar Mbak Sylvia yang terbuka sedikit seolah melambai mengajakku untuk masuk.

Apa yang harus kulakukan? Batinku terus bertanya-tanya. Mataku melihat ke arah jam tanganku, jam 9:40, berarti Maya tidak akan pulang sedikitnya 1 jam dari sekarang. Akhirnya dengan nekad, kudekati kamar Mbak Sylvia dan aku kembali masuk ke kamarnya, saat itu ada perjudian di benakku, jika sedikit kudorong pintu kamar mandinya tetap tertutup berarti Mbak Sylvia tidak menginginkanku, sedangkan jika terbuka berarti Mbak Sylvia memang berharap aku untuk menyentuhnya.

Setelah menarik nafas panjang aku kemudian mendorong pintu kamar mandi Mbak Sylvia. Dan ternyata harapanku terkabul, ternyata kamar mandi tersebut tetap tidak terkunci, dengan sedikit dorongan pintu itupun terbuka. Kembali aku melihat pemandangan yang indah terpampang di hadapanku, Mbak Sylvia masih tetap telanjang dengan tangannya membasuh rambut dan tubuh mulusnya. Ketika melihat aku membuka pintu kamar mandinya, kali ini Mbak Sylvia tidak menutupi payudara dan kemaluannya, Mbak Sylvia hanya memandang ke arahku dan kembali membasuh tubuhnya seolah mempertontonkan keindahan tubuhnya dan mengajakku untuk mencumbunya. Aku kembali terdiam terpana seolah lupa akan niat semula, entah apa yang harus kuperbuat.

Tiba-tiba terdengar suara Mbak Sylvia membuyarkan lamunanku.

“Ada apa Rud? Ada telpon lagi? apa mau ikut mandi?” sapanya menggodaku.

Aku tertegun sejenak. “Eee… boleh ikut mandi Mbak?” kataku takut-takut.

Mbak Sylvia tidak menjawab, dia hanya terseyum sambil membalikkan tubuhnya membelakangiku, seolah ingin mempertontonkan pantatnya yang sangat indah.

“Tapi kunci dulu pintu keluar rumahnya, tadi belum dikunci,” kata Mbak Sylvia.

Setengah berlari aku keluar kamar dan mengunci pintu depan rumah tersebut, setelah itu kembali masuk ke kamar mandi Mbak Sylvia. Aku segera membuka seluruh pakaianku dan melemparkannya ke atas tempat tidur Mbak Sylvia. Sementara itu Mbak Sylvia tetap dengan posisinya membelakangiku sambil mempermainkan air yang mengguyur tubuhnya. Perlahan aku menghampirinya, terasa percikan air menerpaku, setelah sangat dekat dengan penuh gairah aku meyentuh pantat Mbak Sylvia, padat dan ranum. Aku mengelusnya sesaat dan kemudian menciuminya. Mbak Sylvia terlihat agak menggerinjal kegelian. “Ih.. Rud.. geli…” katanya. Tapi aku tidak peduli, aku terus mempermainkan lidahku di permukaan pantatnya yang mulus sementara rambut dan kepalaku telah basah oleh air tetap mengalir.

Setelah puas aku kembali mundur dan memandangi tubuh Mbak Sylvia. Mbak Sylvia kemudian menoleh sambil tersenyum menantang. “Kok diem Rud…” katanya. Aku kembali menghampirinya dan dengan segenap perasaan aku memeluknya dari belakang sementara kemaluanku yang telah berdiri tegak menyentuh belahan pantatnya. Nikmat sekali rasanya. Tanganku pun mulai meraba setiap permukaan tubuh Mbak Sylvia yang dapat dijamah, sedangkan lidahku menjilati lehernya yang jenjang. Tanganku kemudian terpaku di payudara Mbak Sylvia, terasa lembut dan kenyal, sangat nikmat terasa. Aku segera meremas payudara Mbak Sylvia dengan penuh perasaan, sementara tubuh Mbak Sylvia menggerinjal- gerinjal bak penari yang membuat kemaluanku serasa dipermainkan oleh pantat Mbak Sylvia yang terasa hangat. “Oh.. Rud.. terus sayang… Oohhh…” Mbak Sylvia merintih manja sambil tetap meliuk-liukkan tubuhnya sementara tangannya diangkat ke atas, sehingga payudaranya semakin terasa nikmat disentuh.

Setelah puas menikmati bagian belakang tubuhnya dengan perlahan aku membalikkan tubuh Mbak Sylvia, sehingga kini dengan jelas terpampanglah keindahan tubuh seorang wanita cantik yang menggerinjal- gerinjal oleh sentuhan lembutku. Aku semakin bernafsu melihatnya, tanganku kembali meremas-remas payudaranya sementara mataku dengan liar menelusuri tubuh Mbak Sylvia. Mata Mbak Sylvia memandangku dengan penuh gairah dengan mulut terus merintih merasakan kenikmatan yang kuberikan. “Rud… oooh… ooohh…” suara itu terdengar berulang-ulang keluar dari mulutnya. Aku semakin bergairah dibuatnya, maka dengan penuh nafsu aku menciumi bibirnya dan melumatnya penuh birahi.

Sementara mulutku melumat bibirnya, lidahku kugunakan untuk menjelajahi rongga mulutnya, lidahku dan lidah Mbak Sylvia saling bersentuhan dengan dahsyatnya. Setelah itu aku menurunkan ciumanku ke arah leher Mbak Sylvia, aku menciuminya dengan penuh nafsu, terus turun dan akhirnya sampai di payudaranya. Aku menyedot puting payudaranya sementara tangan kananku terus meremas payudara yang sebelahnya. “Ruddd… oohhh… terus sayang… ooohhh enak sayang… ooohhh..” mulut Mbak Sylvia tidak henti-hentinya merintih kenikmatan.

Setelah agak lama, tiba-tiba Mbak Sylvia mengangkat kepalaku sambil berbisik lembut. “Rudd… masukin sekarang dong…” pintanya. Aku tahu apa maksudnya, maka kudorong tubuhnya menempel ke tembok sementara kedua tanganku meremas pantat Mbak Sylvia. Dan dengan hati-hati kuarahkan kemaluanku ke liang senggamanya. Setelah terasa pas maka dengan hati-hati aku mencoba memasukkan kemaluanku. Terasa agak seret, namun setelah beberapa saat mencoba, kemaluanku mulai memasuki liang kewanitaan Mbak Sylvia. Saat itu tubuh kami terasa sama-sama bergetar. Nikmatnya sangat terasa di sekujur tubuh kami. “Oohh… Ruddd…” rintih Mbak Sylvia. “Sylviaaa… oohh.. nikmat sekali sayaaang…” kali ini aku tidak menyebutnya Mbak, karena memang saat itu aku tidak peduli lagi dengan statusku sebagai calon adik iparnya.

Aku terus mengocok kemaluanku di dalam liang kewanitaan Mbak Sylvia yang hangat dan lembut. Otot liang kewanitaannya terasa meremas kemaluanku. Sementara kedua tanganku terus meremas pantat sintalnya sambil menarik ke arahku seirama dengan keluar-masuknya kemaluanku. Saat itu aku baru tahu, ternyata Mbak Sylvia sudah tidak perawan lagi, karena dia terlihat begitu menikmati kemaluanku tanpa sedikitpun ada rasa sakit, padahal kemaluanku telah menghujam sangat dalam.

“Ruddd… kita pindah ke tempat tidur aja ya… biar lebih enak…” terdengar suara Mbak Sylvia memohon. “Ayo…” jawabku. Dan tanpa menyeka air yang membasahi tubuh, kami berdua berjalan sambil tetap berpelukan ke arah tempat tidur. Setelah sampai, Mbak Sylvia langsung berbaring telungkup mempertontonkan pantatnya yang terlihat semakin menonjol karena posisinya itu. Aku segera menindih tubuh Mbak Sylvia. Dan dari arah pantatnya aku kembali memasukkan kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya yang telah basah oleh cairan kental. “Aaahhh…” desah Mbak Sylvia saat kemaluanku kembali memasuki liang kewanitaannya. Aku kembali mengocok kemaluanku di dalam liang kewanitaan Mbak Sylvia. Pantatnya terasa lembut menyentuh pahaku. “Sylviaaa… nikmat sekali sayanng…” aku tak kuasa menahan mulutku untuk menggambarkan kenikmatan yang saat itu kurasakan.

Setelah beberapa saat Mbak Sylvia kemudian membalikkan badannya sehingga kemaluanku tercabut dari liang kewanitaannya. Mbak Sylvia kemudian mendorongku sehingga sekarang aku berada di bawahnya. Mbak Sylvia menindihku sambil bibirnya kembali menciumiku dengan liarnya. Setelah itu sambil menahan tubuh dengan tangannya, Mbak Sylvia memasukkan kemaluanku ke dalam liang senggamanya dan tubuhnya terdiam saat kemaluanku telah amblas semuanya. Mbak Sylvia seolah sedang meresapi kenikmatan yang saat itu sedang dirasakannya. Aku kembali meremas payudaranya yang menggantung indah di hadapanku.

Setelah beberapa saat Mbak Sylvia kemudian mulai menggerakkan tubuhnya turun naik menekan kemaluanku, matanya terpejam dengan mulut yang sedikit terbuka sambil tak henti-hentinya mendesah menambah nikmatnya suasana saat itu. “Ooohhh… Rudiii…” berulang-ulang Mbak Sylvia memanggil namaku. Sedangkan aku tetap meremas payudaranya sambil melihat pemandangan indah yang terpampang di depan mata. Tubuh Mbak Sylvia menggerinjal- gerinjal, meliuk-liuk seolah menari-nari di hadapanku. Kemaluanku terasa semakin nikmat merasakan remasan liang kewanitaan dan jepitan pahanya di atas pahaku.

Tiba-tiba tubuh Mbak Sylvia terdiam sejenak, matanya menatap penuh gairah ke arahku, dan sesaat kemudian dengan liarnya Mbak Sylvia memelukku dan tubuhnya menggerinjal- gerinjal dengan kuatnya, liang kewanitaannya terasa semakin meremas-remas kemaluanku. Aku tahu, saat ini Mbak Sylvia pasti sedang mencapai puncak kenikmatannya, maka dengan sekuat tenaga aku meremas pantat Mbak Sylvia dan menekannya ke arah kemaluanku, sehingga kemaluanku semakin dalam menghujam liang kewanitaan Mbak Sylvia. “Rudiii… oohh…” desah Mbak Sylvia. Aku mengikuti irama tubuhnya, sementara kemaluanku pun terasa berdenyut-denyut dengan hebatnya. “Ayo sayaaang…” aku membalas desahannya. Dan dengan sekuat tenaga aku menekan kemaluanku ke liang kewanitaannya dan menyemprotlah air spermaku di dalam liang kewanitaannya, sementara tubuh Mbak Sylvia menegang dan pahanya meronta-ronta seolah liang kewanitaannya ingin melumat kemaluanku. Perlahan-lahan tubuhnya mulai diam, sementara kemaluanku tetap tertancap di dalam liang senggamanya.

“Rudiii… enak sekali sayaang…” dari mulutnya terdengar kembali suara desahan Mbak Sylvia.

“Iya sayang… Mbak juga enak sekali…” jawabku, ementara tanganku tetap mengelus-elus pantat Mbak sylvia yang lembut.

Mbak Sylvia kemudian turun dari tubuhku dan terlentang di sampingku, matanya terpejam.

“Rud… barusan dikeluarin di dalam ya,” tanyanya dengan suara setengah berbisik.

“Iya Mbak…” jawabku pelan.

Mbak Sylvia terdiam. Kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Aku hanya melihat saja, tidak tahu apa yang harus kuperbuat. Aku baru tersadar, bagaimana kalau ternyata saat ini Mbak Sylvia sedang dalam masa suburnya? Aku memang tahu kalau masa subur wanita itu sekitar 14 hari sebelum masa haidnya, tapi hal itu kadang bisa salah. Dan bagaimana kalau hal tersebut terjadi pada Mbak Sylvia? Aku kemudian mengikuti Mbak Sylvia yang kembali mengguyur tubuhnya di bawah shower.

Aku menghampirinya, dan dengan hati-hati kembali kusentuh tubuhnya dan menyabuni seluruh permukaan tubuhnya. Mbak Sylvia hanya diam saja, matanya terpejam. Kami kemudian mandi bersama tanpa berkata-kata. Setelah selesai aku terlebih dahulu keluar kamar mandi, dan berpakaian kembali. Setelah itu Mbak Sylvia masuk sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Aku melihat saja tanpa bisa berkata-kata, namun dalam hati aku berkata, “Cantik sekali wanita ini, dan betapa indah tubuhnya.”

Mbak Sylvia duduk di kursi depan cermin sambil memandangi bayangan tubuhnya. Aku menghampirinya dan dengan lembut mencium lehernya. “Maapin Rudi Mbak… Tadi Rudi nggak bisa nahan… abisnya Mbak enak sih..” aku berbisik di belakang telinganya. Mbak Sylvia hanya tersenyum kecil, cantik sekali. “Ya udah… mudah-mudahan Mbak nggak hamil… nanti mbak beli obat KB aja,” ujarnya lirih. “Iya… Mbak nggak akan hamil kok,” kataku menenangkannya. Aku memandang matanya yang sayu di cermin. Sesaat kami berpandangan. Kemudian aku mencium pipinya dan keluar meninggalkan Mbak Sylvia sendirian di kamarnya. Kulihat saat itu telah jam 11 lebih. Aku kembali menonton TV, sementara pikiranku terbang entah ke mana.

Setelah kejadian itu, setiap malam menjelang tidur bayangan indah dan kenikmatan tubuh Mbak Sylvia senantiasa memenuhi pikiranku. Pikiranku selalu dipenuhi khayalan bersetubuh dengan Mbak Sylvia. Tidak pernah lagi aku membayangkan Maya saat akan tidur. Aku selalu ingat Mbak Sylvia. Namun aku pun dipenuhi rasa takut yang sangat. Takut jika saja Mbak Sylvia hamil olehku. Aku menjadi bingung sekali.

Itulah pengalamanku, setelah kejadian itu aku belum pernah kembali ke rumah Maya. Kami paling hanya berhubungan lewat telepon atau kadang Maya datang ke rumahku. Sementara dengan Mbak Sylvia aku belum bertemu lagi. Aku tidak tahu apakah Mbak Sylvia hamil atau tidak. Dan aku takut untuk menanyakan langsung kepadanya. Rencananya hari lebaran besok, keluarga Maya mau datang ke rumahku, Mbak Sylvia pasti ikut. Aku tidak tahu harus bertanya apa kepadanya. Aku takut. Dan ketika Hari Raya Lebaran itu tiba, disaat saya mendatangi rumah Maya, saya sungguh terkejut sekali ketika dalam suatu kesempatan ketika Maya sedang mandi, Mbak Sylvia berbisik kepadaku, “Rudi, kapan kita mau main lagi?”

TAMAT

Tags : cerita hot, nafsu mama, cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep, maria ozawa blogspot com,maria ozawa vids,rama azhari, gadis indonesia telanjang, abg bugil telanjang 3gp, foto gadis telanjang, tante girang telanjang, cewe telanjang, cewek cantik telanjang bugil

Cerita Hot – Aku Korban Birahi Anjingku 03

Sambungan dari bagian 02

Akhirnya dengan suatu gerakan dan tekanan yang cepat, Tarzan mendorong pantatnya ke depan dengan kuat, sehingga batang kemaluannya yang telah terjepit diantara bibir kemaluanku yang memang telah basah kuyup dan licin itu, akhirnya terdorong masuk dengan kuat dan terbenam ke dalam kemaluanku, diikuti dengan jeritan panjang kepedihan yang keluar dari mulutku. “Aaduuhh!” sempat terlintas di dalam otakku, “Ooohh gila.. betapa besarnya!” kepalaku tertengadah ke atas dengan mata yang melotot serta mulut yang terbuka megap-megap kehabisan udara serta kedua tanganku mencengkeram dengan kuat pada kasur. Akan tetapi Tarzan, tanpa memberikan kesempatan padaku untuk berpikir dan menyadari keadaan yang sedang terjadi, dengan cepat mulai memompa batang kemaluannya dengan gerakan-gerakan yang buas, tanpa mengenal kasihan pada nyonyanya yang baru pertama kali ini menerima batang kemaluan yang sedemikian besarnya dalam kemaluannya.

Batang kemaluannya dengan cepat keluar masuk mengaduk-aduk lubang kemaluanku tanpa mempedulikan betapa besar batang kemaluannya dibandingkan dengan daya tampung kemaluanku, setiap gerakan masuk batang kemaluannya, terasa keseluruhan bibir kemaluan dan klitorisku tertekan masuk ke dalam, di mana klitorisku terjepit dan tergesek dengan batang batang kemaluannya, sehingga menimbulkan perasaan geli dan nikmat yang tak terlukiskan yang belum pernah kualami selama ini dan pada waktu batang kemaluannya ditarik keluar, terasa seluruh bagian dalam kemaluanku seakan-akan tertarik keluar menempel dan mengikuti batang kemaluannya, sehingga badanku bergerak terdorong ke belakang, dimana sebelum aku sempat menyadarinya batang kemaluannya telah mendorong maju lagi dan menerobos masuk dengan cepat ke dalam lubang senggamaku, menimbulkan sensasi yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, aku benar-benar terbuai dan karena posisiku yang sedang bertumpu pada kasur tempat tidur, maka kedua buah dadaku yang tergantung bergerak-gerak terayun-ayun ke depan ke belakang mengikuti dorongan dan tarikan batang kemaluan Tarzan pada kemaluanku.

“Ooohh.. ini tak mungkin terjadi!” pikirku setengah sadar. “Aku sedang disetubuhi oleh seekor anjing? gila!” sementara persetubuhan liar itu terus berlangsung, desiran darahku terasa mengalir semakin cepat, pikiran warasku perlahan-lahan menghilang kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda tubuhku, perasaanku seakan-akan terasa melayang-layang di awan-awan dan dari bagian bawah badanku terasa mengalir suatu perasaan mengelitik yang menjalar ke seluruh bagian badanku, membuat perasaan nikmat yang terasa sangat fantastis, membuat mataku terbeliak dan terputar-putar akibat pengaruh batang kemaluan Tarzan yang dahsyat mengaduk-aduk seluruh yang sensitif pada bagian dalam kemaluanku tanpa ada yang tersisa, keseluruhan bagian yang bisa menimbulkan kenikmatan dari dinding dalam kemaluanku tak lolos dari sentuhan, tekanan, gesekan dan sodokan kepala dan batang kemaluan Tarzan yang benar-benar besar itu, rasanya paling kurang dua kali besarnya dari batang kemaluannya Mas Ferry dan cara gerakan bagian belakang anjing herder tersebut bergerak memompakan batang kemaluannya keluar masuk ke dalam kemaluanku, benar-benar sangat cepat, membuatku tak sempat mengambil nafas ataupun menyadari apa yang terjadi, hanya rasa geli-geli nikmat yang menyelubungi seluruh perasaanku, membuat secara perlahan-lahan aku tidak dapat mengendalikan diriku lagi.

Aku mulai menyadari akan hebatnya kenikmatan yang sedang menyelubungi seluruh sudut-sudut yang paling dalam di relung tubuhku akibat sodokan-sodokan batang kemaluan seekor anjing dalam kemaluanku dan membuatku sangat terkejut, “Aaahh.. tidak! setan sedang mencoba kesetiaanku saat ini! Ini sesuatu hal yang sangat tidak wajar! ini benar-benar salah! tapi ohh salah? Aahh.. sshh aku seharusnya tidak menyerah pada cengkeraman tangan-tangan setan!” tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang besar, benar-benar besar sedang mulai memaksa masuk ke dalam kemaluanku, memaksa bibir kemaluanku membuka sebesar-besarnya, rasanya sampai sebatas kemampuan yang bisa ditolerir.

Aku menoleh ke arah cermin untuk melihat apa yang sedang memaksa masuk ke dalam kemaluanku itu dan.., “Aaaduuhh.. gila.. ini benar-benar gila!” keluhku, terlihat bagian pangkal batang kemaluan Tarzan sepanjang kurang lebih 5 cm membengkak, membentuk seperti bola dan bagian tersebut sedang mulai dipaksakan masuk, menekan bibir-bibir kemaluan dan secara perlahan-lahan menerobos masuk ke dalam lubang kemaluanku. “‘Ooohh.. aampun.. jangan Tarzan.. aku akan mati kalau engkau memaksakan benda itu masuk ke dalamku!” keluhku memelas tak berdaya seakan-akan Tarzan akan mengerti, akan tetapi sia-sia saja, dengan mata melotot aku melihat benda tersebut mulai menghilang ke dalam kemaluanku dan terasa seperti bagian bawahku akan terbelah dua, kepalaku tertengadah ke atas dan mataku terbalik ke belakang sehingga bagian putihnya saja yang kelihatan, dan sekujur badanku mengejang, bongkahan tersebut terus menerobos masuk ke dalam lubang sorgaku, sampai akhirnya seluruh lubang kenikmatanku dipenuhi oleh kepala, batang kemaluan dan bongkahan pada pangkal batang kemaluan anjing tersebut. Oh.. benar-benar terasa sesak dan penuh lubang kemaluanku oleh seluruh batang kemaluan Tarzan.

Dalam keadaan itu Tarzan terus melanjutkan menekan-nekan pantatnya dengan cepat, membuat badanku ikut bergerak-gerak karena batang kemaluannya telah terganjal di dalam lubang kemaluanku akibat bongkahan pada pangkal batang kemaluannya. Pantat anjing tersebut terus bergerak-gerak dengan liarnya, sambil mulutnya dengan lidahnya yang terjulur keluar sehingga air liurnya menetes ke pundakku yang ditutupi handuk, terengah-engah, mendengus-dengus dan menggeram-geram dengan keras, hal ini mengakibatkan batang kemaluannya dan bongkahan tersebut mengesek-gesek pada dinding-dinding kemaluanku yang sudah sangat kencang dan sensitif, yang menimbulkan perasaan geli dan nikmat sehingga kepalaku tergeleng-geleng ke kiri dan ke kanan dengan tak terkendali dan dengan tak sadar pantatku kutekan ke belakang merespon perasaan nikmat yang diberikan oleh Tarzan, yang tak pernah kualami selama ini.

“Ooohh.. tidak..” pikirku, “Aku tak pantas mengalami ini.. aku bukan seorang maniak seks! Aku selama ini tidak pernah beselingkuh dengan siapa pun.. ta.taapii.. sekarang.. oohh seekor anjing? aduuhh! Tapii.. oohh.. enaaknya.. aghh.. akuu.. tak dapat menahan ini.. agghh.. betapa.. nikmaatnya!” Akhirnya aku tidak dapat mengendalikan diriku, rasa bersalahku kalah oleh kenikmatan yang sedang melanda seluruh tubuhku dari perasaan nikmat yang diberikan Tarzan padaku, dengan tak sadar lagi aku mengguman, “Ooohh.. enaakk.. aaggh! teruuss.. puasin aku.. Tarzan!” aku benar-benar sekarang telah menjadi seekor anjing betina, betinanya Tarzan tapi aku tidak mempedulikan lagi, pokoknya pada saat ini aku benar-benar telah ditaklukkan oleh Tarzan. Pada saat ini yang kuinginkan adalah disetubuhi oleh Tarzan, biarlah aku jadi bahan permainan Tarzan, aku tidak peduli lagi, benar-benar suatu kenikmatan yang liar sedang merasukku.

Agghh.. biarlah aku disebut apa saja, aku tidak peduli lagi, aku adalah seorang perempuan jalang, seorang perempuan jalang yang keenakan diperkosa dan disetubuhi oleh seekor anjing herder besar, herder dengan alat kejantanannya yang dahsyat, panjang, keras dan besar. Aku memandang ke bawah antara kedua kakiku yang terpentang dan terlihat bibir kemaluanku yang terpentang lebar dengan batang kemaluan yang besar dari herder tersebut terbenam di sela-sela rambut hitam keriting kemaluanku. Melihat pemandangan itu, tiba-tiba suatu perasaan kenikmatan yang dahsyat melandaku, yang membuat badanku bergetar dengan hebat dan aku mengalami orgasmeku yang pertama yang benar-benar dahsyat, suatu kenikmatan yang tak pernah kualami selama ini.

“Ooohh.. yaa Ooohh.. puasin aku Tarzan! Ooohh.. setubuhi aku dengan batang kemaluanmu yang besar! agghh!” terasa cairan hangat terus keluar dari dalam tubuhku, membasahi rongga-rongga di dalam lubang kemaluanku. “Aaagghh.. oohh.. benar-benar nikmat!” keluhku, terasa badanku melayang-layang, suatu kenikmatan yang tak terlukiskan. “Aaagghh!” gerakanku yang liar pada saat mengalami orgasme itu agaknya membuat Tarzan merasa nikmat juga, disebabkan otot-otot kemaluanku berdenyut-denyut dengan kuat menjepit batang kemaluannya, mungkin pikirnya ini adalah betina terhebat yang pernah dinikmatinya, hangat.. sempit dan sangat liar, batang kemaluan Tarzan yang besar itu mulai membengkak, sementara gerakan-gerakan tekanannya makin cepat saja, kelihatan Tarzan sedang akan mengalami orgasme, gerakan-gerakan yang liar dari Tarzan ini menimbulkan perasaan ngilu dan nikmat pada bagian dalam kemaluanku, membuatku kehilangan kontrol dan menimbulkan perasaan gila dalam diriku, pantatku kugerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan dengan liar mengimbangi gerakan sodokan Tarzan yang makin cepat saja.

“Ooohh.. aaduuh.. aaghh!” lenguhan panjang keluar dari mulutku mengimbangi orgasme kedua yang melandaku. Badanku meliuk-liuk dan bergetar dengan hebat, kepalaku tertengadah ke atas dengan mulut yang terbuka dan kedua tanganku mencengkeram kasur dengan kuat sedangkan kedua otot-otot paha mengejang dengan hebat dan kedua mataku terbeliak dengan bagian putihnya yang kelihatan sementara otot-otot dalam kemaluanku terus berdenyut-denyut dan hal ini juga menimbulkan perasaan nikmat pada Tarzan yang mengakibatkan dia juga mengalami orgasme dan terasa cairan hangat dan kental yang keluar dari batang kejantanannya, rasanya lebih hangat dan lebih kental dari punya Mas Ferry.

Oh, air mani Tarzan serasa dipompakan, tak henti-hentinya ke dalam kemaluanku, rasanya langsung ke dalam kandunganku. Dalam menikmati orgasmeku, aku dapat merasakan semburan-semburan cairan kental hangat yang kuat, tak putus-putusnya dari air maninya Tarzan dan hal ini makin memberikan perasaan nikmat yang hebat. Tarzan terus memompakan benihnya ke dalam kandunganku terus menerus hampir selama 1 menit, mengosongkan air maninya yang tersimpan cukup lama, karena selama ini dia tidak pernah bersetubuh dengan anjing betina.

Menjelang sesaat akhirnya aku menjadi agak tenang dan tiba-tiba aku kembali menyadari sedang berada dimana dan apa yang sedang terjadi padaku dengan anjing herderku, aku mencoba bergerak keluar dari bawah badan Tarzan, sambil menyuruh Tarzan mencabut batang kemaluannya yang masih terbenam dalam kemaluanku, akan tetapi aku benar-benar shock ketika merasakan Tarzan melepaskan kedua kaki depannya dari punggungku dan memutar badannya membelakangiku, sehingga sekarang bagian pantat kami bertolak belakang, akan tetapi batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap terbenam dan terkunci dengan rapat di dalam lubang kemaluanku. Rupanya bagian pangkal dari batang kemaluannya yang membesar itu terganjel pada bagian dalam bibir kemaluanku, sehingga batang kemaluannya tidak dapat lepas dari dalam kemaluanku. Aku mengeluh, “Ooohh.. gila.. apa yang sedang terjadi ini?! punyanya terganjel di dalamku.. Aaagghh.. ini benar-benar hukuman buatku, karena membiarkan seekor anjing menyetubuhiku!”

Tiba-tiba Tarzan berjalan maju sehingga aku terseret ke belakang mengikutinya dan sekarang aku merangkak di atas karpet, sehingga aku sekarang benar-benar seperti seekor anjing betina yang sedang disetubuhi oleh jantannya dan harus berjalan mundur mengikuti ke mana akan dibawa oleh jantannya. Aku mencoba bertahan akan tetapi kemaluanku terasa ngilu. Untung Tarzan berhenti berjalan dan aku dapat mengistirahatkan kepalaku dengan menundukkan dan meletakkan kepalaku pada karpet dengan perasaan tak menentu, sedangkan pantatku tetap tertungging ke atas karena tertarik oleh batang kemaluannya Tarzan yang masih terbenam dengan ketat dalam lubang kemaluanku.

Sambil merenung, aku mempertimbangkan akibat dari kecerobohanku itu yang telah membiarkan seekor anjing mengerjaiku dan akibatnya ini sekarang aku tertelungkup di lantai setengah merangkak dengan kedua tangan dan lututku, di mana kemaluanku dipenuhi dengan batang kemaluan seekor anjing. “Aaagghh.. bagaimana kalau Mas Ferry melihat keadaanku ini? Melihat istri tercintanya menghianatinya dan beselingkuh dengan.. yaahh.. dengan seekor anjing, tidak lebih dari itu!, sedang merangkak dengan kedua tangan dan lututnya dan batang kemaluan yang besar.. yang dua kali lebih besar dari punyanya sedang terbenam di dalam kemaluan yang sempit.. oohh.. aaggh” memikirkan hal itu membuatku, entah bagaimana mendadak membuat badanku serasa panas dan darahku serasa mengalir dengan cepat disertai nafsu birahiku yang mendadak meningkat dan akhirnya badanku mulai bergetar dan aku mengalami orgasme lagi.

“Ooohh.. aduuhh!” kemaluanku benar-benar sudah sangat sensitif, terasa agak ngilu sehingga setiap gerakan yang dibuat oleh Tarzan mengakibatkan badanku tergetar dan pantatku terangkat-angkat. Kadang-kadang Tarzan berjalan maju dan dengan terpaksa aku harus merangkak mundur mengikutinya, benar-benar seperti sepasang anjing jantan dan betina yang lagi bersetubuh. Keadaan ini berlangsung kurang lebih setengah jam dan tiba-tiba terasa bagian yang membengkak pada pangkal batang kemaluannya mulai mengecil dan.., “Bleepp..” diikuti dengan tercabutnya batang kemaluan Tarzan dari dalam kemaluanku. Tarzan berjalan ke sudut ruangan sambil menjilat-jilat batang kemaluannya yang berlepotan air maninya dan aku tertelungkup lemas di atas karpet sementara dari kemaluanku mengalir keluar air mani Tarzan yang sangat banyak memenuhi lubang kemaluanku. Dalam posisi ini aku tertidur dengan nyenyaknya.

Keesokan harinya aku terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemas dan terasa tulang-tulangku seakan-akan lepas dari sendi-sendinya, akan tetapi perasaanku terasa sangat lega. Setelah mandi dan membersikan seluruh tubuhku, terutama bagian bawahku yang berlepotan air mani yang telah mengering, aku merasa perut keroncongan dan sangat lapar, rupanya kejadian semalam benar-benar menguras seluruh tenagaku. Aku mengambil makanan yang tersedia di dalam lemari es dan setelah membagikan sebagian dengan Tarzan, kami berdua menikmati makan yang ada dengan lahap. Rupanya Tarzan sudah sangat lapar juga setelah semalam menghabiskan seluruh persediaan air maninya yang ada.

Pada saat sedang makan itu akan mencoba memikirkan apa yang telah terjadi semalam dan bagaimana cara Tarzan yang dengan cepat bisa menguasai dan mengerjaiku, seakan-akan dia sudah benar-benar terlatih untuk itu dan tiba-tiba kusadari, sepertinya dia sudah sering melakukan ini sebelumnya, tak salah lagi rupanya dia sudah berpengalaman dan sering melakukannya dengan nyonya Italy-nya dulu, itu sebabnya dia menyerang dan menyetubuhiku, karena sudah cukup lama puasa sejak nyonya Italy-nya pergi lebih sebulan lalu. Apakah ini merupakan malapetaka bagiku atau apa?, bingung aku memikirkannya.

Menjelang sore hari Mas Ferry tiba di rumah dan sambil menciumku, Mas Ferry bertanya padaku, “Halo sayang.. tentu kau sudah sangat rindu padaku yahh! Ntar lagi aku akan puasin kamu sayang!” aku hanya tersenyum tersipu-sipu saja sambil melirik ke arah Tarzan yang sedang memandang kami berdua dengan matanya yang bulat coklat itu.

TAMAT

Tags : cerita hot, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante, cewek smu bugil,hp tante girang,dewi persik bugil, gadis seks,gadis panggilan,gadis bandung,cewek telanjang,foto bugil artis,gambar telanjang

Cerita Hot – Aku Korban Birahi Anjingku 02

Sambungan dari bagian 01

Mas Ferry masih mengerang hebat dengan tubuhnya bergetar-getar kenikmatan dan aku gigit pentil dadanya, sambil kucakar punggungnya untuk menahan kenikmatan yang tiada taranya ini. Kuangkat pantatku pelan-pelan dan masih kulihat sisa-sisa ketegangan di batang kemaluan Mas Ferry. Setelah itu kami pun terkulai lemas dan tidur sambil batang kemaluan Mas Ferry masih menancap di memekku. Begitulah hampir selama 2 minggu kami melakukan hubungan seks dan tiba saatnya ketika Mas Ferry harus berlayar karena masa cutinya sudah habis. Aku mengantar kepergian suamiku sampai di pelabuhan. Demikian sejak itu, aku harus membiasakan hidupku dengan jadwal tugas Mas Ferry selang seling pergi bertugas di Riq dan tinggal di darat, di mana keadaan ini kami jalani hampir 5 (lima) tahun sampai sekarang.

Pada saat ini Mas Ferry sedang bertugas di Riq, sudah hampir 2 minggu aku ditinggal Mas Ferry, besok Mas Ferry akan kembali ke rumah dan tinggal selama 1 minggu, sudah terbayang dalam benakku, hari-hari mendatang selama 1 minggu, dimana kami berdua akan berenang dalam madu kenikmatan untuk memuaskan hasrat pemenuhan kebutuhan seksual kami yang mengalami puasa selama 2 minggu. Dengan jadwal tugas Mas Ferry seperti ini, maka hubungan seks kami selalu saja menggebu-gebu, disebabkan setiap kali kami harus berpuasa selama 2 minggu untuk bertemu dan saling memuaskan selama 1 minggu. Membayangkan hari esok dan bagaimana gumulan Mas Ferry, benar-benar telah membuatku sangat terangsang, memang setiap kepergian Mas Fery, aku benar-benar bertahan untuk tidak menyalurkan keinginan seksku yang tinggi dengan lelaki lain, karena aku benar-benar hanya berkeinginan memberikan tubuh dan gairahku pada Mas Ferry seorang.

Menjelang sore hari, setelah menyediakan makan malam di atas meja, yang pada saat ini harus kusiapkan sendiri, sebab Mbok Minah, pembantu setiaku sedang pulang kampung, karena mendadak ada keluarga dekatnya di kampung yang sakit berat. Aku memberi makan Tarzan anjing herder kami itu. Telah hampir satu bulan Tarzan tinggal bersama kami, setelah tuannya yang lama kembali ke Italy. Setelah selesai memberi makan Tarzan, aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi untuk mandi. Letak kamar mandi tempat aku mandi, nyambung dengan kamar tidur kami.

Setelah selesai mandi, aku mengeringkan tubuhku dan dengan hanya membungkus tubuhku dengan handuk mandi, aku membuka pintu kamar mandi dan masuk ke dalam kamar tidur. Di dalam kamar tidur terlihat Tarzan sedang tiduran di sudut kamar, rupanya dia telah selesai makan dan masuk ke kamarku untuk tiduran, memang dia senang tidur di dalam kamar kami yang lantainya dilapisi karpet tebal dan udaranya dingin oleh AC. Dengan masih dililit handuk, aku duduk di depan meja rias untuk mengeringkan dan bersisir rambut.

Pada saat itu Tarzan mendadak bangkit dari tidurannya dan berjalan mondar mandir di dalam ruangan kamar dengan lidahnya terjulur keluar sambil hidungnya mendengus-dengus, terlihat malam ini Tarzan agak gelisah, tidak seperti biasa yang selalu tenang tidur di sudut kamar, malam ini dia mondar mandir dan sekali-sekali matanya yang hitam kecoklatan melihat ke arahku yang sedang duduk menyisir rambut. Melihat Tarzan seperti itu, kupikir lebih baik menyuruh Tarzan ke dapur karena mungkin dia sedang kehausan, jadi aku bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu sambil berkata, “Tarzan! ayoo.. keluar!” pada saat aku melintas di depan Tarzan, tiba-tiba tanpa aba-aba, kedua kaki depan Tarzan menggapai dan dengan bertumpu pada kedua kaki belakangnya, kedua kaki depan Tarzan menekan bagian punggungku, aku mencoba berbalik dan karena beratnya badan Tarzan, aku terhuyung-huyung dan jatuh telentang di lantai yang dilapisi karpet tebal. Kedua kaki terpentang lebar, sehingga handuk yang tadinya menutupi bagian bawahku terbuka, yang mengakibatkan bagian bawahku terbuka polos di mana kemaluanku dan bagian pahaku yang putih mulus masih agak basah karena belum sempat kukeringi dengan betul.

Tarzan dengan cepat berjalan ke arahku yang sedang telentang di lantai dan sekarang berdiri diantara kedua kakiku yang terbuka lebar itu. Dengan cepat kepalanya telah berada diantara pangkal pahaku dan tiba-tiba terasa lidahnya yang kasar dan basah itu mulai menjilati pahaku, hal ini menimbulkan perasaan yang sangat geli. Aku mencoba menarik badanku ke atas untuk menghindari jilatan lidahnya pada pahaku, akan tetapi terdengar suara geraman keluar dari mulutnya dan dengan masih terus menjilat pahaku. Tarzan menunjukan gigi-giginya yang runcing, yang membuatku sangat ketakutan sehingga badanku terdiam dengan kaku. Kedua mataku melotot dengan ngeri melihat ke arah anjing herder tersebut yang kepalanya berada diantara kedua pahaku. Jilatannya makin naik ke atas dan tiba-tiba badanku menjadi kejang ketika lidahnya yang kasar itu terasa menjilat belahan bibir kemaluanku dari bawah terus naik ke atas dan akhirnya badanku terasa meriang ketika lidahnya yang besar basah dan kasar itu menyentuh klitorisku dan meggesek dengan suatu jilatan yang panjang, yang membuatku terasa terbang melayang-layang bagaikan layang-layang putus ditiup angin.

“Aduuhh!” tak terasa keluar keluhan panjang dari mulutku. Badanku terus bergetar-getar seperti orang kena setrum dan mataku terus melotot melihat kearah lidah Tarzan yang bolak balik menyapu belahan bibir kemaluanku dan dengan tak sadar kedua pahaku makin terbuka lebar, memberikan peluang yang makin besar pada lidah Tarzan bermain-main pada belahan kemaluanku. Dengan tak dapat kutahan lagi, cairan pelumas mulai membanjiri keluar dari dalam kemaluanku dan bau serta rasa dari cairan ini makin membuat Tarzan makin giat memainkan lidahnya terus menyapu dari bawah ke atas, mulai dari permukaan lubang anusku naik terus menyapu belahan bibir kemaluanku sampai pada puncaknya yaitu pada klitorisku. Ohh.. dengan cepat kemaluanku menjadi basah kuyup oleh cairan nafsu yang keluar terus menerus dari dalam kemaluanku. Sejenak aku seakan-akan lupa akan diriku, terbawa oleh nafsu birahi yang melandaku..akan tetapi pada saat berikut aku sadar akan situasi yang menimpaku.

“Aduuhh benar-benar gila ini, aku terbuai oleh nafsu karena sentuhan seekor anjing.. aahh.. tidak.. tidak bisa ini terjadi!”, dengan cepat aku menarik badanku dan mencoba bergulir membalik badanku untuk bisa meloloskan diri dari Tarzan. Dengan membalik badanku, sekarang aku merangkak dengan kedua tangan dan lututku dan rupanya ini suatu gerakan yang salah yang berakibat sangat sangat fatal bagiku, karena dengan tiba-tiba terasa sesuatu beban yang berat menimpa punggungku dan ketika masih dalam keadaan merangkak itu aku menoleh kepalaku ke belakang, terlihat Tarzan dengan kedua kaki depannya telah menekan punggungku dan kuku-kuku kaki depannya nyangkut pada handuk yang melilit badanku, badannya yang berat itu menekan badanku. Untung badanku dililit handuk tebal, kalau tidak pasti punggungku luka-luka terkena cakaran kuku Tarzan yang tajam dan kuat itu.

Aku mencoba merangkak maju dan berpegang pada tepi tempat tidur untuk mencoba berdiri, akan tetapi tiba-tiba Tarzan menekan badannya yang beratnya hampir 60 Kg itu sehingga posisiku yang sudah setengah berlutut, karena beratnya badan Tarzan, akhirnya aku tersungkur ke tempat tidur dengan posisi berlutut di pinggir tempat tidur dan separuh badanku tertelungkup di atas tempat tidur, di mana badan Tarzan menidih badanku. Kedua kaki belakang Tarzan bertumpu di lantai diantara kedua pahaku yang agak terkangkang dan karena posisi badanku yang tertelungkup itu, maka handuk yang melilit dan menutupi badanku agak terangkat ke atas, sehingga bagian pantat aku ke bawah terbuka dengan lebar. Badan anjing herder tersebut terasa berat menidih badanku. Karena kuku kaki depannya tersangkut pada handuk, maka kedua kaki belakangnya mendorong ke depan, sehingga terasa pantatku tertekan oleh kedua paha berbulu dari anjing tersebut.

Dalam usaha melepaskan kedua kakinya yang tersangkut pada handuk, badan Tarzan bergerak-gerak di atas punggungku dan tanpa dapat dihindari bagian bawah perut Tarzan tergesek-gesek pada belahan pantatku yang tidak tertutup handuk. Aduh gila ini, sekarang aku benar-benar terjebak dalam posisi yang sulit. “Tarzan! ayoo! turun!” aku mencoba menghardik anjing tersebut, kedua tanganku tidak dapat digerakkan karena terhimpit diantara badanku dan kedua kaki depan Tarzan.

Tiba-tiba aku merasakan ada suatu benda kenyal, bulat panas terhimpit pada belahan pantatku dan tiba-tiba aku menyadari akan bahaya yang akan menimpaku, anjing herder tersebut rupanya sudah mulai terangsang dengan tergesek-geseknya batang kemaluannya pada belahan kenyal pantatku. “Ayoo.. Tarsan.. stop! turun dari punggungku.. ayoo!” dengan panik aku mencoba menyuruhnya turun dari punggungku, akan tetapi seruanku itu tidak dipedulikan oleh Tarzan, malahan sekarang terasa gerakan-gerakan mencucuk benda tersebut pada pantatku mula-mula perlahan dan semakin lama semakin gencar saja. Aku menoleh ke kanan, ke arah kaca besar lemari yang persis berada di samping kanan tempat tidur, terlihat batang kemaluan anjing herder tersebut telah keluar dari pembungkusnya dan terlihat batang kemaluannya yang berupa daging merah bulat dengan ujungnya berbentuk agak meruncing sedang mencocol-cocol bagian pantatku akibat gerakan pantat anjing tersebut yang makin cepat saja. Mulut anjing tersebut setengah terbuka dan lidahnya terjulur keluar dan terdengar dengusan keluar dari hidungnya. Rupanya anjing herder tersebut telah sangat terangsang dan sekarang dia sedang berusaha memperkosaku.

Aku benar-benar menjadi panik, bagaimana tidak, aku dalam posisi terjepit dan sedang akan disetubuhi oleh seekor anjing herder yang kelihatan sedang kesetanan oleh nafsu birahinya. Oh.. memang sudah hampir 2 minggu aku tidak berhubungan seks dan sejak siang aku berada dalam keadaan bernafsu membayangkan besok Mas Ferry akan kembali dan kita akan menikmati permainan seks yang seru sepanjang 1 minggu kedepan, akan tetapi.. disetubuhi oleh seekor anjing herder? benar-benar tidak terbayangkan selama ini olehku.

Tanpa kusadari sodokan-sodokan batang kemaluan Tarzan semakin gencar saja, sehingga aku yang melihat gerakan pantat anjing tersebut melalui cermin, benar-benar terpesona karena gerakan tekanan-tekanan ke depan pantatnya benar-benar sangat cepat dan gencar, terasa sekarang serangan-serangan kepala batang kemaluan anjing tersebut mulai menimbulkan perasaan geli pada belahan pantat aku dan kadang-kadang ujung batang kemaluannya menyentuh dengan cepat lubang anusku, menimbulkan perasaan geli yang amat sangat. Terlihat kedua kaki belakangnya melangkah ke depan, sehingga sekarang kedua paha anjing tersebut memepeti kedua paha belakangku dan gerakan tekanan dan cocolan-cocolan kepala batang kemaluannya mulai terarah menyentuh bibir kemaluanku, aku menjadi bertambah panik, disamping perasaanku yang mulai terasa tidak menentu, karena sodokan-sodokan kepala batang kemaluan Tarzan tersebut menimbulkan perasaan geli dan .. harus kuakui enak juga dan mulai membangkitkan kembali nafsu birahiku yang tertunda tadi.

Ketika aku berpaling lagi ke kaca, terlihat sekarang batang kemaluan anjing herder tersebut sudah keluar sepenuhnya dari bagian pembungkusnya dan sudah mulai membesar secara perlahan-lahan, centimeter demi centimeter terlihat gumpalan daging merah tersebut membesar sehingga tak lama kemudian terlihat batang kemaluan herder tersebut berupa sebatang daging merah, bulat panjang mencapai kurang lebih 25 cm dengan lingkaran kurang lebih 4 cm. Oh.. mungkin sebesar lingkaran tanganku, benar-benar sangat mengerikan melihat batang kemaluan yang sangat besar itu mencuat dengan tegang di bawah perut anjing herder yang berbulu itu.

Degup jantungku terasa memukul dengan kencang, aku mencoba berontak untuk meloloskan diri dari bawah tekanan kedua kaki depan Tarzan, akan tetapi mendadak gerakanku terhenti dengan tiba-tiba dan tubuhku menjadi kaku ketika, “Gggeerr..!” terdengar geraman yang keluar dari mulut Tarzan dan terasa kedua kaki depannya makin mencengkeram dengan kuat pada handuk yang menutupi punggungku, serta tekanan badannya pada punggungku terasa semakin berat.

Tiba-tiba mataku terbelalak dan tubuhku menjadi kaku tegang ketika merasakan kepala batang kemaluan yang dahsyat dari anjing tersebut menyentuh dengan tepat belahan bibir kemaluanku, “Ooohh.. oohh.. aku akan disetubuhi oleh seekor anjing!” keluhku terengah-engah. Aku semakin terengah-engah ketika merasakan kepala batang kemaluan herder tersebut terasa terjepit diantara kedua bibir kemaluanku dan terasa mulai menekan untuk mencari jalan masuk ke dalam. “Ooohh.. benar-benar Tarzan akan segera membuatku sebagai anjing betinanya!” Tarzan, ketika merasakan batang kemaluannya dijepit sesuatu yang lembut tapi kenyal, segera bereaksi dengan cepat dan mulai memompa batang kemaluannya dengan asyik untuk segera menerobos masuk benda yang menjepit batang kemaluannya itu, sambil mengeram setiap kali aku mencoba bergerak menghindar.

Bersambung ke bagian 03

Tags : cerita hot, cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang, indocerita 17 tahun,cerita seru 17 tahun,cerita lucu,abg smu,dewasa bugil,bokep indonesia,artis indonesia bugil

Cerita Hot – Aku Korban Birahi Anjingku 01

Namaku Marni, aku berumur 30 tahun, suamiku bernama Ferry, berumur 35 tahun, dia bekerja sebagai tenaga ahli pada sebuah perusahaan pengeboran minyak lepas pantai. Kebanyakan waktu kerjanya berada di atas Riq, yaitu suatu tempat yang dibangun di tengah laut, untuk pengeboran mencari sumber minyak baru. Waktu kerjanya adalah 2 minggu di atas Riq, diikuti 1 minggu cuti di darat, demikian berkelanjutan. Sehingga kalau Mas Ferry sedang bertugas, maka aku tinggal sendirian di rumah ditemani oleh pembantu kami, Mbok Minah yang telah berumur 55 tahun dan telah mengikuti kami sejak kami menikah, serta seekor anjing herder jantan besar dan galak sebagai penjaga rumah. Anjing herder ini diberikan oleh seorang expatriate yang berasal dari Italy, yang telah kembali ke negerinya karena telah habis kontrak. Pada waktu bertugas di Indonesia, expatriate Italy tersebut tinggal di rumah besar kontrakannya di daerah Cipete berdua dengan istrinya yang berumur 27 tahun. Istrinya mempunyai tubuh yang sangat seksi dan aku telah mengenalnya cukup akrab, karena setiap suami-suami kita sedang bertugas, kami sering saling mengunjungi untuk berbagi waktu.

Pengalamanku yang berhubungan dengan lelaki, tidak terlalu banyak dan sebelum bertemu dengan Mas Ferry, aku tidak terlalu banyak bergaul dengan lelaki lain, karena biarpun aku termasuk wanita yang berparas cantik dengan badan yang menurut teman-teman dekatku termasuk seksi, akan tetapi entah mengapa, setiap kali ada cowok yang bermaksud lebih dari sekedar teman, aku langsung mengambil jarak. Aku tidak tahu bagaimana mula-mula bisa dekat dengan Mas Ferry yang kebetulan adalah teman abangku, biarpun memang setiap kali Mas Ferry tidak bertugas di Riq, dia selalu bermain di rumahku, tapi toh hubungan kami biasa-biasa saja. Hanya saja tiba-tiba sekitar 5 tahun lalu, Mas Ferry mengemukakan maksudnya untuk menikahiku kepada kedua orang tuaku dan entah karena bujukan orang tua dan kakakku, ataupun karena memang aku juga telah menaruh simpati kepada Mas Ferry selama ini, akhirnya aku menyetujui dan kami segera melangsungkan pernikahan kami. Pada waktu malam pertama kami itu, aku mulai tahu bagaimana enaknya hubungan kelamin antara pria dan wanita, setelah selesai resepsi pernikahanku.

Kuingat pada hari itu setelah selesai resepsi pernikahan kami, yang dilakukan pada siang hari, kami berdua beserta rombongan keluarga kembali ke rumah baru kami. Rombongan keluarga kami, pada jam 8 malam kembali ke rumah mereka masing-masing, sehingga akhirnya aku dan Mas Ferry hanya tinggal berdua saja di rumah kami itu. Pada saat itu Mbok Minah, pembantu rumah kami itu belum ada, karena kupikir apa-apa di rumah dapat dikerjakan sendiri. Aku mandi duluan sebab badanku sudah merasa gerah setelah seharian sibuk dengan acara pesta yang padat itu.

Setelah selesai mandi dengan mengenakan daster, aku duduk di ruang keluarga sambil menonton TV. Kemudian Mas Ferry yang pada saat itu hanya bercelana pendek, kusuruh mandi. Mas Ferry untuk ukuran umum dapat dikatakan termasuk tampan. Warna kulitnya agak gelap kehitaman, pada wajahnya ada tumbuh rambut halus di dagu dan dadanya cukup bidang dengan tinggi badan berkisar 175 cm, otot-ototnya menonjol kuat.

Setelah selesai mandi Mas Ferry dengan santai duduk di sebelahku sambil ikut mengawasi televisi yang remotenya masih di tanganku, “Mar, apakah kamu capai?” tanya Mas Ferry. “Tidak Mas, memangnya ada apa?” jawabku lugu, karena memang aku sesungguhnya tidak menyadari apa yang seharusnya dilakukan oleh sepasang pengantin baru. Rupanya Mas Ferry yang telah sangat bernafsu, mendengar jawabanku itu, tanpa ba bi Bu segera menarik badanku dan membekapku erat-erat dan sebelum aku menyadari benar apa yang sedang terjadi, kedua tangan Mas Ferry dengan cepat segera menguak dasterku dan sekalian ditariknya lepas BH-ku sehingga kedua buah dadaku yang ranum segera seolah-olah melompat keluar. Mas Ferry terpesona melihat bentuk buah dadaku yang indah, yang warna kuning langsat dengan bulatan kecil coklat tua kemerahan, serta puting kecil menantang di ujungnya.

Aku mula-mula mencoba memberontak, akan tetapi aku segera sadar bahwa sekarang aku adalah istri dari Mas Ferry. Badanku segera dipeluknya dan disandarkan pada sandaran sofa, mulutnya langsung menuju puting susuku, kurasakan lidahnya lincah bergerak menjilat-jilat puting susuku, menimbulkan suatu perasaan aneh, geli yang tidak dapat kulukiskan, yang menjalar keseluruhan badanku. Hal ini membuat aliran darahku bertambah cepat dan badanku tiba-tiba merasa panas, puting susuku terasa semakin mengeras, sesekali kurasakan gigitan kecil gigi Mas Ferry menggores putingku. Pada bagian perutku kurasakan ada benda yang membonggol besar mendesak dan menekan hebat. Bibirku juga tak luput dari lumatannya, terasa habis dilumat bibirku, sampai aku tak bisa bernafas, aku mulai berkeringat dan tiba-tiba tangan kanannya mulai meluncur ke bawah menuju ke arah kemaluanku yang masih tertutup dengan CD, diselipkan tangannya di antara pahaku. Aku agak terkejut, sehingga otomatis kedua pahaku kututup rapat-rapat dan kedua tanganku memeluk Mas Ferry erat-erat, Mas Ferry semakin gencar saja melakukan aktivitasnya, kemudian ditarik dasterku sampai terlepas dan perlahan-lahan celana dalamku dilucuti juga sambil tersenyum.

Setelah itu dengan sigap direnggangkannya kedua pahaku, sehingga dengan leluasa Mas Ferry dapat melihat kemaluanku yang padat dengan bulu hitam keriting, tangannya mengocek kemaluanku yang sudah agak basah itu dengan halus, kemudian dimasukkannya jari tengah perlahan-lahan ke dalam lubang kemaluanku, sedangkan ibu jari dan jari jempolnya menekan bibir-bibir kemaluanku, membuka jalan dengan meminggirkan rambut kemaluanku. Klitorisku terasa kaku, sambil jari-jarinya bermain-main di kemaluanku, mulutnya menjilat dan menyedot buah dadaku sampai aku kegelian dan tiba-tiba dia berhenti menyedot buah dadaku dan badannya melongsor ke lantai dan kini Mas Ferry jongkok diantara kedua pahaku, yang dengan perlahan-lahan dikuakkan, sehingga terbuka dan kepalanya dimajukan kearah pangkal pahaku dan kurasakan mulutnya sudah menempel pada kemaluanku.

Merasakan lidahnya yang basah dan hembusan nafasnya pada pangkal pahaku membuatku menggelinjang kegelian, lebih-lebih ketika kurasakan lidahnya menyapu bersih ruang dalam kemaluanku yang telah basah itu, sambil tangan kanannya ikut membantu memainkan klitorisku. “Aaagghh.. Maass.. aduuh..!” aku mengerang-erang dan mengeliat-geliat kegelian, tapi dia tidak mempedulikannya, diteruskan aktivitasnya mempermainkan klitorisku.

Selang sesaat, aku disuruhnya duduk di lantai, diantara kedua kaki Mas Ferry yang duduk di atas sofa dan aku sangat kaget melihat benda bulat besar yang terletak diantara kedua paha Mas Ferry yang tegak menghadap ke atas, batang kemaluan Mas Ferry sungguh dahsyat, seperti batang kemaluan pemain blue film yang pernah dahulu satu kali kulihat di video yang diputar di rumah seorang teman wanitaku. Panjangnya kurang lebih 17 cm dengan kepalanya batang kemaluannya bulat besar seperti topi baja tentara dan batang batang kemaluannya berdiameter 3 cm, dilingkari oleh urat-urat yang menonjol. Mas Ferry hanya tersenyum saat melihat mataku yang terbelalak itu, sambil memegang batang kejantanannya dan digerak-gerakkan dengan tangannya, dia mengambil tanganku dan disuruhnya aku memegang batang kemaluannya. Alamak.. tanganku tak cukup melingkar pada batang kemaluannya yang besar dan panjang itu. Dalam posisi Mas Ferry duduk seperti itu, batang kemaluannya memanjang di atas perutnya sampai mencapai pusarnya. Aku merinding dan takut juga melihatnya benda panjang, bulat berwarna hitam mengkilap mendongak seperti belut besar itu.

Tanpa sadar badanku menggelinjang dan terasa ngilu pada perut bagian bawahku, membayangkan benda tersebut menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku yang kecil dan masih sempit itu. “Kenapa kok diplototin seperti itu!” tanyanya. “Eh.. aku heran kok, kayak gini besarnya ya? apa cukup nggak ya ini masuk ke dalam punyaku nanti?” jawabku sambil tetap memegangnya. Belum selesai aku melanjutkan omonganku, ditekan kepalaku ke arah perutnya dan disorongkan ujung batang kemaluannya ke mulutku, dan.. eehmm, mulutku tak muat menampung semua batang kemaluannya ke dalam. Kurasakan aneh juga seperti sedang mengulum es cream horn saja, aku mencoba melakukan seperti apa yang pernah kulihat pada VCD porno itu, aku mencoba memainkan lidahku dan mulutku maju mundur, sehingga batang kemaluannya menyembul tenggelam dalam mulutku. Tangannya juga tidak tinggal diam menggapai semua bagian tubuhku yang sensitif, sehingga aku semakin terangsang.

Aku mencoba menjilat-jilat pula buah zakarnya, pada ujung batang kemaluannya, kurasakan ada cairan bening sedikit cukup manis dan agak asin terus kuhisap sambil mencoba memasukkan kepala batang kemaluan Mas Ferry ke dalam mulutku, sampai mulutku tak mampu lagi menahan besarnya batang kemaluan Mas Ferry itu.

Setelah puas aku mencium batang kemaluannya dan mengisap-isap kepala batang kemaluannya, sampai mulutku terasa capek, kemudian.. “Mar, coba kamu tengkurap di pinggir sofa dan pegangi ujung sofa itu”, perintahnya. Aku tidak mengerti maunya Mas Ferry, tapi kulakukan saja perintahnya, badanku setengah tengkurap di sofa dan kedua lututku berlutut di lantai sehingga pantatku terbuka, agak menungging ke atas. Tiba-tiba kurasakan batang kemaluan Mas Ferry dipukul-pukulkan pada pantatku sehingga aku kegelian, kemudian Mas Ferry menempatkan kepala batang kemaluannya menempel pada bibir kemaluanku dari belakang, rupanya Mas Ferry sudah akan melakukan penetrasi.

“Mass.. pelan-pelan yaa! jangan sampai sakit.. itunya Mas kan sangat besar!”

“Jangan takut yaangg..” dengan perlahan-lahan Mas Ferry mendorong batang kemaluannya, sehingga terasa kepala batang kemaluannya masuk sebagian dan terjepit oleh kedua bibir liang kewanitaanku yang masih ketat itu. Perutku tertekan pada pinggir sofa dan kedua tangan Mas Ferry memegang pinggulku dengan erat-erat, sehingga pantatku tidak dapat digerakan untuk menghindari tekanan batang kemaluannya pada liang senggamaku, Mas Ferry melanjutkan tekanannya ke lubang kemaluanku sehingga terasa lubang kemaluanku terkuak dan dipenuhi oleh benda besar, kepala batang kemaluannya tertahan oleh sempitnya lubang kemaluanku, dia mencoba mendorong lagi dan gagal untuk menerobos masuk.

“Aaah.. seret sekali ya, untuk menembus ke dalam.. susah juga kalo perawan”, omongnya, akan tetapi Mas Ferry tidak kehilangan akal diambilnya hand & body lotion dan dioleskan pada kepala kemaluannya yang besar itu dan ke seluruh batangnya, kemudian dia mencoba lagi menekan secara perlahan-lahan sambil tangan satunya memegang batang kemaluannya dan tangannya yang lain membuka belahan pantatku. Perlahan-lahan tapi pasti kepala batang kemaluannya mulai menerobos masuk ke dalam liang kewanitaanku yang kecil dan masih sempit, aku agak panik sebab kurasakan agak pedih pada bagian dalam kemaluanku.

“Maass, udah ah.. nggak bisa masuk.. terlalu besar sih”, pintaku.

“Sebentar.. tahan dulu ya.. ini udah nyampe sepertiga lho!” jawabnya sambil dengan tiba-tiba kedua tangannya memeluk bagian perutku dan menariknya ke atas dan seluruh berat badannya menekan punggungku serta pantatnya didorong ke depan menempel pada pantatku. Akibatnya seluruh batang kemaluannya mendesak masuk ke dalam lubang kemaluanku dan, “Ssreet.. sret.. sreett.” Aku pun menjerit lirih, “Aaauu.. aduuhh!” aku menjerit dengan keras karena, kurasakan bagian bawahku seakan-akan terbelah dan batang kemaluan Mas Ferry terasa tembus ke perutku hingga terasa di kerongkonganku. Kedua tangan Mas Ferry tetap mendekap perutku dengan kuat, sehingga biarpun aku menggelepar-gelepar dengan kuat tetap saja batang kemaluannya bisa menerobos keluar masuk liang kewanitaanku.

Dengan pasti dan teratur Mas Ferry menggerak-gerakan pantatnya maju mundur sehingga lama-kelamaan batang kemaluannya mulai lancar keluar masuk pada kemaluanku. Aku mulai merasa kegelian yang tak tertahan, karena setiap kali batang kemaluannya ditekan ke dalam lubang kemaluanku, klitorisku ikut tertekan masuk, sehingga terasa sangat nikmat tergesek batang batang kemaluannya yang berurat itu.

“Aduhh.. eengg.. eennaak.. aahh.. aduuhh.. Mass.. teeruuskaan.. Mass!”. Terasa lubang kemaluanku terisi penuh sehingga napasku menjadi ngos-ngosan. Akhirnya seluruh badanku bergetar dengan hebat sehingga tersentak-sentak, aku mencapai orgasme dengan dahsyat dan cairan licin membanjir dari dalam liang kewanitaanku, “Ooohh.. oohh.. aaduuhh.. eenaakk” dan kurasakan kenikmatan itu menyambung terus saat batang kemaluan Mas Ferry maju mundur di celah liang kewanitaanku. Setelah kenikmatan yang dahsyat itu melandaku, aku terkapar dengan lemas di sofa.

Kemudian Mas Ferry menepuk pantatku dan membalikkan badanku menghadap padanya, sehingga sekarang aku telentang di atas sofa dengan pantatku terletak di pinggir sofa dan kedua kakiku terjulur di lantai. Mas Ferry menguak kedua kaki lebar-lebar dan jongkok diantara kedua pahaku. Tangan kirinya menekan pinggulku dan ibu jari dan jari telunjukya menguak bibir kemaluanku, sedangkan tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang ditempatkan pada bibir kemaluanku. Kepala batang kemaluannya digosok-gosokan sebentar pada bibir kemaluanku, juga pada klitorisku, sehingga aku mulai terangsang lagi dan badanku mulai menggelinjang. Melihat itu Mas Ferry mulai menekan masuk batang kemaluannya ke dalam kemaluanku, setelah itu Mas Ferry menggenjot batang kemaluannya keluar masuk, buah dadaku dibiarkan bergerak bebas mengikuti irama dorongan pantat Mas Ferry, sementara tangan Mas Ferry memegang pinggulku dan menariknya ke atas, pantatnya tetap bekerja maju mundur.

Saat batang kemaluan masuk, badanku terasa tertusuk geli tak karuan. Sesekali juga Mas Ferry menciumi buah dadaku sambil batang kemaluannya terus bergerak keluar masuk kemaluanku. Aku mulai merespon lagi dan berusaha dengan menggerakkan pantatku memutar ke kiri dan kanan. Batang kemaluan Mas Ferry terjepit dan terpelintir mengikuti gerakan pantatku, dia pun mulai mengerang dengan kuat. Dipegangnya kedua buah dadaku kuat-kuat dan ditarik masukkan batang kemaluan besarnya berulang-ulang sampai aku mulai kewalahan.

“Aaahh.. Maarr.. aku mau keluar niihh!” erangnya, kupercepat menggoyang pantatku karena aku tak mau menyia-nyiakan keadaan ini, aku ingin juga memberikan pada Mas Ferry kepuasan maksimal dan, “Aaahh.. aduuhh.. oohh!”, diikuti oleh, “Ssreet.. sreett.. sreet.. croott.. croott..” Mas Ferry menekan kuat-kuat pantatnya, sehingga seluruh batang kemaluannya terbenam ke dalam kemaluanku dan buah pelernya menempel ketat pada lubang anusku. Aku merasa sangat geli dan terangsang dan kurasakan semprotan hangat air mani Mas Ferry menyemprot ke dalam liang kewanitaanku dan saking banyaknya terasa penuh liang kewanitaanku sehingga sebagian terasa mengalir keluar membasahi anusku dan menetes di sofa.

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita hot, cerita dewasa, cerita panas, 17 tahun, setengah baya, julia perez telanjang, gambar bugil, cewek smu bugil,video tante girang,cynthiara alona bugil,artis bugil telanjang,dewi persik bugil,artis sandra dewi bugil, gadis genit, memek indonesia, memek jepang

Cerita Hot – Semalam di Kereta Api

Ini kisah pertama kaliku ML di kereta api. Saat liburan kuliah aku balik ke Jakarta. Untuk bepergian aku lebih memilih naik kereta bisnis karena dekat dengan rumah, kalau naik pesawat malas karena lama dalam perjalanan ke rumah. Karena diminta cepat sampai ke rumah aku naik kereta Taksaka malam.

Tak kusangka aku duduk bersebelahan dengan seorang wanita, menarik pula. Tingginya sekitar 160-170 cm, tubuhnya ramping, sexy, kulitnya putih, rambut lurus sepunggung, dan wajahnya seperti orang Manado. Dia datang duluan, sedang aku datang 5 menit sebelum kereta berangkat. Aku ambil kursi di wilayah tengah. Perlahan aku merapikan barang bawaanku.

Setelah selesai aku duduk dan sesaat kemudian aku berkenalan dengan wanita itu. Aku memperkenalkan namaku terlebih dahulu, sedang dia mengaku bernama Angel dengan suara dan tangannya yang lembut. Angel berpakaian sexy menurutku, bawahannya rok jeans 15 cm di atas lutut, atasannya tank top pink dan cardigan putih. Sexy sekali, tank topnya menutupi payudaranya yang bulat, kira-kira ukuran 32B. Ini ukuran favoritku. Angel memiliki aroma tubuh yang menggoda malam itu.

Kami mulai mengobrol tanpa memperhatikan kereta yang telah melaju kencang. Angel adalah seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Yogyakarta dan baru kuliah dua semester. Kami pun bertukar nomor HP kami. Dia pulang karena belum punya teman banyak di Yogya, dan teman-temannya pulang kampung semua. Angel suka dengan suasana di Yogya yang relatif tenang.

Di tengah pembicaraan, aku baru sadar kalau kedua puting payudara Angel menonjol, rupanya Angel tak memakai bra. Terus terang aku mulai terangsang, membayangkan payudaranya yang OK banget walau tak memakai bra. Ketika kutanya soal cowok, rupanya Angel sudah tak punya cukup lama. Terakhir dia berpacaran, cowoknya menduakan dia hingga Angel trauma, karena dia sungguh menyayangi cowoknya itu. Aku menyayangkan hal itu terjadi, lalu kuberanikan diri menanyakan soal kelanjutannya setelah itu, apakah dia menjadi lesbian. Ternyata Angel memang sempat menjadi lesbian beberapa saat setelah dia putus dan saat itu pula dia merasakan rangsangan seksual pada vaginanya untuk pertama kali dengan dimasuki jari oleh wanita pasangannya.

Pernyataannya sungguh mengejutkanku. Kutanya dia bagaimana hal itu bisa terjadi. Ternyata Angel tak keberatan menceritakannya dengan syarat aku akan merahasiakannya. Tentu saja ini akan kurahasiakan karena terus terang, aku suka padanya.

Ketika itu Angel berpacaran dengan cowoknya sudah 2 tahun. Pada tahun kedua, Angel penasaran dengan sikap cowoknya yang berubah. Akhirnya dia tahu kalau dia diduakan. Menurut Angel dia sudah memberikan segala perhatian pada cowoknya, bahkan setiap minggu mereka selalu petting di kamarnya. Ketika Angel tahu dia diduakan, Angel memutuskan pacarnya. Untuk menghilangkan rasa kesalnya, beberapa hari setelah itu Angel dugem bersama seorang teman wanitanya hingga tanpa disadari mereka mulai terpengaruh alkohol.

Angel pulang ke rumah dan temannya menginap. Sesaat setelah masuk kamar, Angel langsung menanggalkan pakaian dan branya lalu memakai piyama. Demikian pula dengan temannya yang bernama Erika. Angel curhat kepada temannya itu. Tanpa disadarinya, Angel terangsang sebab temannya mengelus-elus putingnya sambil mendengarkannya curhat. Angel membalas dengan meremas-remas payudara temannya yang lebih besar daripada miliknya, yang menurutnya berukuran 34A sedang miliknya hanya 32B.

Wow rupanya pas dengan perkiraanku, maklum pengalaman bertahun-tahun, batinku.

Perlahan tapi pasti mereka saling berciuman dan saling mengelus-elus puting lawannya. Angel melucuti CD temannya demikian pula sebaliknya, menurutnya pussy temannya gundul sedangkan miliknya rambutnya jarang tak terlalu lebat jadi tak dicukur.

Vagina mereka telah basah, lalu mereka melakukan posisi 69 dengan Erika di atas. Angel menjilati vagina temannya seperti yang dia rasakan saat cowoknya dulu menjilati miliknya. Erika pun tak mau kalah. Mereka berdua mendesah keenakan, sesaat kemudian Angel menjerit kesakitan saat Erika menusukkan jari tengahnya perlahan ke dalam vagina Angel yang masih perawan. Erika perlahan menusukkan jarinya masuk dan perlahan pula Angel merasakan keenakan dan menikmati gerakan jari Erika.

Vaginanya berdarah sedikit, tapi sensasi ini belum pernah Angel rasakan sebelumnya, katanya sungguh nikmat dan membuatnya melayang. Karena keenakan, Angel mengelus-elus putingnya sendiri sambil mendesah-desah keenakan dan Erika sudah berjongkok di depan vagina Angel, menjilati vagina dan menusuk-nusukkan jarinya. Ketika vaginanya berdenyut kencang Angel menjepit kepala temannya dan menekannya ke vagina. Sesudah itu, Angel tidur bersama Erika.

Setelah menceritakan pengalamannya Angel menitikkan air mata, rupanya hal ini mengingatkannya kembali akan kenangan buruknya. Kuberanikan diri untuk menghibur dengan memeluknya, setelah mengangkat sandaran tangan. Angel menangis di dadakku, kuelus-elus rambutnya untuk melegakan hatinya. Tanpa kusadari aku terangsang oleh aroma tubuh Angel yang sungguh menggoda.

Angel mulai tenang. Kuelus-elus pipinya yang mulus. Karena suasana sekitar sudah mulai sepi, kuberanikan diri untuk memeluknya dengan seizin Angel. Angel mengizinkanku, dan kupeluk dia menghadap jendela kereta, yang tertutupi kerai. Kucoba menghiburnya dengan mengatakan bahwa dirinya sungguh cantik, kubisikan di telinganya dan tanganku mengelus-elus perutnya yang rata. Aroma tubuh Angel makin membuatku terangsang, dan kukatakan padanya bahwa aku saat ini terangsang oleh aroma dan keindahan tubuhnya sambil tanganku perlahan meremas-remas payudara dan mengelus-elus putingnya. Lalu kami beradu mata.

Angel lalu memejamkan matanya, ini tanda bagiku bahwa dia ingin kucium. Kuberanikan diriku mencium bibirnya sambil kedua tanganku mengelus-elus putingnya yang mulai mengeras, lalu lidah kami pun beradu. Sesaat kemudian kami melepaskan ciuman kami, dan kami pun saling tersenyum. Selepas Purwokerto, Angel berbisik ke telingaku, dia mengajakku ke kamar mandi. Sesampainya di depan pintu kamar mandi, Angel memberitahuku kalau ia ingin melakukannya di dalam WC ini. Angel masuk dulu, dan baru setelah kulihat keadaan sekitar aman, aku ikut masuk.

Tanpa banyak bicara kumulai saja, Angel merangkulku dan kuciumi bibirnya, lidah kami beradu dan saling sedot. Tanganku masuk ke dalam tank topnya, kuremas-remas boobsnya perlahan dan memainkan putingnya. Ciumanku turun ke lehernya, tanganku menikmati kedua boobsnya, Angel memeluk kepalaku. Sesaat kemudian kutanggalkan cardigan dan kunaikkan tank topnya hingga tampaklah sepasang payudara yang bulat, kencang dan putingnya berwarna cerah, pink serta wajah pemiliknya yang terangsang menggairahkan.

Angel langsung kupeluk dan aku ‘menetek’ padanya. Perlahan kunikmati kedua payudaranya, kujilati putingnya, kusedot-sedot, dan kugigit-gigit lembut. Angel hanya bisa memeluk kepalaku dan mendesah-desah keenakan. Sambil ‘menetek’, aku mengelus-elus pantatnya yang montok dan halus. Saat kujelajahi pantatnya, ternyata Angel memakai CD bikini, yang hanya ditalikan kanan kirinya. Tanganku yang nakal melepaskan temalinya dan kulepaskan lalu kulihat tanda di CD-nya yang basah oleh cairan vaginanya. Langsung aku berjongkok dan meminta Angel mengangkat salah satu kakinya dan meletakkannya di atas kloset.

Tampaklah vagina basah yang berambut jarang. Kukatakan pada Angel bahwa vaginanya sangat sexy hingga langsung kulibas saja. Kujilati klitorisnya perlahan, lalu kesedot-sedot dan kugigit-gigit lembut hingga Angel melenguh agak keras dan memegangi kepalaku. Kurasakan vaginanya yang berkedut kencang saat Angel orgasme. Rangsangan tak kuhentikan, kutelan cairan vaginanya dan terus menikmati vaginanya. Kedua kaki Angel melemas hingga dia mencari pegangan dan aku menahan kedua kakinya di pundakku. Kutangkupkan mulutku di vaginanya hingga Angel pun orgasme lagi. Kujilati cairan vaginanya yang keluar dari vaginanya yang berkedut lalu kududukkan dia di atas kloset.

Angel tersenyum keenakan dan puas. Kutanya padanya apakah dia sudah puas. Angel menjawabnya dengan melucuti celana pendekku dan CD-ku dilanjutkan dengan menjilati penisku. Dengan wajah penuh nafsu Angel menikmati penisku. Mulutnya menjilati batang penisku dan memainkan kepala penisku yang seperti jamur sedang jari-jari lembutnya memainkan kedua zakarku. Aku mendesah keenakan karena baru kali ini ada yang dapat menyaingi Ani, mantan kekasihku, dalam mengoral penisku.

Aku memegangi kepala Angel ketika ia mengocok penisku di dalam mulutnya, sesaat kemudian juga kuremas-remas boobsnya yang mengkal. Kusuruh Angel menungging saat dia mengambil nafas setelah menyedot-sedot penisku dengan nikmatnya, kugesek-gesekkan kepala penisku yang sudah basah oleh liurnya ke bibir vagina dan klitorisnya. Angel mendongak keenakan dan menatapku seakan memberi isyarat untuk segera menyodokkannya ke dalam.

Perlahan kumasukkan penisku ke dalam vaginanya. Vaginanya yang licin dan hangat membuat adrenalinku terpompa keluar. Perlahan tapi mantap kusodokkan penisku, lalu kuberikan hentakan kencang saat hampir seluruh penisku telah masuk ke dalamnya. Memang penisku tak terlalu besar, rata-rata saja ukurannya. Bukan masalah ukuran tapi bagaimana cara saya melakukannya mulai saat foreplay hingga klimaks yang dicapainya pada saat orgasme.

Angel menjerit, lalu menatapku dan tersenyum. Kudekatkan wajahku dan mencium bibirnya sebelum mulai. Perlahan aku mulai menggerakkan pinggulku maju mundur, kuvariasi gerakan pinggulku. Maju-mundur, melingkar-lingkar dan membentuk angka 8. Sambil menyodok, sesekali kuelus-elus putingnya dan tangan yang lain menyentuh klitorisnya. Angel yang hanya memakali rok dan aku hanya memakai kaos menikmati setiap goyangan dan sodokan.

Setelah bosan dengan gaya doggy, aku duduk dan Angel kupangku menghadap wajahku. Kami berciuman lagi sebelum memulai kocokan. Angel manggoyangkan pinggulnya naik-turun, titik-titik keringat keluar dari pori-pori kami. Sambil bergoyang aku kembali ‘menetek’ padanya hingga Angel makin menggila. Vaginanya makin basah, dan seakan-akan memijat penisku dengan kedutannya.

Angel mengatakan padaku kalau dia hampir sampai dan kuminta untuk orgasme bersama. Kutanya padanya di mana aku harus mengeluarkannya, Angel menyatakan dirinya aman malam itu, dan dia ingin aku melepaskannya di dalam. Vagina Angel makin berkedut, lalu dia memelukku erat dan mendesah panjang, goyangannya terhenti, vaginanya berkedut hebat dan basah. Spontan aku berdiri dan Angel menjepitkan kakinya di pinggangku. Perlahan kugoyangkan pinggul hingga aku pun orgasme, beberapa kali penisku menembakkan spermanya di dalam vagina Angel.

Setelahnya aku duduk dan berpelukan erat dengan Angel. Cukup lama kami berada dalam posisi ini. Angel berbisik padaku mengatakan bahwa dirinya tak akan melupakan malam ini, dan ini adalah penis pertamanya yang memasuki vaginanya. Aku hanya bisa tersenyum menjawab pernyataannya. Angel berdiri hingga dapat kulihat ada bercak darah di penisku, aku terkejut karena rupanya dia bersungguh-sungguh.

Lalu kami merapikan diri dan bersiap kembali ke tempat duduk kami. Dengan cuek kami keluar, anggap saja kami sepasang pengantin baru. Aku keluar duluan dengan tanganku menggandeng Angel, walaupun cuek tapi aku cukup terkejut ketika ada seorang wanita muda seumuran Angel, berpapasan dengan kami saat kami membuka pintu untuk masuk ke ruang duduk. Wanita yang ternyata segerbong dengan kami itu tersenyum penuh arti. Kami tetapi cuek saja. Sesampainya di tempat duduk kami, aku semakin hangat dengan Angel. Dia tertidur dalam pelukanku.

Selepas Cirebon aku ke pergi ke WC lagi untuk buang air kecil. Ketika aku keluar, ternyata wanita yang tadi telah menunggu. Wanita itu mendorongku ke dalam WC hingga aku sempat memberontak sedikit, lalu ketika tahu dia sedang horny dengan melucuti celana dan pakaiannya sendiri, aku diam saja. Kutanya namanya, dia menjawab Rosa. Rambutnya pendek, sawo matang kulitnya, tingginya 170-an cm, menarik dan sexy, payudaranya lebih besar daripada punya Angel, kira-kira 34B, mengkal, putingnya coklat muda.

Setelah dia menanggalkan celana panjangnya, Rosa melepaskan atasannya. Aku pun mengelus-elus pussynya dari luar CD, ternyata sudah basah dan lembab, horny sekali dia rupanya. Kuturunkan CD-nya saat dia melepaskan branya. Wow, gundul dan basah. Rosa berpegangan di pundakku saat aku mengerjakan dirinya. Kutusukkan jari tengahku dan kuremas-remas boobsnya yang mengkal kanan-kiri. Rosa melenguh-lenguh keenakan. Vaginanya berkedut cepat bagai memijat jariku. Kuhentikan rangsanganku, dan dia berjongkok melucuti celanaku. Penisku sudah mengacung rupanya.

Rosa langsung mengajak bermain kuda-kudaan. Agak mudah juga penisku masuk ke dalam vaginanya, rupanya dia sudah sering dimasuki penis, tapi walaupun demikian masih kencang juga cengkeraman vaginanya. Rosa mulai menggoyangkan pinggulnya, dan aku mulai ‘menetek’ padanya. Cewek ini cukup sexy, batinku, dan mudah terangsang rupanya. Tak lama kemudian Rosa memelukku erat saat dia orgasme. Rosa tersenyum padaku, dan membisikkan terima kasih. Lalu kuminta dia untuk menenangkan penisku. Rosa melakukan blow job. Lumayan juga, hingga aku keenakan dibuatnya. Lalu tanpa peringatan sebelumnya, aku menembakkan spermaku ke dalam mulutnya. Rosa membersihkan sisa-sisa sperma di penisku. Aku langsung merapikan diriku dan mencium pipi Rosa sambil mengucapkan terima kasih kembali.

Di dalam gerbong, aku kembali memeluk Angel. Kebetulan kami menyewa selimut, tanganku bergerilya masuk ke dalam CD Angel. Kuelus-elus kitorisnya hingga Angel terkejut dan kembali terangsang. Vaginanya menjadi lembab, perlahan kumasukkan jari tengahku lalu kukocok vaginanya. Angel memegangi dengan erat tanganku yang meremas-remas boobsnya. Untuk menahan agar suaranya tak keluar dia menggigit bibirnya sendiri. Tak lama kemudian Angel orgasme, lalu dia mengatakan kalau diriku nakal sekali. Aku menjawabnya dengan sebuah ciuman di bibirnya yang mungil.

Sesampainya di Jakarta, kutemani dia menunggu jemputannya. Ternyata ayahnya yang menjemput. Aku dikenalkan padanya sebagai teman selama di perjalanan. Untung saja ayahnya tak menaruh curiga apapun. Setelah selesai merapikan barang bawaannya ke mobil, Angel berbisik padaku agar segera meneleponnya hari itu juga. Aku menyanggupinya sebelum akhirnya kami berpisah.

E N D

Tags : cerita hot, cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil,mahasiswi cantik, mahasiswi seksi, mahasiswi bandung bugil, mahasiswi toket, seks mahasiswi, video bugil mahasiswi, gambar mahasiswi bugil, cerita mahasiswi

Cerita Hot – TKW Pemikat

Empat tahun lalu aku masih tinggal dikota B. Waktu itu aku berumur 26 tahun. Aku tinggal dirumah sepupu, karena sementara masih menganggur aku iseng-iseng membantu sepupu bisnis kecil-kecilan di pasar. 3 bulan aku jalani dengan biasa saja. Hingga akhirnya secara tak disengaja aku kenal seorang pelanggan yang biasa menggunakan jasa angkutan barang pasar yang kebetulan aku yang mengemudikannya. Bu Murni namanya. Sambil ngobrol ngalor-ngidul aku antar dia sampai dirumahnya yang memang agak jauh dari pasar tempat dia berjualan kain-kain dan baju.

Sesampai dirumahnya aku bantuin dia mengangkat barang-barangnya. Mungkin karena sudah mulai akrab aku enggak langsung pulang. Toh, memang ini penumpang yang terakhir. Aku duduk saja di depan rumahnya yang sejuk, karena kebetulan ada seperti dipan dari bambu dihalaman di bawah pohon jambu. Dari dalam aku mendengar suara seperti memerintah kepada seseorang..

“Pit.. Tuh bawain air yang dikendil ke depan..,” begitu suara Bu Murni.

Aku tidak mendengar ada jawaban dari yang diperintah Bu Murni tadi. Yang ada tiba-tiba seorang gadis umur kira-kira 20 tahunan keluar dari rumah membawa gelas dan kendil air putih segar. Wajahnya biasa saja, agak mirip Bu Murni, tapi kulitnya putih dan semampai pula. Dia tersenyum..

“Mas, minum dulu.. Air kendil seger lho..” begitu dia menyapaku.

“I.. Iya.. Makasih..” balasku.

Masih sambil senyum dia balik kanan untuk masuk kembali ke dalam rumahnya. Aku masih tertegun sambil memandangnya. Seperti ingin tembus pandang saja niatku, ‘Pantatnya aduhai, jalannya serasi, lumayan deh..’ batinku.

Tak seberapa lama Bu Murni keluar. Dia sudah ganti baju, mungkin yang biasa dia pakai kesehariannya..

“Dik Wahyu, itu tadi anak saya si Pipit..” kata Bu Murni.

“Dia tuh lagi ngurus surat-surat katanya mau ke Malaysia jadi TKW.” lanjutnya. Aku manggut-manggut..

“O gitu yah.. Ngapain sih kok mau jauh-jauh ke Malaysia, kan jauh.. Nanti kalau ada apa-apa gimana..” aku menimpalinya.

Begitu seterusnya aku ngobrol sebentar lalu pamit undur diri. Belum sampai aku menstater mobil pickupku, Bu Murni sambil berlari kecil ke arahku..

“Eh dik Wahyu, tunggu dulu katanya Pipit mau ikut sampai terminal bis. Dia mau ambil surat-surat dirumah kakaknya. Tungguin sebentar ya..”

Aku tidak jadi menstater dan sambil membuka pintu mobil aku tersenyum karena inilah saatnya aku bisa puas mengenal si Pipit. Begitulah akhirnya aku dan Pipit berkenalan pertama kali. Aku antar dia mengambil surat-surat TKW-nya. Di dalam perjalanan kami ngobrol dan sambil bersendau gurau.

“Pit.., namamu Pipit. Kok nggak ada lesung pipitnya..” kataku ngeledek. Pipit juga tak kalah ngeledeknya.

“Mas aku kan sudah punya lesung yang lain.. Masak sih kurang lagi..” balas Pipit..

Di situ aku mulai berani ngomong yang sedikit nakal, karena sepertinya Pipit tak terlalu kaku dan lugu layaknya gadis-gadis didesa. Pantas saja dia berani merantau keluar negeri, pikirku.

Sesampai dirumah kakaknya, ternyata tuan rumah sedang pergi membantu tetangga yang sedang hajatan. Hanya ada anaknya yang masih kecil kira-kira 7 tahunan dirumah. Pipit menyuruhnya memanggilkan ibunya.

“Eh Ugi, Ibu sudah lama belum perginya? susulin sana, bilang ada Lik Pipit gitu yah..”

Ugi pergi menyusul ibunya yang tak lain adalah kakaknya Pipit. Selagi Ugi sedang menyusul ibunya, aku duduk-duduk di dipan tapi di dalam rumah. Pipit masuk ke ruangan dalam mungkin ambil air atau apa, aku diruangan depan. Kemudian Pipit keluar dengan segelas air putih ditangannya.

“Mas minum lagi yah.. Kan capek nyetir mobil..” katanya.

Diberikannya air putih itu, tapi mata Pipit yang indah itu sambil memandangku genit. Aku terima saja gelasnya dan meminumnya. Pipit masih saja memandangku tak berkedip. Akupun akhirnya nekat memandang dia juga, dan tak terasa tanganku meraih tangan Pipit, dingin dan sedikit berkeringat. Tak disangka, malah tangan Pipit meremas jariku. Aku tak ambil pusing lagi tangan satunya kuraih, kugenggam. Pipit menatapku.

“Mas.. Kok kita pegang-pegangan sih..” Pipit setengah berbisik.

Agak sedikit malu aku, tapi kujawab juga, “Abis, .. Kamu juga sih..”

Setelah itu sambil sama-sama tersenyum aku nekad menarik kedua tangannya yang lembut itu hingga tubuhnya menempel di dadaku, dan akhirnya kami saling berpelukan tidak terlalu erat tadinya. Tapi terus meng-erat lagi, erat lagi.. Buah dadanya kini menempel lekat didadaku. Aku semakin mendapat keberanian untuk mengelus wajahnya. Aku dekatkan bibirku hingga menyentuh bibirnya. Merasa tidak ada protes, langsung kukecup dan mengulum bibirnya. Benar-benar nikmat. Bibirnya basah-basah madu. Tanganku mendekap tubuhku sambil kugoyangkan dengan maksud sambil menggesek buah dadanya yang mepet erat dengan tubuhku. Sayup-sayup aku mendengar Pipit seperti mendesah lirih, mungkin mulai terangsang kali..

Apalagi tanpa basa-basi tonjolan di bawah perutku sesekali aku sengaja kubenturkan kira-kira ditengah selangkangannya. Sesekali seperti dia tahu iramanya, dia memajukan sedikit bagian bawahnya sehingga tonjolanku membentur tepat diposisi “mecky”nya.

Sinyal-sinyal nafsu dan birahiku mulai memuncak ketika tanpa malu lagi Pipit menggelayutkan tangannya dipundakku memeluk, pantatnya goyang memutar, menekan sambil mendesah. Tanganku turun dan meremas pantatnya yang padat. Akupun ikut goyang melingkar menekan dengan tonjolan penisku yang menegang tapi terbatas karena masih memakai celana lumayan ketat. Ingin rasanya aku gendong tubuh Pipit untuk kurebahkan ke dipan, tapi urung karena Ugi yang tadi disuruh Pipit memanggil ibunya sudah datang kembali.

Buru-buru kami melepas pelukan, merapikan baju, dan duduk seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Begitu masuk, Ugi yang ternyata sendirian berkata seperti pembawa pesan.

“Lik Pipit, Ibu masih lama, sibuk sekali lagi masak buat tamu-tamu. Lik Pipit suruh tunggu aja. Ugi juga mau ke sana mau main banyak teman. sudah ya Lik..”

Habis berkata begitu Ugi langsung lari ngeloyor mungkin langsung buru-buru mau main dengan teman-temannya. Aku dan Pipit saling menatap, tak habis pikir kenapa ada kesempatan yang tak terduga datang beruntun untuk kami, tak ada rencana, tak ada niat tahu-tahu kami hanya berdua saja disebuah rumah yang kosong ditinggal pemiliknya.

“Mas, mending kita tunggu saja yah.. sudah jauh-jauh balik lagi kan mubazir.. Tapi Mas Wahyu ada acara nggak nanti berabe dong..” berkata Pipit memecah keheningan.

Dengan berbunga-bunga aku tersenyum dan setuju karena memang tidak ada acara lagi aku dirumah.

“Pit sini deh.. Aku bisikin..” kataku sambil menarik lengan dengan lembut.

“Eh, kamu cantik juga yah kalau dipandang-pandang..”

Tanpa ba-Bi-Bu lagi Pipit malah memelukku, mencium, mengulum bibirku bahkan dengan semangatnya yang sensual aku dibuat terperanjat seketika. Akupun membalasnya dengan buas. Sekarang tidak berlama-lama lagi sambil berdiri. Aku mendorong mengarahkannya ke dipan untuk kemudian merebahkannya dengan masih berpelukan. Aku menindihnya, dan masih menciumi, menjilati lehernya, sampai ke telinga sebelah dalam yang ternyata putih mulus dan beraroma sejuk. Tangannya meraba tonjolan dicelanaku dan terus meremasnya seiring desahan birahinya. Merasa ada perimbangan, aku tak canggung-canggung lagi aku buka saja kancing bajunya. Tak sabar aku ingin menikmati buah dada keras kenyal berukuran 34 putih mulus dibalik bra-nya.

Sekali sentil tali bra terlepas, kini tepat di depan mataku dua tonjolan seukuran kepalan tangan aktor Arnold Swchargeneger, putih keras dengan puting merah mencuat kurang lebih 1 cm. Puas kupandang, dilanjutkan menyentuh putingnya dengan lubang hidungku, kuputar-putar sebelum akhirnya kujilati mengitari diameternya kumainkan lidahku, kuhisap, sedikit menggigit, jilat lagi, bergantian kanan dan kiri. Pipit membusung menggeliat sambil menghela nafas birahi. Matanya merem melek lidahnya menjulur membasahi bibirnya sendiri, mendesah lagi.. Sambil lebih keras meremas penisku yang sudah mulai terbuka resluiting celanaku karena usaha Pipit.

Tanganku mulai merayap ke sana kemari dan baru berhenti saat telah kubuka celana panjang Pipit pelan tapi pasti, hingga berbugil ria aku dengannya. Kuhajar semua lekuk tubuhnya dengan jilatanku yang merata dari ujung telinga sampai jari-jari kakinya. Nafas Pipit mulai tak beraturan ketika jilatanku kualihkan dibibir vaginanya. Betapa indah, betapa merah, betapa nikmatnya. Clitoris Pipit yang sebesar kacang itu kuhajar dengan kilatan kilatan lidahku, kuhisap, kuplintir-plintir dengan segala keberingasanku. Bagiku Mecky dan klitoris Pipit mungkin yang terindah dan terlezaat se-Asia tenggara.

Kali ini Pipit sudah seperti terbang menggelinjang, pantatnya mengeras bergoyang searah jarum jam padahal mukaku masih membenam diselangkangannya. Tak lama kemudian kedua paha Pipit mengempit kepalaku membiarkan mulutku tetap membenam di meckynya, menegang, melenguhkan suara nafasnya dan…

“Aauh.. Ahh.. Ahh.. Mas.. Pipit.. Mas.. Pipit.. Keluar.. Mas..” mendengar lenguhan itu semakin kupagut-pagut, kusedot-sedot meckynya, dan banjirlah si-rongga sempit Pipit itu. Iri sekali rasanya kalau aku tak sempat keluar orgasme, kuangkat mukaku, kupegang penisku, kuhujam ke vaginanya. Ternyata tak terlalu susah karena memang Pipit tidak perawan lagi. Aku tak perduli siapa yang mendahului aku, itu bukan satu hal penting. Yang penting saat ini aku yang sedang berhak penuh mereguk kenikmatan bersamanya. Lagipula aku memang orang yang tidak terlalu fanatik norma kesucian, bagiku lebih nikmat dengan tidak memikirkan hal-hal njelimet seperti itu.

Kembali ke “pertempuranku”, setengah dari penisku sudah masuk keliang vagina sempitnya, kutarik maju mundur pelan, pelan, cepet, pelan lagi, tanganku sambil meremas buah dada Pipit. Rupanya Pipit mengisyaratkan untuk lebih cepat memacu kocokan penis saktiku, akupun tanggap dan memenuhi keinginannya. Benar saja dengan “Ahh.. Uhh”-nya Pipit mempercepat proses penggoyangan aku kegelian. Geli enak tentunya. Semakin keras, semakin cepat, semakin dalam penisku menghujam.

Kira-kira 10 menit berlalu, aku tak tahan lagi setelah bertubi-tubi menusuk, menukik ke dalam sanggamanya disertai empotan dinding vagina bidadari calon TKW itu, aku setengah teriak berbarengan desahan Pipit yang semakin memacu, dan akhirnya detik-detik penyampaian puncak orgasme kami berdua datang. Aku dan Pipit menggelinjang, menegang, daan.. Aku orgasme menyemprotkan benda cair kental di dalam mecky Pipit. Sebaliknya Pipit juga demikian. Mengerang panjang sambil tangannya menjambak rambutku.. Tubuhku serasa runtuh rata dengan tanah setelah terbang ke angkasa kenikmatan. Kami berpelukan, mulutku berbisik dekat telinga Pipit.

“Kamu gila Pit.. Bikin aku kelojotan.. Nikmat sekali.. Kamu puas Pit?”

Pipit hanya mengangguk, “Mas Wahyu.., aku seperti di luar angkasa lho Mas.. Luar biasa benar kamu Mas..” bisiknya..

Sadar kami berada dirumah orang, kami segera mengenakan kembali pakaian kami, merapihkannya dan bersikap menenangkan walaupun keringat kami masih bercucuran. Aku meraih gelas dan meminumnya.

Kami menghabiskan waktu menunggu kakaknya Pipit datang dengan ngobrol dan bercanda. Sempat Pipit bercerita bahwa keperawanannya telah hilang setahun lalu oleh tetangganya sendiri yang sekarang sudah meninggal karena demam berdarah. Tapi tidak ada kenikmatan saat itu karena berupa perkosaan yang entah kenapa Pipit memilih untuk memendamnya saja.

Begitulah akhirnya kami sering bertemu dan menikmati hari-hari indah menjelang keberangkatan Pipit ke Malaysia. Kadang dirumahnya, saat Bu Murni kepasar, ataupun di kamarku karena memang bebas 24 jam tanpa pantauan dari sepupuku sekalipun.

Tak lama setelah keberangkatan Pipit aku pindah ke Jakarta. Khabar terakhir tentang Pipit aku dengar setahun yang lalu, bahwa Pipit sudah pulang kampung, bukan sendiri tapi dengan seorang anak kecil yang ditengarai sebagai hasil hubungan gelap dengan majikannya semasa bekerja di negeri Jiran itu. Sedang tentangku sendiri masih berpetualang dan terus berharap ada “Pipit-Pipit” lain yang nyasar ke pelukanku. Aku masih berjuang untuk hal itu hingga detik ini. Kasihan sekali gue..
E N D

Tags : cerita hot, cerita ngentot, artis bugil, video bokep, tante bugil, cerita sexs,cewek smu bugil,hp tante girang,info tante girang,telepon tante girang,video tante girang, mahasiswi hot, mahasiswi cantik, gadis mahasiswi, mahasiswi seksi, video bugil mahasiswi

Cerita Hot – Indahnya Malam Natal 02

Sambungan dari bagian 01

Lidahnya terus bermain-main di ujung kepala kemaluanku dan menggeser-geser belahan lubang kencing kemaluanku. Rasanya.. “Uuuff aakkhh..” desahku. “Gila banget! Kamu sudah konackhh ya.. Ginn..” erangku keenakan dan terasa geli kadang meriang (coba saja hal itu dengan pasangan anda pasti meriang itu badan). Gila juga Novi kalau sudah panas dia seperti orang di padang pasir. Habis semua kemaluanku dilumatnya, sementara kulihat dicelananya ada gumpalan cairan membasahi kain celana penutup belahan kemaluannya, seperti bulatan. Rupanya dia sudah banjir dari tadi atau bekas air mani Trisno? Penasaran aku tanya dia, “Kamuu tadi gituan yaa..?” tanyaku penasaran. “Emmhh.. emmhhff..” dia tidak menjawab hanya terus melumat batang kemaluanku lebih kuat lagi. Digigitnya kepala kemaluanku pelan dan gemas, “Akkhh.. gilaa kamuu..” kataku. Batang kemaluanku mengeras kuat seperti besi balok. Kubiarkan dia memuaskan hasratnya melumat habis kejantananku dari ujung sampai pangkalnya.

Momen ini kunikmati dan segera kubuka celana dalamnya, ternyata kemaluannya telah basah dan lembab. Saat kubelai belahannya masih terasa rapat, jadi mungkin dia belum sampai sejauh itu, pikirku. “Kamu di atas Nov..” kataku menarik badannya ke atas menduduki pinggangku. Perlahan dengan tangannya yang menggenggam batang kemaluanku mulai diarahkannya ke lubang kemaluannya. Kepala kemaluanku perlahan ditekan dengan bibir kemaluannya dan perlahan membelah bibir kemaluannya yang telah basah membuat lebih mudah kepala batang kemaluan itu menyusup belahannya. Terus Gina menekan ke bawah pinggulnya dan, “Akhh..” erang Novi. “Enaakk.. aduuhh pelan-pelan, enakk..” desahnya. “Uuff.. yaa enaakk..” desahku keenakan. Pelan-pelan batang kemaluanku makin lama makin tenggelam ke dalam liang kemaluannya. “Akkh.. masuukk.. ookkhh kontollu.. akkgg.. ennakk..” erang Gina terpejam. “Gilaa.. liang kemaluan kamuu.. masih rapat Ginn..” kataku sambil menghentakkan pinggulku ke atas dan menariknya ke bawah perlahan seperti slow motion berulang kali.

Setelah sepuluh kali dengan gerakan itu, terasa telah dengan bebas dan mantap terkendali kemaluanku menyodoknya. Lama kemudian gerakan batang kemaluanku makin mantap menyodok liang kemaluan Gina. Dengan sepenuh tenaga kugerakkan pinggulku naik turun tanpa henti sebanyak dua puluh kali membuat Novi berteriak sambil matanya terpejam histeris, “Aaakk.. akhh.. akkhh.. oohhkk.. aahh.. uuff.. aduhh.. giillaa.. aahh.. aadduuhh..” terengah Novi. Sangat bergairah dia dengan gerakanku membuatnya membalas gerakanku dengan hentakan kasar. Novi segera menghentakkan pinggulnya cepat kadang dia melakukan gerakan memutarkan pinggulnya sehingga terdengar bunyi “Brreeoott.. brreett.. brreeoott..” Rupanya telah banjir sekali di dalam liang kemaluannya tapi dinding kemaluannya tetap menjepit batang kemaluanku. “Luar biasa, gila kamuu hot bangett.. Ginn..” kataku. “Gue mauu yang kuatt.. yang kuatt nekannya ahhkk.. yang panjang kontolnyaa.. akkhh teruss ngentotin kontolnya.. akkgg..” erang Novi histeris. Kurasa Trisno juga mendengar erangan Novi karena pintu kamar tidak kututup ketika Novi masuk tapi biar saja dia terangsang, pikirku.

Selang lima belas menit ternyata gerakannya makin panas saja. Habis sudah kemaluanku dihisap ditarik di dalam liang kemaluannya. Sementara badannya telah keringatan, “Aahh.. aahhkk.. uuff.. ennaakk..” desah kami berdua. Kadang aku sengaja mengangkat pantatku tinggi-tinggi dan dia menekan kemaluannya makin ke bawah terus pinggulnya berputar-putar sehingga terdengar bunyi “Breet brett brrett..” Terasa panas di sekitar batang kemaluanku. Kuat juga aku telah dua puluh menit dengan gerakan yang membuat keringat membanjir tapi sampai saat ini belum terasa juga kalau air maniku akan keluar. Biasanya yaa dengan gerakan yang seperti biasa paling lama sepuluh menit keluar air maniku. Mungkin karena aku ingin membuktikan bahwa aku juga bisa kuat dari teman baikku. Yang jelas batang kemaluanku dalam keadan stabil menegang terus dan gerakanku tidak berubah. Kadang lembut dengan hentakan yang kuat dan kasar dengan gerakan memutar dan mengocokkan batang kemaluanku terasa seperti membor lubang kemaluannya dan ternyata Novi menyukai gerakan dan hentakan yang kulakukan.

“Giilaa.. kamu kuat sekali.. tumben tuh.. oohh gue puaass..” desah Novi keenakan dengan tersenyum puas.

“Ya sudah lama ya Nov, nggak beginii..” desahku.

Karena tidak keluar-keluar juga ini air mani, akhirnya kami kecapaian sendiri. Dalam keadaan terengah-engah keenakan kami berhenti sebentar. Akhirnya aku tanya ke dia,

“Bagaimana kalau kita istirahat dulu Nov..” ternyata dia mengangguk setuju dengan muka memerah dan keringat di dahinya menetes. Aku usul lagi,

“Kita keluar yukk.. Nov.. kasihan Trisno.. sendiri di luar,” kataku.

Tanpa bertanya lagi Novi lalu melepas segera batang kemaluanku dari lubang kemaluannya. Rupanya dia juga belum tuntas dan keluar dari kamar berjalan dengan telanjang bulat. Dia keluar sendiri, sementara aku menjadi bengong.

Ternyata Novi tanpa bertanya lagi keluar kamar dalam keadaan badan telanjang bulat. Gillaa! sudah konak dia rupanya. Beraninya dia telanjang bulat menemui Trisno di ruang depan. Aku tersentak, segera ke kamar mandi mencuci kemaluanku yang telah basah oleh karena air kenikmatan dari liang kemaluan Novi. Di kamar mandi aku berpikir ngapain Novi di luar bersama Trisno, tentunya Trisno terkejut dengan kehadiran Novi yang telanjang bulat di hadapannya. Setelah cukup lama di kamar mandi membersihkan diri sekitar kemaluanku. Perlahan aku keluar kamar dan berdiri di pintu. Kulihat sesuatu yang telah membuat aku terkejut. Gila! aku jadi terangsang sendiri melihatnya. Novi ternyata dalam posisi yang sangat seksi sekali. Mungkin Novi telah tinggi birahinya. Sepertinya telah terangsang penuh birahinya dan tanpa malu dan ragu lagi dia dalam posisi menungging. Dalam posisi menungging di atas kursi dalam keadaan telanjang bulat. Terlihat tubuh putih mulusnya dengan lekuk tubuhnya, bokongnya putih mulus dan pinggul yang cukup besar pinggangnya yang ramping. Bokongnya yang tinggi ke atas dan buah dadanya menjuntai keras membentuk bulatan dengan putingnya yang telah mengeras, rambutnya yang hitam dan panjang lurus sebagian tergerai kesampingnya, sebagian lagi menutupi pundaknya yang halus dengan bulu-bulu halus di sekitar pundaknya menambah seksi posisinya. Sementara tangan kiri Trisno mengusap dan membelai serta kadang meremas bongkahan pantat Novi yang sedang menungging itu. Tangan kanan itu meremas buah dada Novi dengan remasan perlahan dengan jemari menjepit puting Novi. Trisno telah menarik celananya sendiri berikut celana dalamnya ke bawah di antara lututnya.

Batang kemaluannya terlihat menegang keras dan besar dengan bulu-bulu kemaluan yang berwarna hitam. Sedangkan kepala kemaluannya berwarna merah dengan diameter ukuran botol Aqua 600 ml. Ukuran batangnya panjang 23 cm, diameter batangnya 6 cm. Terlihat kepala kemaluannya tengah dicium-cium oleh bibir Novi. Novi ternyata sedang asyik menciumi kepala batang kemaluan dan belahan air kencingnya. Dengan posisi menungging, dalam keadaan telanjang bulat, perlahan-lahan mulut itu menelan kepala dan batang kemaluan itu. Hampir tidak muat mulut Novi menelan kepala itu. Mulutnya harus membuka selebar-lebarnya dahulu baru dapat mengulum batang kemaluan Trisno. Perlahan dan tak lama kemudian terlihat kepala Novi naik turun ke atas ke bawah dan kadang lidahnya menjilati batang kemaluan Trisno yang besar. “Aahh Gooddhh..” desah Trisno terpejam keenakan. Sementara Novi hanya mengerang karena tangan Trisno terus memberi remasan di sekitar kemaluannya. Terlihat tangan kiri Trisno menyusup dari bawah badan Novi dan berhenti jemarinya ketika berada di belahan selangkangan paha Novi. Jarinya bergerak membelai belahan kemaluan Novi yang telah basah.

Setelah kurang lebih lima menit menyaksikan adegan yang mendebarkan jantung, perasaanku berdebar kencang karena terangsang. Aku benar tidak sabar melihat adengan itu. Kemaluanku mengeras kembali malah lebih keras dari yang tadi pada saat bersenggama di dalam kamar. Dalam keadaan telanjang bulat dengan batang kemaluan menegang aku menghampiri mereka. Kulihat mereka kaget, “Ooppss..” kata Trisno kaget. “Sorry gue nggak tahan..” kataku. Tanpa permisi lagi kuambil posisi di belakang bokong Novi yang polos dan dengan berjongkok di belakang Novi, mulutku langsung menjilati kemaluan Novi. Ternyata Trisno hanya tersentak sedikit tapi dia terus malah mengangkangkan kakinya lebih lebar sehingga belahan kewanitaan Novi itu lebih terkuak membuka, sehingga klitorisnya terlihat dan segera kujilati klitorisnya dan kumainkan lidahku di sekitar klitorisnya. “Aakkhh emhhff ahh mmhh aauuff.. ahh..” desah Novi dengan kepalanya yang makin cepat bergerak naik turun di selangkanganku. Sementara tangan keduanya telah meremas buah dada Novi.

Terus kumainkan belahan liang kemaluannya dan kadang lidahku menerobos masuk ke dalam belahannya terus mengkilik-kilik sekitar klitorisnya yang terlihat memerah. “EmmhHPp.. emmpphh.. ahh..” dia mengerang keenakan. Kurasakan dia menggerakan pinggulnya dengan irama dangdut, yaitu menggerakkan perlahan bokongnya serta meliuk-liukan badannya dan berkedut-kedut liang kemaluannya, “Emmff.. mmBHh..” kadang badan Novi di angkat ke atas dengan cara menekan buah dada Novi ke atas. Ketika itu bibir kami berdua saling berpagutan desahnya tidak tahan lagi dan terus tangannya mengarahkan kepala kemaluanku ke dalam lubang kemaluannya dan perlahan, “Ahhkk.. aah ahh.. oohh.. ennaakknyaa..” erang dan merintih dalam kenikmatan kemaluanku masuk perlahan. Tak lama batang kemaluanku dalam hitungan detik tenggelam sudah di dalam liang kemaluan Novi yang telah basah dan hangat dinding liang kemaluannya.

“Aahh.. aahh.. aahhkk.. dorong yang kerass.. ahk yaa.. aahkk dorong teruss.. yyaa.. ahkk tekan yang dalamm.. eennaakhh..” rintih Novi sambil terus mengikuti gerakan dorongan pinggulku yang menghentakkan batang kemaluanku seluruhnya ke dalam lubang kemaluannya.

“Bleeppss.. sleepss.. bleebss.. slleeppss bblleppss.. slleppss..”

“Aahh.. aahh aahh eenaaknya.. kamuu.. gilaa luaarr biasaa.. enakk ngentotin kamu Giinn.. akkhh..” erangku kenikmatan terasa hangat batang kemaluan.

Dengan posisi kuda-kuda yang sangat mantap kakiku terasa menapak bumi tidak bergeser dalam menggerakkan pinggulku maju mundur sehingga pusat tekanannya dapat kupusatkan kepada batang kemaluanku yang terus menggenjot atau menggelosor keluar masuk belahan liang kemaluannya. Dengan gerakan seperti menyalurkan tenaga dalam maka nafasku dari seputar perut kuatur semua gerakanku sehingga gerakan yang terjadi bukan melalui pikiran tapi telah digerakkan secara otomatis melalui sekitar pinggulku nafasku perlahan dalam satu kali tarikan nafas, aku dapat menghujamkan kemaluanku sebanyak tiga kali atau bisa sampai tujuh kali. Pada saat melepas nafasku, keluar gerakan kulakukan berputar sekitar pinggulku, sehingga otomatis batang kemaluanku melakukan gerakan berputar dua atau berkali-kali di dalam liang kemaluannya.

“Aahkk.. akhh.. gilaa.. gilaa.. akkhh.. akhh.. gilaa.. enakk.. enaakk.. ahh.. uuff.. adduhh.. enaknyaa.. aaookhh..” Novi merintih dan mengerang. Trisno melihat kepadaku dengan pandangan tidak percaya kalau aku dapat melakukan gerakan seperti itu yang membuat Novi kelojotan dan bergetar seluruh persendian badannya. Baru tahu dia, pikirku tersenyum kepadanya dan rupanya membuatnya menjadi terangsang. Kulihat matanya saat itu terbelalak ketika melihat batang kemaluanku keluar masuk teratur dengan nafas yang teratur juga. Batang dan kepala kemaluannya memerah dalam cengkeraman tangan Novi. Batangnya makin lama makin mengeras, karena Novi makin lama dia tidak dapat mengcengkeram diameter batang kemaluan itu. Novi makin mempercepat gerakan tangannya menarik dan melakukan gerakan memutar atau seperti memelintir batang itu. Ternyata Novi hanya tahan sepeluh menit di dalam menghadapi adukan batang kemaluanku yang mengamuk di dalam liang kemaluannya hingga dia melenguh dalam rintihan, “Aahh.. aakkhh.. oohh guee keluaarr..” badannya bergetar hebat dan matanya terpejam dan mulutnya terbuka menganga lebar.

Trisno terpaku memandang Novi yang ejakulasi dengan badan yang bergetar dan akhirnya Trisno rupanya tidak tahan melihat keadaan yang ada di hadapannya dan yang juga terjadi pada batang kemaluannya. Sehingga matanya membelalak dan lalu terpejam, “Aahhkk aahh.. ahhkk..” keluar air maninya di dalam genggaman tangan Novi. Air mani itu meleleh di jari-jari Novi. “Ha.. haa haa..” aku tersenyum penuh kemenangan. Kalah lama dia karena aku sendiri belum apa-apa saat ini. Setelah Novi mengelap tangannya dengan tissue basah, kutarik dia untuk gantian duduk di atas pangkuanku. Dengan posisi saling berhadapan kemaluanku menghujam kembali ke dalam liang kemaluannya dan gantian dia yang bekerja dengan gerakan memutarkan pinggulnya dan gerakan memaju-mundurkan bokongnya dan kadang kurasa liang kemaluannya berdenyut-denyut seperti menghisap batang kemaluanku. Rupanya dia ingin membuatku keluar juga air maniku. Setelah lebih kurang sepuluh menitan dia membuat batang kemaluanku kerja keras. Kulihat dia juga telah mau keluar lagi mengerang. Dia, “Aahhkk.. akhh ahh gue mauu keluaarr.. lagii.. samaa-samaa kamuu keluarr jugaa.. yaa..” erang Novi. “Aahh yyaa barengg Nov.. guee juga ampirr.. keluarr.. aahhkk aakkhh.. yaakk keluuaarr.. ahkk akhh..” erang Novi dan aku bersamaan, “Aahh.. giilaa.. eenaakk.. puass guee,” rintih Novi.

Keluar sudah dan tuntas birahi yang menghimpit dan menggunung di dada ini. Ada barangkali lima semprotan air maniku keluar membasahi seluruh rongga dalam liang kemaluannya sampai akhirnya kulepas batang ini. Puas sekali. Setelah berbenah diri, mencuci dan membersihkan bekas-bekas yang ada dan ternyata kami telah memakai ruangan itu selama tiga jam dan habis total cuma Rp. 375.000 untuk semua all in, siiplah.

TAMAT

Tags : cerita hot, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,blog cerita dewasa,kumpulan cerita dewasa,cerita seru, indonesia bugil, bugil indonesia, indonesia cewek bugil, model bugil exo, smp bugil, artis indonesia telanjang bugil

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.