Arsip untuk Juni, 2010|Halaman arsip bulanan

Cerita Hot – Sang Ibu Kepala Sekolah – 2

Dari bagian 1

“Ih.. ka.. ta.. nya sudah selesai” Dia melihatku agak terperanjat.

Raut mukanya tampak kelihatan merah. Dia agak tersipu setelah melihatku hanya memakai celana dalam. Aku bisa melihat dari ujung matanya dia melirik pada selangkanganku yang disitu tampak tercetak jelas penisku yang sudah tegang dari tadi seakan meronta keluar.

“Sana mandi di dalam masih ada airnya kok” Dia menyambung.

“Iya Bu Anis” jawabku sambil masuk ke bilik.

Perasaanku puas dapat memperlihatkan kejantananku pada wanita paruh baya ini. Tapi hasratku untuk bertindak lebih jauh semakin berkecamuk. Kebetulan sekali jam tangan Bu Anis tertinggal di dalam bilik bambu ini.

“Bu Anis jam tangan Ibu tertinggal nih.” Aku berkata kepadanya dari dalam bilik.

Aku menanti Bu Anis masuk ke dalam bilik dan penis celana dalamku semakin tidak bisa memuat penisku yang semakin membesar.

“Tolong ambikan Dod masak aku harus masuk kan kamu sudah telanjang to” Bu Anis berkata dari luar bilik.

“Ah Bu Anis nggak mau saya nggak masuk ndak saya ambilkan” Aku semakin berani menggodanya.

“Ih kamu kok masih nakal to dari dulu” Dia berkata.

“Pakai handuk dulu saya akan masuk” Dia menyambung.

Semakin terbuka kesempatan mencari kepuasan hasratku yang semakin menggebu-gebu ini. Aku lepas celan dalam ku hingga aku menjadi telanjang bulat tanpa sehelai benang menanti Bu Anis masuk kedalam bilik.

Bu Anis masuk kedalam bilik dan langsung setengah menjerit dia berkata, “Dod.. kamu.. nga.. nga.. pain”

Pandangannya terbelalak melihat aku telanjang apalagi melihat penisku mengacung bebas.

“Itu Bu Anis jamnya ambil sendiri ya” Aku mencoba santai.

Aku lihat mukanya yang merah padam namun matanya tadi melirik ke arah batang zakarku yang sudah tegang. Dia melangkah menuju kearah jam tangannya yang tertinggal. Pikiran mesumku semakin menjadi-jadi maka dengan cepat aku tutup pintu bilik.

Melihat perilaku itu Bu Anis kaget sambil menatapku dia berkata, “Dod apa-apaan ini”.

“Maaf Bu Anis.. ta.. pi.. Ibu sangat menarik bagi saya” aku semakin berani tanpa memikirkan akibatnya.

“Kamu.. sudah gila ya..” Dia berkata.

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya dia kembali menyahut.

“Aku sudah menduga kamu dari kejadian tadi malam, tapi kamu harus tahu bahwa Ibu sudah bersuami dan lagi Ibu kan sudah tua” Dia mencoba menyadarkan aku.

“Tapi wajah dan tubuh Ibu tidak mencerminkan usia Ibu” Aku beralasan.

“Apa sudah kau pikirkan benar-benar” Dia menyahut.

“Su.. dah Ibu” aku berkata tanpa pikir panjang.

“Da.. sar.. kamu” Dia berkata lagi.

Aku mendekat dan mencoba mencium bibirnya. Diluar dugaanku di tidak menghindar atau meronta namun sebaliknya dia menyambut ciuman hangatku dan membalasnya. Ciuman kami semakin dalam lidah kami saling bertautan tanganku bergerilya menjamah buah dadanya yang sekal dan meremas-remas bokongnya.

Tiba-tiba dia berusaha melepaskan melepaskan pelukan sambil berkata, “Sabar Dod.. jangan terlalu bernapsu”

Dia mendorongku aku terduduk di pinggiran bak semen. Dia masih berdiri sambil tangannya melepaskan satu persatu kancing bajunya. Perlahan dan pasti aku melihat dua bukit kembar yang masih tampah sekal.

Kini tinggal beliau hanya mengenakan kutang dan rok aku bangkit namun dia berkata, “Duduk dulu”.

Aku kembali duduk sambil melihat dia melepaskan roknya. Setelah roknya terlepas dia melepaskan kutang dan mencopot celana dalamnya. Dan kini terpampang didepanku tubuh sintal yang aku angan-angankan.

Aku bangkit lagi namun dia kembali berkata, “Dod.. aku suka dengan caramu menjeratku tapi ini harus menjadi rahasia kita saja”.

Dia berkata sambil meletakkan salah satu kakinya diatas bibir bak semen itu. Dadaku semakin berdegub kencang melihat pemandangan indah ini. Selangkangannya ditumbuhi rambut keriting yang hitam indah sekali.

“Tentu Bu Anis..” Aku menyahut.

Aku elus kakinya yang putih aku dekatkan wajahku dan mulai menciumi betisnya sambil menjilatinya merambat naik ke atas. Lidahku menari diatas pahanya dan diselingi dengan sedotan-sedotan kecil. Sampailah aku pada hutan yang rimbun itu dan lidahku mencoba menyibak mencari lobang yang paling dicari para lelaki.

Bilik bambu di tengah kebun menjadi saksi pergumulan nafsu dua anak manusia yang dipisahkan oleh status dan usia.

Aku jilati bibir vaginanya dengan penuh nafsu. Bu Anis mengerang menahan kenikmatan yang melanda dirinya. Aku tak peduli dengan keadaannya aku semakin gila mempermainkan lidahku didalam lobang vaginanya. Tangan Bu Anis memegang erat-erat kepalaku dan menekan ke selangkangannya solah-olah mempersilahkan diriku untuk menelan barang berharga miliknya.

“Dod.. ka.. mu.. ma.. sih.. nakal.. seper.. ti.. dulu.. ah” Dia berkata sambil merintih menahan nikmat.

Tampaknya lututnya tidak bisa lagi bertahan. Beliau menarik kepalaku agar aku menghentikan aktivitasku. Aku bangkit dan mendekatkan mukaku ke buah dadanya yang disitu tertempel buah anggur yang berwarna coklat muda tegang menantang. Aku sedoti seluruh permukaan payudaranya, aku hisap putingnya yang indah. Bu Anis tampak merem-melek menikmati permainanku ini. Tanganku meremas-remas bokong indahnya dan jariku mencari lobang duburnya, setelah ketemu aku mempermainkan jariku membuat tusukan-tusukan kecil dan mengobok-obok alat buang air besarnya. Bu Anis mengerang-erang dan aku merasakan lobang anusnya meyempit keras seolah ingin menjepit jariku yang tertanam di dalamnya.

Tampaknya Bu Anis ingin mengambil inisiatif, dia melepaskan pelukanku.

“Dod.. ber.. baring.. lah.. pa.. kai.. handuk.. mu.. untuk alas” Dia berkata kepadaku dengan nafas tersengal.

Bagai kerbau ditusuk hidungnya aku lakukan apa kehendaknya. Aku berbaring dengan beralaskan handukku. Bu Anis berdiri mengangkang diatasku dan perlahan jongkok tepat diatas kemaluanku yang mengacung keatas. Tangannya membimbing penisku untuk memasuki lobang kenikmatannya.

Dan setelah tepat dia menekan kebawah sehingga.. bles.. keinginanku terlaksana untuk menikmati kehangatan benda yang terdapat di selangkangan wanita paruh baya ini. Aku merasakan dinding kemaluannya keluar cairan yang mempermudah penisku tertanam. Kepala Bu Anis terdongak keatas dan kulihat bibir bawahnya. Tangannya yang satu berpegangan pada pinggiran bak semen. Aku hanya bisa merem melek menahan kenikmatan dari cengkeraman vaginanya.

Nafas Bu Anis semakin memburu seiring dengan gerakan erotis yang dilakukannya naik turun diselingi dengan perputaran pantatnya. Aku lihat buah dadanya terguncang-guncang. Pemandangan yang indah sekali. Wanita paruh baya ini ternyata pintar bermain sex. Aku merasakan sensansi yang luar biasa. Rambutnya yang masih basah itu menjadi acak-acakan. Aku mencoba untuk bertahan agar aku tidak kecolongan keluar terlebih dahulu.

Gerakan erotis Bu Anis semakin cepat.

“Dod.. uh.. Ibu.. ma.. u.. sam.. pai..” Dia berkata tersengal.

Aku tidak menjawabnya, gerakannya semakin tidak teratur dan akhirnya aku merasakan cengkeraman erat vaginanya, aku rasakan cairan yang mengalir memenuhi lobang vaginanya. Nafasnya tersengal dan beliau terkulai diatasku. Aku rasakan vaginanya yang masih berdenyut. Aku usap punggung mantan guruku dan aku belai rambutnya yang terurai basah. Tubuhnya yang hangat menempel erat.

“Bagai.. mana.. Bu Anis..” Aku berkata.

“Ka.. mu.. hebat..” Bu Anis menjawab.

Mendengar jawabannya aku merasa sebagai seorang lelaki yang perkasa yang dapat membahagiakan seorang wanita. Perlahan beliau turun dari atas tubuhku, beliau tahu bahwa aku belum mencapai puncak. Dia berbaring disampingku, dia tersenyum kearahku. Aku mendekatkan wajahku dan mencium mesra bibirnya. Setelah itu aku bangkit, aku lihat dia sudah mengangkangkan kaki tampaklah kemaluannya yang basah merekah menanti benda tumpul yang aku miliki untuk masuk kedalamnya.

Perlahan namun pasti aku arahkan benda kebanggaan para lelaki yang aku miliki. Dan.. bles.. masuklah penisku kedalam vaginanya, aku tekan dalam dalam sampai pangkal kemaluanku. Bibir Bu Anis tampak terbuka merasakan kenikmatan yang kedua kalinya, aku tarik perlahan kemudian kemudian aku gerakan naik turun pantatku.

Gerakanku semakin aku percepat sehingga menimbulkan suara-sura erotis. Aku kerahkan tenagaku untuk menyodok barang istimewa mantan guruku ini. Oh.. nikmat sekali seakan melayang. Aku rasakan darahku mengumpul di penisku seiring dengan gerakanku yang semakin aku percepat. Buah dadanya yang sekal indah putih terguncang-guncang karena sodokanku.

Akhirnya aku tidak dapat lagi menahan dan.. creet.. aku tancapkan dalam-dalam, aku semprotkan spermaku di dalam vaginanya. Melihat aku mencapai puncak Bu Anis melipat kakinya dan menekan pantatku erat-erat. Oh.. seakan aku terbang. Nikmat sekali.. aku rasakan sensasi yang indah sekali.

Serasa tulangku terlolosi lemas sekali aku terkulai diatas tubuhnya. Dia tersenyum manja kearahku.Aku cium mesra bibirnya. Kami berbaring berdampingan.

“Bu Anis.. Ibu masih hebat.. kapan.. kita.. lakukan lagi” Aku berkata kepadanya.

“Ih..”, Dia mencubit hidungku.

“Nakal.. kamu..”

Kami lantas berpakaian kembali karena kami takut nanti perbuatan kami diketahui oleh yang lain. Kami berjalan menuju kembali ke perkemahan kami.

*****

Begitulah cerita yang masih aku ingat ketika pertama kali aku bercinta dengan Bu Anis. Kami masih sering melakukannya setiap ada kesempatan. Kami kencan di penginapan-penginapan yang ada di kotaku bahkan pernah kami lakukan di kamar kost temanku.

Namun kini Bu Anis telah pergi mengikuti suaminya dinas kelain kota. Aku tenggelam dengan kerinduanku terhadap Bu Anis. Bagi pembaca wanita setengah baya yang kesepian aku menerima dengan tangan terbuka kedatangan anda. Kirimkam email pasti aku balas.

TAMAT

Tags : Cerita hot,cerita merangsang, bugil, artis telanjang, koleksi foto bugil, abg bugil,telanjang gadis indonesia, bunga citra lestari telanjang, telanjang bulat, cynthiara alona telanjang, tante girang telanjang, ayu anjani telanjang,gambar telanjang,smu bugil,gambar bugil,wanita bugil,telanjang,foto bugil,artis telanjang, agnes monica bugil

Cerita Hot – Sang Ibu Kepala Sekolah – 1

Sebelumnya perkenalkan diriku terlebih dahulu namaku Dodi. Ketika kisah ini terjadi aku berumur kira-kira 18 tahun, aku termasuk seorang yang aktif dalam berbagai kegiatan baik di kampus maupun diluar kampus termasuk di didalamnya kegiatan Pramuka yang memang sejak kecil aku suka. Nah karena kegiatan Pramuka inilah terjadilah kisah yang sampai saat ini masih aku kenang. Untuk wajah memang aku nggak jelek-jelek amat malah terbilang agak cakep itu kata temen-temenku. Dan terbukti ada beberapa cewek yang naksir kepadaku.

Hingga suatu saat aku mendapat surat yang berisi permintaan batuan untuk ikut menjadi salah satu pembina di SD Negeri di dekat rumahku. Murid-murid SD itu akan melaksanakan perkemahan sabtu minggu atau persami. Merasa mendapat kepercayaan dan hitung-hitung untuk tambahan uang saku maka dengan hati senang aku terima tawaran tersebut. Lagipula aku adalah salah satu alumnus dari SD tersebut.

Kami berangkat ke lokasi hari sabtu pagi, dan sampai ke lokasi kira-kira jam 10. Setelah sampai lokasi kami mendirikan tenda dan mempersiapkan segala sesuatu untuk keperluan kegiatan persami. Kegiatan demi kegiatan kami lakukan, dan ternyata anak anak terlihat suka padaku karena mungkin dimata mereka aku lucu dan menarik. Itu semua mungkin karena aku aktif di berbagai organisasi sehingga aku pandai mengatur suasana. Permasalahan yang ada adalah air. Lokasi kami berkemah agak jauh dari rumah penduduk. Air yang kami dapatkan berasal dari sungai yang mengalir di dekat lokasi. Dan untuk mandi kami harus kerumah penduduk yang ada disekitarnya walaupun agak jauh.

Hari semakin sore aku sedang bersantai di tenda pembina sambil mengawasi anak-anak terlihat dari kejauhan sebuah mobil kijang berhenti dan turun seorang wanita paruh baya. Setelah aku perhatikan betul ternyata yang datang adalah Bu Anis, beliau adalah kepala sekolah SD tersebut. Beliau dahulu adalah Ibu guruku, beliau orangnya supel namun kewibawaannya tetap terlihat. Yang aku herankan adalah beliau tetap terlihat cantik diusia yang aku taksir sudah kepala lima. Tubuhnya tetap terawat tidak seperti wanita pada umumnya pada usianya.

Para guru dan para pembina mendekat untuk menyalami termasuk diriku bergegas berjalan mendekatinya untuk menyalaminya.

Aku menyalaminya sambil basa-basi bertanya”Koq cuma sendirian Bu Anis?”

“Eh.. iya Dod bapaknya anak-anak sedang ada acara di Semarang” Jawab Bu Anis.

“Kamu tadi tidak menjemput Bu Anis” Sergah Pak Budi yang berjalan beriringan dengan kami.

“Kan sudah Bu Anis sudah bawa mobil Pak” Aku menjawab sekenanya.

Kami berjalan beringan menuju tenda para pembina. Setelah sampai di tenda Bu Anis tampak berbicara serius sambil duduk diatas tikar dengan Pak Budi. Tampaknya hal penting yang perlu dibicarakan mengenai acara persami itu. Aku menjadi agak tidak enak untuk berlama-lama di dekat mereka. Setelah minta ijin aku berjalan menjauh dari mereka.

Dalam benakku terlintas pengakuan bahwa Bu Anis memang masih menarik walau tampak sedikit keriput di leher namun itu malah membuat Bu Anis tampak lebih anggun. Rambutnya lurus sebahu hitam walau ada beberapa helai yang tampak sudah putih, kulitnya yang putih bersih tampak terawat. Anganku terus mengalir bentuk tubuhnya yang ramping namun padat berisi, bongkahan bokongnya tampak jelas tercetak dibalik rok spannya begitu juga buah dadanya indah. Perutnya memang agak besar namun kencang. Gila.. aku membayangkan orang yang dahulu pernah menjadi guruku. Ini tidak benar. Tapi aku aku tidak bisa memungkiri bahwa Bu Anis memang masih sintal.

Pada malam harinya diadakan acara api unggun yang kemudian dilanjutkan dengan acara jurit malam. Aku kebetulan mendapat untuk menjaga semua tenda. Kebetulan sekali sebab aku merasa lelah karena sehari sebelumnya ada kegiatan di kampus. Yang lebih kebetulan adalah ternyata Bu Anis dan 2 guru wanita yang lain nggak ikut acara jurit malam. Setelah mngecek semua tenda aku berjalan mendekat kearah Bu Anis yang sedang duduk sendiri di depan tenda pembina. Tampaknya kedua rekannya sudah terkantuk dan tidur didalam tenda.

“Belum ngantuk Bu?” aku memulai pembicaraan sambil duduk berhadapan dengannya.

“Belum Dod.. masa Ibu enak-enakan tidur padahal tadi kan Ibu datang terlambat” Bu Anis menjawab.

“Ya nggak apa-apa, Ibu kan sibuk juga” Aku menyahut.

“Gimana kuliahmu” Tanya Bu Anis.

“Lancar, Bu Anis belum akan pensiun” Aku memancing pertanyaan untuk mengetahui umur sebenarnya.

“Tinggal tiga tahun lagi Dod” Bu Anis menjawab.

Pasti wanita ini umurnya lebih dari 50 tahun, namun koq masih menggairahkan. Mata sekali-kali mencuri pandang menikmati keindahan tubuhnya.

Kami mengobrol agak lama sampai Bu Anis minta diantar ke sungai karena kebelet buang air kecil. Aku bergegas mengantarnya sampai pinggir sungai yang agak curam.

Sambil memberikan senter aku berkata, “Saya tunggu disini ya Bu Anis, ini senternya hati-hati jalannya agak licin”

“Iya.. eh jangan ngintip lho” Katanya sambil bercanda.

Ketika akan melangkah Bu Anis terpeleset otomatis tanganku menggapai tangannya tanganku yang satu menggapai badannya menahan agar beliau tidak jatuh. Namun tidak disangka tanganku mendarat tepat di salah satu gunung indahnya. Dia kaget aku juga kaget.

“Ma.. af Bu Anis, nggak sengaja” Aku berkata.

“Eh.. nggak apa-apa” Sahutnya juga agak salah tingkah.

Sambil berjalan meniti jalan setapak akhirnya dia mencari tempat yang agak tersembunyi. Namun karena sinar rembulan tampak samar-samar gerakan tubuhnya dalam melaksanakan kegiatannya. Tampak dia memelorotkan celana panjangnya kemudian CDnya lalu berjongkok. Aku bertanya dalam hati mimpi apa aku semalam sehingga aku memperoleh keuntungan dobel pertama memegang buah dada indah yang kedua bisa melihat bokong dan paha walaupun samar. Tak terasa celanaku semakin sempit karena senjata kesayanganku menggeliat. Tanganku merabanya dan membuat remasan-remasan kecil. Tak puas dengan itu aku mengeluarkan batang penisku sehingga dapat berdiri bebas mengacung. Aku yakin Bu Anis bakalan tidak akan melihat polahku.

Sepertinya Bu Anis sudah selesai buang air kecil ketika akan naik ke atas aku ulurkan tanganku dan menariknya. Aku minta Bu Anis berjalan didepan dengan alasan aku mengawal kalau ada apa-apa. Namun bukan karena itu aku bisa membuat bebas kelaminku terjulur keluar dan mengacung. Sensasi ini aku nikmati sampai ke tenda pembina. Kami lanjutkan ngobrol sampai akhirnya acara jurit malam selesai.

Malam sudah larut bahkan menjelang di hari kami pembina dan guru putra tidur terpisah dengan pembina dan guru wanita. Tetapi bayang-bayang kemolekan wanita paruh baya itu masih mengganggu pikiranku. Mata ini rasanya sulit terpejam. Kemaluanku rasanya juga nggak mau ditidurkan, tapi akhirnya aku sadar bahwa wanita yang menggelorakan hasrat jiwaku adalah mantan guruku yang tak mungkin aku akan melampiaskan kepada beliau. Akhirnya anganku kubawa tidur.

Sampai pada pagi harinya aku terbangun oleh suara riuh anak-anak yang sedang melakukan senam pagi. Aku cepat-cepat abngun dan cuci muka kemudian membantu pembina lainnya. Setelah acara pagi selesai aku beres-beres pekerjaan yang lain yang masih harus aku kerjakan. Sementara anak-anakpun juga sibuk mandi di sungai. Pembina dan guru antri mandi di rumah penduduk yang agak berjauhan. Tampak Bu Anis juga belum mandi karena beliau juga sibuk mengawasi anak-anak.

Sekitar jam 09.00 pagi semua tugas sudah selesai maka aku bergegas mengambil peralatan mandiku. Namun terdengar dari kejauhan suara yang memanggilku.

“Dodo kamu mau mandi ya”

Setelah aku toleh ternyata suara itu bersal dari Bu Anis.

Langsung saja ku jawab singkat, “Iya.. Bu Anis”

“Kalau begitu sama-sama dong.. Ibu juga belum mandi” Dia berkata.

Bagai disambar petir di siang bolong mendengar tawaran itu tanpa ragu-ragu aku mengiyakan. “Iya Bu Anis”

Karena kamar mandi-kamar mandi yang ada di sekitar rumah penduduk tampak sudah penuh maka aku menawarkan pada Bu Anis sebuah sumur yang ada di tengah kebun penduduk.

“Sebaiknya kita mandi disana saja Bu Anis, tempatnya juga tertutup koq” Aku berharap dia mau karena ada kesempatan untuk berdua.

“Yang benar lho Dod.. tapi ya nggak apa-apa memang tempat yang lain sudah penuh”.

Kami berjalam beriringan menuju ketempat pemandian di tengah kebun itu. Sementara yang lainnya persipan untuk kegiatan pagi itu yaitu jalan-jalan berkeliling.

Sampailah aku pada tempat yang kami tuju. Setelah aku meletakkan perlatan mandiku aku memulai menimba air untuk keperluan kami berdua. Setelah bak terisi penuh maka aku persilahkan beliau untuk mandi dahulu. Tempat mandinya terbuat dari anyaman bambu ada beberapa lobang yang tampak.

“Silahkan Bu Anis anda mandi lebih dahulu” Aku mempersilahkan.

“Kamu tunggu dulu ya.. awas lho jangan.. ngintip” Katanya sambil tersenyum.

“Nggak Bu Anis.. tapi kalau kepepet kan nggak apa-apa” Kataku juga bercanda.

“Nakal kamu” Dia berkata sambil berkata masuk ke kamar mandi.

Aku mengamati dari kejauhan dan melihat satu persatu pakaiannya dilepas dan digantungkan diatas anyaman bambu itu. Terakhir aku lihat kutang dan CDnya yang berwarna biru muda dan coklat muda tersampir. Hatiku semakin nggak karuan aku membayangkan pasti tubuh molek wanita yang pantas menjadi ibuku itu telanjang bebas, aku dengar suara air yang mengguyur tubuhnya. Aku mencari akal agar aku bisa menikmati keindahan tubuhnya.

Akhirnya aku mendekat dan berkata, “Bu Anis airnya kurang nggak”

Dari dalam bilik aku dengar suaranya,”Eh.. kamu koq ada disitu.. kurang sedikit Dod” katanya agak kaget.

Ya.. kesempatan datang akhirnya aku menimba untuknya lagi dan aku tuangkan ke saluran mengalirkan ke dalam bak yang ada di dalamnnya. Bu Anis masih melanjutkan mandinya maka aku putuskan untuk mandi diluar saja sambil berharap Bu Anis nanti selesai mandi dapat melihatku. Entah pikiran gila sudah memasuki pikiranku.

“Eh.. Dod kamu mandi diluar ya..” Terdengar dari dalam bilik.

“Iya Bu Anis kan bisa menyingkat waktu” Aku beralasan.

Sambil melihat sekeliling aku rasa aman maka aku lepaskan semua pakaianku kini tinggal celana dalamku. Sambil mengguyur badanku dari timba langsung aku sedikit mencari celah-celah agar aku dapat melihat keindahan tubuhnya. Benar dugaanku aku belum selesai madi dari dalam bilik sudah terdengar suaranya.

“Dod sudah selesai belum?” Dia bertanya.

“Sudah Bu Anis” Aku menjawab walau aku belum selesai mandi. Memang aku sengaja.

Dan lihat pintu bilik mulai bergerak terbuka. Darahku terasa mengalir semakin kencang menduga apa yang akan terjadi saat Bu Anis melihat aku hanya memakai celana dalam.

Ke bagian 2

Tags : Cerita hot,cerita ngentot, artis bugil, video bokep, tante bugil, cerita sexs,gadis telanjang bugil,gadis bugil abg,julia perez bugil,cewek montok bugil,dewi persik bugil,gadis bugil 3gp,bugil seksi,telanjang indonesia,situs bugil,poto telanjang,asia bugil,fhoto bugil,sma bugil

Cerita Hot – Mbak Elga Pengorbanan Seorang Ibu – 3

Dari Bagian 2

“Ouffss.. Lebbih cepat dong Ris.. Aahh..” desah Mbak Elga.

Tetapi aku tetap menggerakkan punggungku pelan-pelan, karena aku memang benar-benar ingin menikmati tiap detik bercinta dengan bidadari cantik ini.

“Oohh.. Please.. Yang cepat Riss.. Ahh.. Pleasee..” kata Mbak Elga terus merengek.

“Kenapa sih Mbak? Udah gatel banget ya..” godaku.

“Kamu nakal Ris.. Ohh.. Please..” desah Mbak Elga sambil mencubit pinggangku tetapi aku tidak mempedulikan permintaannya.

Tiba-tiba Mbak Elga membalikkan badan sehingga kini ia yang berada di atas. Lalu ia bangkit dan duduk di atas pahaku. Rupanya wanita cantik ini benar-benar sudah tidak tahan.

“Kamu nakal Ris..” katanya sambil mengarahkan memeknya ke arah penisku.

Digenggamnya penisku dengan tangannya, lalu dengan perlahan ia menurunku pinggulnya, dan tak lama kemudian penisku telah amblas ditelan bibir vaginanya. Dengan posisi agak membungkuk, tangannya berpegangan di atas dadaku untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ini adalah posisi favoritku, seperti halnya ketika aku bercinta dengan Mbak Yuni. Dengan posisi ini aku bisa melihat dengan leluasa ekspresi seorang wanita yang sedang dikuasai birahi dan sedang meniti tangga nafsu menuju puncak kenikmatan.

Mbak Elga menggerakkan pinggulnya naik turun sampai sebatas leher penisku dengan tempo yang cepat. Karena terlalu cepat, kadang-kadang penisku lepas dari jepitan memeknya, sehingga ia terpaksa memasukkanya lagi. Mulutnya mendesis-desis sambil menggigit bibir bawahnya dengan giginya yang putih bersih. Matanya yang sayu sesekali melirik ke arahku. Wajahnya dipenuhi keringat. Sungguh sexy! Sepasang buah dadanya yang indah dengan puting coklat kemerahan yang mengacung ke depan tergoncang-goncang menggemaskan, membuatku tak tahan untuk tidak menjamahnya. Kuremas lembut kedua buah dada yang kenyal itu, sambil sesekali kupelintir puting susunya.

“Ohh.. Aagghh.. Sshh.. Aahh.. Enak nggak Ris..” jeritnya nikmat.

“Ohh.. Iya Mbak.. Teruss..” kataku yang juga dilanda rasa nikmat.

Setelah kurang lebih 5 menit, kurasakan ada gejolak dalam diriku yang mencari jalan keluar. Kulihat Mbak Elga pun semakin dikuasai nafsu birahi. Keringat semakin mengucur deras dari seluruh tubuhnya. Ia menghentikan gerakan pinggulnya sambil merebahkan badannya di atas badanku.

“Aku nggak kuat lagi Ris.. Beri aku sekarang ya.. Please..” katanya penuh harap.

Aku lalu membalikkan badannya sehingga kembali ia kutindih dibawah. Aku mulai memompa memeknya dengan cepat karena akupun juga ingin segera mencapai puncak kenikmatan. Terdengar bunyi berkecipak dari gesekan penis dan memeknya, terdengar indah, menggairahkan.

“Aahh.. Ssthh.. Aarghh.. Come on baby.. Yess.. Lebih cepat..” rintihnya sambil mempercepat gerakan pinggulnya mengimbangi gerakan pinggulku.

Setelah berjuang beberapa lama, akhirnya Mbak Elga mendapatkan yang diinginkannya. Puas rasanya melihat Mbak Elga orgasme sambil menggelepar-gelepar seperti ikan kehabisan air. Ia menghentak-hentakkan kakinya seperti ingin melepaskan sesuatu yang seakan teramat berat. Ia menjerit-jerit dan mengerang-ngerang keras melampiaskan kepuasan yang baru saja diraihnya. Ia gigit pundakku dengan gemas. Pinggulnya terangkat ke atas, tangannya mencengkeram pantatku yang ditekannya ke arah bawah.

“Oh my god, oh my god.. Oggh.. Yess.. Aaww, sshh.. Aahh..” Mbak Elga mengerang kenikmatan dan menjerit panjang.

Kurasakan cairan orgasmenya menyiram batang penisku yang terjepit di dalamnya. Kuhentikan sejenak gerakan pinggulku untuk memberikan kesempatan ia menikmati hasil perjuangannya. Beberapa detik lamanya ia dilandai puncak birahi, kurasakan jepitan memeknya kuat seakan-akan meremas-remas penisku. Kini kurasakan badai kenikmatan yang melandanya mulai reda, kucumbu bibirnya yang masih mendesis-desis merasakan sisa-sisa kenikmatan.

Aku yang juga segera ingin mendapatkan seperti apa yang baru diraih Mbak Elga, apalagi ditambah jepitan liang vaginanya membuatku tak kuat lagi untuk menahannya. Aku mulai menggerakkan pinggulku lagi dengan perlahan lalu kupercepat dan tak lama kemuadian akupun tak kuasa lagi untuk menahannya.

“Aku mau keluar Mbak.. Ahh.. Sstt..” desahku.

“Keluarin di dalam aja Ris.. Ayo sayangg..” Katanya sambil menggoyangkan pinggulnya.

Akhirnya air maniku keluar dengan deras menyembur ke dalam rahimnya. Crat.. Crat.. Kurasakan beberapa kali dan liang vagina itupun semakin banjir, terasa hangat. Kurasakan penisku tegang hebat, serasa memenuhi lubang memek Mbak Elga. Nikmat luar biasa serasa terbang di angkasa.

Aku terbaring lemas di atas tubuh Mbak Elga. Aku cumbu bibirnya sambil menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja kami raih. Kubelai rambutnya sambil kuusap pipi halusnya yang penuh dengan keringat. Penisku terasa mengecil di dalam liang vaginanya. Kurasakan dua buah dadanya menekan lembut dadaku.

Beberapa saat kemudian aku turunku badanku dan tidur di samping badan wanita cantik ini. Mataku menerawang ke langit-langit kamar dan membayangkan kenikmatan yang seolah-olah aku tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Kulihat Mbak Elga juga menerawang, aku tak tahu apa yang ada dalam pikirannya.

“Thanks Mbak..” kataku sambil berusaha mengecup bibirnya. Tetapi ia menepis wajahku dengan tangannya sambil bangkit lalu duduk di tepi ranjang sambil menutupi tubuh indahnya dengan selimut. Ia menangis.

Aku tentu saja terkejut dan bertanya-tanya dalam hati, apakah dia menyesal dengan apa yang baru saja ia lakukan? Aku mendekat lalu duduk di sampingnya. Kututupi penisku yang terkulai lemah tak berdaya dengan bantal.

“Mbak Elga.. Ada apa? Mbak nyesel ya dengan apa yang kita lakukan?” tanyaku. Ia hanya menggelengkan kepala sambil masih menangis.

“Trus kenapa Mbak?”

“Aku nggak nyesel, aku tahu ini akan terjadi.. Sejak suamiku tugas di Jakarta, terus terang Ris.. Aku kesepian. Kalau hanya seminggu sekali kami berhubungan seks, itu kurang bagiku Ris.. Saat aku lagi pengen dan nggak ada pelampiasan, kepalaku pusing, aku jadi gampang uring-uringan, gampang marah. Aku kasihan sama si kembar. Aku jadi sering marah-marah sama mereka hanya karena hal-hal sepele” katanya berpanjang lebar sambil mengusap air matanya.

“Aku coba mencari pelampiasan dengan masturbasi, tapi itu nggak cukup, aku nggak puas. Muncul dalam benakku untuk mencari pelampiasan ke lelaki lain, tapi aku nggak tahu dengan siapa dan aku harus mencari kemana, aku nggak punya teman di sini. Pas aku ketemu dengan kamu dan makan di KFC, dalam hatiku aku ingin mengajakmu bercinta, karena aku tak tahu lagi dengan siapa aku akan melampiaskan nafsuku ini, tapi kata-kata itu terasa sulit keluar dari mulutku. Masih ada gejolak dalam batinku. Aku juga ragu, karena kulihat kamu orangnya sopan..” katanya lalu ia terdiam sejenak.

“Aku tahu ini akan terjadi.. Aku tak bisa menahannya lagi.. Sudahlah Ris, aku harus menjemput Si Kembar” katanya sambil berdiri dan berjalan ke arah kamar mandi dengan telanjang badan, aku melihatnya dari belakang, bokongnya yang indah seakan menantangku. Horny lagi aku jadinya. Ingin rasanya aku mendekapnya dari belakang lalu membopong tubuh indahnya ke kamar mandi dan menyetubuhinya lagi, tetapi suasana tidak memungkinkan.

Aku memakai pakaianku yang berserakan di lantai lalu aku menunggu Mbak Elga sambil menonton teve. Mimpi apa aku semalam, kok dapat rejeki kayak gini, rencana cuma PDKT dulu sama Mbak Elga, malah dapet apa yang aku incar. Tak lama kemudian ia datang dan duduk di sampingku. Wajah cantiknya terlihat segar, badannya pun harum.

“Nih buat kamu” kata Mbak Elga sambil menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan.

“Buat apa Mbak? Kataku.

“Ya buat yang tadi..”

“Nggak Mbak, aku nggak perlu itu”

“Ris.. Kamu harus mau menerima uang ini. Aku mau hubungan antara kita hanya sebatas nafsu saja. Aku nggak mau ada perasaan apa pun di antara kita. Bagiku cintaku tetap untuk keluarga. Aku melakukan ini, merendahkan diriku, semua ini demi anakku. Apapun dan bagaimanapun keluarga tetap nomor satu bagiku. Aku mau kamu melakukannya lagi sampai suamiku kembali ke Semarang nanti, setelah itu hubungan kita berhenti, kamu mengerti kan?” Katanya sambil menyelipkan uang tersebut ke saku bajuku.

“Iya Mbak, aku mengerti..” kataku.

Aku lalu pulang dan Mbak Elga pergi menjemput anaknya. Sejak saat itu hingga kini ia memintaku melayaninya paling tidak seminggu sekali, tetapi paling sering seminggu dua kali sampai suaminya kembali bertugas di Semarang yaitu pada awal Januari 2010. Ia cuma meminta satu syarat, jangan membuat cupang di tubuhnya, karena suaminya pasti akan curiga.

Agar tetangga tidak curiga dengan hubungan kami, aku bersembunyi di jok belakang mobilnya. Ia menjemputku sehabis ia mengantar anaknya ke sekolah dan membawaku keluar waktu ia mau menjemput anaknya. Kami janjian lewat SMS, tempat kami bertemu juga berpindah-pindah agar aman. Demi Mbak Elga aku bela-belain liburan semester tidak pulang. Aku bilang ke orang tua bahwa aku ikut semester pendek.

Moral dari cerita ini adalah setiap kebaikan pasti akan mendapat balasan yang setimpal, bahkan mungkin berlipat-lipat, seperti yang aku alami. Cuma membantu mengambil belanjaan yang jatuh, aku mendapat kesempatan bercinta dengan bidadari secantik Mbak Elga. Di samping itu aku juga dapat tambahan uang saku.

TAMAT

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,cewek,cewek cantik,cewek smacewek smu,cewek abg,cewek seksi,cewek bugil,cewek nakal,cewek telanjang bugil,foto cewek,cewek jepang

Cerita Hot – Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu – 2

Dari Bagian 1

Setelah beberapa saat kami berdua terdiam, aku menghampiri Mbak Elga dan duduk di sampingnya.

“Mbak.. Aku minta maaf atas kejadian tadi ya..?” Kataku.

“Kenapa tadi kamu menciumku Ris..?” Kata Mbak Elga.

“Maaf Mbak, saya tadi nggak sadar, itu terjadi begitu saja” kataku mencoba menghindar.

Mbak Elga hanya terdiam mendengar jawabanku sambil memandangku.

“Ris..” Katanya terpotong. Aku hanya diam sambil menunggu kelanjutan katanya.

“Ris.. Apa kamu ingin melanjutkan yang tadi?” tanya Mbak Elga.

Aku terkejut mendengar pertanyaannya. Tak tahu harus bilang apa, sejujurnya aku ingin menjawab bahwa aku memang sangat menginginkannya, tapi entah kenapa sepertinya kata-kata itu sulit keluar dari mulutku. Beberapa saat lamanya kami hanya berpandangan. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, kupandang tajam matanya dan kusimpulkan lewat bahasa matanya, bahwa dia juga menginginkanku seperti aku menginginkannya.

Tanpa menjawab pertanyaannya aku langsung melumat bibirnya kuat-kuat dan ia juga membalasnya dengan penuh nafsu dan terjadilah ciuman panas yang penuh dengan gairah. Tubuhnya kusandarkan di sofa. Beberapa saat lamanya kami saling melumat bibir dan beradu lidah, nafas kami mulai terengah-engah. Tanganku kuarahkan ke dadanya lalu kuremas buah dadanya dari balik T-shirtnya.

Badannya mulai menggelinjang terbakar gairah. Ia melepas ciumannya, lalu ia lepaskan T-shirt dan BH yang dikenakannya. Kulihat sepasang buah dada yang sangat indah berukuran sedang yang masih kencang, putih tetapi terlihat ada beberapa bekas cupang. Mungkin bekas cupang suaminya. Langsung aku serang buah dada itu. Dengan penuh nafsu aku jilati, kulumat, dan kuhisap kedua buah dadanya bergantian.

“Ooh.. Terus Ris.. Enak.. Sedot teruss..” kata Mbak Elga sambil menggelinjang kesana kemari.

Buah dada itu semakin keras dan kenyal sehingga membuatku semakin gemas untuk menikmatinya. Tanganku mengelus-elus pahanya yang mulus, lalu tanganku kuarahkan ke pangkal pahanya, kubuka resliting celananya, kutelusupkan tanganku ke arah memeknya yang ternyata telah basah, aku usap lembut memeknya di atas celana dalamnya.

“Ris.. Kita ke kamar aja yach..” kata Mbak Elga. Aku mengangguk kecil tanda setuju.

Aku lalu mengangkat tubuh Mbak Elga yang setengah telanjang menuju ke kamar yang ditunjukkannya. Kamar itu cukup luas dengan spring bed yang kelihatannya sangat nikmat untuk bercinta. Aku rebahkan tubuh wanita cantik ini di atas ranjang lalu aku copot celana yang masih menutupi sebagian tubuhnya dan kini ia telah benar-benar telanjang.

Aku terpana melihatnya. Bagiku Mbak Elga begitu sempurna sebagai seorang wanita. Badannya sexy, putih, mulus, sepasang buah dadanya juga indah, kakinya, pokoknya semuanya TOB deh. Apalagi posisinya sekarang yang sangat menantang. Tubuh mulusnya telentang tanpa ditutupi sehelai benang pun. Posisinya di ranjang agak mengangkang, memperlihatkan miliknya tanpa malu-malu. Buah dadanya yang indah dengan putingnya yang mengacung membuatku semakin tak kuasa untuk menahan nafsu. Kutelan ludahku yang terasa mengental.

“Aris.. Kok malah bengong, ayo sini..” Kata Mbak Elga dengan genit.

Aku tersadar dari lamunanku dan segera kupereteli pakaianku dan kini aku juga sudah telanjang. Kurasakan penisku sudah tegang dan berdenyut-denyut, terasa lebih keras dari biasanya. Segera aku naik ke atas ranjang, lalu aku berbaring di sebelah tubuhnya. Aku belai rambutnya, ia tersenyum manja. Kupandangi wajahnya, betapa cantik wanita ini, lalu aku kecup bibirnya. Mulutku mengecup dan mengulum bibir Mbak Elga yang hangat dan basah. Ia meladeni dengan segenap nafsu. Ia julurkan lidahnya, dengan segera aku kulum lidahnya, terasa nikmat sekali.

“Ohh.. Riss..” desahnya dengan mata yang sayu.

Kulihat bibir merahnya yang indah penuh dengan air liurku. Setelah puas melumat bibir merahnya aku ciumi lehernya lalu ke arah dadanya. Sesaat aku pandangi buah dada milik wanita cantik ini. Benda ini yang membuatku tak bisa melupakannya, dan kini tidak hanya bisa aku bayangkan, tetapi aku juga bisa menikmatinya. Kuremas dengan gemas kedua buah dadanya dengan kedua tanganku, terasa kenyal menggemaskan dan tidak membosankan untuk mempermainkannya. Ukurannya memang sedang, tetapi sangat indah bentuknya dan terlihat terawat.

“Oouuffss.. Ahh.. Auww..” erang Mbak Elga terus menerus.

Kini giliran mulutku yang akan melahap buah dada ini, aku kecup dan kusedot puting buah dada sebelah kanan dan kiri secara bergantian membuat Mbak Elga semakin terbakar gairahnya. Kuhisap kuat-kuat buah dadanya sambil sesekali kugigit puting susunya. Ia mendesah-desah erotis sambil meremas-remas rambutku, menikmati sensasi permainan mulutku di dadanya.

“Auww.. Oh my god.. Ohh.. Auww..”, Mbak Elga berteriak-teriak penuh kenikmatan, membuatku semakin bersemangat untuk terus menghisap dan mengulum buah dada wanita cantik ini.

Buah dadanya terus kukulum, kuhisap, kujilati, dan kupelintir berulang kali membuatnya semakin terbakar gairah. Sejenak aku lepaskan mulutku dari buah dadanya. Aku pandangi wajahnya yang terlihat sayu, wajahnya penuh dengan peluh, bibir merahnya bergetar.

Aku kembali melahap buah dadanya sambil mempermainkan memeknya. Jariku kumasukkan ke dalam lubang yang semakin licin karena cairan kewanitaannya yang mengalir deras. Itilnya kugesek-gesek hingga membuat tubuhnya menggelinjang tak karuan kesana kemari.

“Sayang.. Teruss.. Sedot terus Riss.. Aahh.. Auww.. Aahh..” erang Mbak Elga penuh rasa nikmat sambil sesekali menelan ludahnya yang mengental.

Kini kuarahkan kepalaku ke selangkangannya. Aku pandangi memek merah yang mengkilat karena basah oleh cairan kewanitaannya. Rumput hitam yang cukup tebal tampak tumbuh di sekitarnya, pemandangan yang sangat menakjubkan. Kudekatkan mulutku dan tercium aroma khas wanita yang membuatku semakin bernafsu. Aku mulai menjilati memek Mbak Elga, kujulurkan lidahku dalam-dalam sambil sesekali kusedot kuat-kuat. Setiap kali lidahku menggelitik clitorisnya, ia mengerang keras penuh nikmat. Pinggulnya bergerak tak karuan sehingga membuatku harus memegang pahanya agar aku tetap dapat menikmati memeknya. Cairannya semakin deras mengalir, membuatku mau tak mau menghisapnya, terasa hangat dan gurih.

“Oh my god.. Aahh.. Terus.. Enak Ris.. Aauuww.. Aaww..” Mbak Elga menjerit tak karuan, apalagi ketika lidahku menyentuh klitorisnya, ia menjerit keras sambil menggelinjang kuat.

Aku benar-benar puas melihatnya seperti ini. Sesekali aku lepasku mulutku dari jepitan selangkangannya untuk mengambil nafas sejenak, lalu aku lakukan lagi hal yang sama. Mbak Elga semakin keras mendesah, gerakan tubuhnya juga semakin tak terkendali. Dia akan segera mencapai puncak. Aku percepat sedotan, kecupan, jilatan mulut dan lidahku di memeknya.

“Ayo sayang.. Aku mo kel.. Luar nih.. Ahh.. Yang cepaat.. Oohh.. Sshh.. Oohh..” katanya sambil menjerit-jerit kenikmatan.

Aku percepat gerakan lidahku dan kemudian Mbak Elga orgasme, ia mengangkat pinggulnya, kedua pahanya mengapit kuat kepalaku, dan kurasakan cairan yang sangat banyak menyiram mulutku.

“Ohh.. Yess.. Oh my god.. Oohh.. Oohh..” Mbak Elga mendesah panjang ketika berhasil mencapai puncak kenikmatan.

Kuhisap cairan yang keluar. Badannya bergetar hebat beberapa saat. Kubiarkan sejenak mulutku tetap di selangkangan pahanya, membiarkan ia menikmati apa yang baru saja diraihnya. Kukecup lembut bibir vaginanya yang masih berdenyut-denyut mengeluarkan sisa-sisa cairan.

Aku lalu berbaring di sebelahnya sambil membelai rambutnya. Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, telihat kepuasan terpancar dari wajah cantiknya. Kukecup lembut bibirnya.

“Thanks Ris.. Aku puas banget..” kata Mbak Elga.

“Mau lagi kan Mbak? Kataku menggoda.

“Iya, tapi aku juga pengen menikmati punya kamu dulu” katanya sambil menggenggam penisku.

Aku mengerti apa yang diinginkannya, lalu telentang dan ia mengarahkan mulutnya ke arah penisku. Tangannya menggenggam batang penisku lalu dikecupnya ujung penisku, ia mulai menjilati kepala dan batang penisku sambil dikocok-kocok dengan tangan lembutnya. Dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya dan kurasakan ia begitu pintar memainkan lidahnya menggelitik penisku.

Disapunya semua permukaan penisku mulai dari bawah hingga ke atas, permainan lidahnya dengan lincah menggelitik setiap mili bagian penisku. Serasa aku melayang ke awang-awang, aku hanya bisa mendesah meresapi betapa pintarnya Mbak Elga memberikan aku kepuasan. Kalau ini diteruskan bisa jebol pertahananku. Setelah beberapa lama Mbak Elga puas menikmati penisku, ia melepaskan mulutnya.

“Ris.. Puasin aku sekarang yach..” katanya sambil telentang di sampingku.

Aku segera mengarahkan penisku ke arah memeknya. Kini penisku telah sampai di mulut vaginanya, kepala penisku menempel di bibir memeknya yang merah basah. Aku mulai melesakkan penisku ke dalam memeknya dengan perlahan sambil kunikmati nikmatnya gesekan batang penisku dengan dinding vaginanya. Penisku tidak mengalami kesulitan membelah memeknya yang sudah sangat basah. Kulihat Mbak Elga juga menikmati hal ini, matanya terpejam meresapi sensasi gesekan alat kelamin kami sambil menggigit-gigit sendiri bibirnya.

Aku mulai menggerakkan pinggulku pelan-pelan. Kurasakan gesekan penisku dengan memeknya begitu nikmat, mungkin karena lama aku tidak merasakannya. Mbak Elga seperti biasa, ia mendesah-desah, matanya merem melek kenikmatan. Ia gerakkan pinggulnya mengimbangi permainanku.

Ke Bagian 3

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,cewek bogelcewek jilbab,cari cewek,cewek bispak,gadis hot,gambar hot,gadis telanjang,cewek cewek,cewek cewek cantik,cewek 18,cewek blog,info cewek

Cerita Hot – Mbak Elga: Pengorbanan Seorang Ibu – 1

Perkenalkan namaku Aris, aku adalah penulis cerita berjudul “Hadiah Kedewasaan dari Mbak Yuni 1 dan 2″. Kali ini aku akan menceritakan pengalaman sexku yang lain. Kejadian ini terjadi pada Bulan Agustus 2009 yang lalu.

*****

Sebenarnya aku ingin kuliah di Yogya, karena kelihatannya kota tersebut sangat nyaman untuk kuliah, tetapi akhirnya aku kuliah di Semarang, tempat masa kecilku dulu, karena dalam UMPTN aku diterima di sebuah PTN di sana pada pilihan kedua.

Sejak percintaanku dengan Mbak Yuni, aku menjadi terobsesi untuk bercinta dengan wanita yang usianya sama dengan Mbak Yuni, terutama ibu-ibu muda yang sudah mempunyai anak, daripada wanita yang seusia atau lebih muda dariku. Jika sedang berjalan-jalan di Mal, aku selalu mencari pemandangan ibu-ibu muda yang sedang berjalan-jalan bersama anak dan suaminya. Ingin rasanya aku bercinta dengan mereka. Tetapi hasratku itu hanya sebatas angan semata karena aku tidak mempunyai keberanian untuk malakukannya dan bagaimana caranya, hingga saat-saat yang kuimpikan akhirnya datang juga. Kejadian ini terjadi pada waktu aku di semester 4.

Suatu siang sehabis ujian semesteran hari terakhir, aku jalan-jalan sendiri di kawasan Simpang Lima, aku ingin memuaskan hobiku memelototi ibu-ibu muda. Setelah cukup puas aku putuskan untuk pulang. Ketika sedang berjalan di area parkir mobil, aku melihat seorang wanita yang sedang sewot dengan kedua anaknya (kelihatannya kembar). Kulihat barang belanjaan yang dibawanya jatuh berserakan.

“Adik kok bandel banget sih.. Tuh kan belanjaan mama pada jatuh” kata wanita itu dengan nada kesal.

Spontan saja aku ingin membantu memunguti barang-barang yang jatuh.

“Iya.. Adik nggak boleh nakal, kasihan kan mamanya, barangnya jadi jatuh” kataku sambil memunguti barang yang jatuh. Wanita itu agak terkejut dengan kehadiranku.

“Eh.. Makasih, tuh kan apa kata Om, adik nggak boleh nakal” kata wanita itu sambil ikut membungkuk mengambil barang.

Aku langsung refleks melihat ke arah wanita itu yang tepat berada di depanku dan aku mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Belahan bajunya yang agak rendah membuat kedua buah dadanya terlihat jelas begitu indah. Sepasang buah dada yang putih mulus terlihat menggantung dan sedikit tergoncang-goncang. Aku leluasa memandangnya karena aku memakai topi. Sambil memunguti barang aku sesekali melirik ke arah pemandangan yang mengasyikkan itu yang membuatku terangsang.

“Ini Mbak” kataku sambil menyodorkan barang yang aku ambil.

“Terima kasih..” katanya sambil tersenyum.

Baru kusadari ternyata wanita ini sangat cantik. Wajahnya putih bersih, tubuhnya pun sexy menurutku. Lalu ia masuk ke dalam sedan Viosnya. Aku pun segera meninggalkan tempat itu menuju parkiran motor dan pulang ke kos. Sampai di kos, aku rebahkan badan di tempat tidur sambil membayangkan pemandangan indah yang baru saja aku lihat. Hal itu masih terbayang-bayang berhari-hari. Aku hanya bisa berkhayal bercinta dengannya sampai akhirnya aku lampiaskan dengan onani.

Karena sangat terobsesi untuk bercinta dengannya, aku berusaha untuk bertemu lagi dengannya. Berkali-kali aku datang ke tempat yang sama dengan harapan aku dapat bertemu dengannya, tetapi tidak pernah bertemu.

Suatu siang, kira-kira sebulan sejak aku bertemu dengannya, aku berjalan-jalan di Citraland Mal. Ketika aku sedang berjalan, aku berpapasan dengan seorang wanita, dan dalam hati aku kenal wanita itu. Aku balikkan badan, dan ia pun membalikkan badan. Aku ingat, wanita itu adalah wanita yang selama ini aku impikan siang dan malam.

“Hei.. Kamu yang waktu itu nolongin aku kan?”

“Iya Mbak” kataku dengan hati girang karena wanita itu juga masih ingat sama aku.

“Makasih lho sekali lagi”

“Ah nggak apa apa, saya kan cuma sekedar membantu” kataku sambil memperhatikan bahwa wanita ini memang TOP BGT. Ia memakai T-shirt agak ketat dipadu jeans membuat lekuk sexy tubuhnya terlihat.

“Cari apa, kok sendirian ” katanya.

“Ah enggak, lagi jalan-jalan aja” kataku.

“Bagaimana, kalo sebagai ucapan terima kasih, aku traktir kamu makan” katanya.

“Ah nggak usah Mbak” kataku basa-basi, padahal dalam hati aku memang ingin sekali berlama-lama dekat dengannya. Dia memaksa, akhirnya kami pun berjalan menuju KFC.

Alangkah bahagianya aku waktu itu. Kami pun berkenalan, namanya Mbak Elga yang berumur 30 tahunan. Ia tinggal di perumahan di kawasan Semarang Atas bersama sepasang anak lelaki kembarnya yang kini kelas 3 SD. Suaminya bekerja di Jakarta dan pulang ke Semarang seminggu sekali. Wah pasti kesepian wanita ini, kesempatan pikirku.

Ia tidak ikut ke Jakarta karena suaminya hanya sementara saja bertugas di Jakarta. Suaminya sebenarnya menempati Cabang Semarang, tetapi karena di Jakarta ada kekosongan dan perlu segera diisi, maka suaminya ditarik sementara ke Jakarta selama sekitar 7 bulan yaitu sampai akhir tahun 2004, dan baru berjalan 2 bulan. Karena itu ia tidak ikut karena anaknya telanjur bersekolah di Semarang. Ia dan suaminya berasal dari Jakarta. Ia siang itu akan menjemput anaknya dari sekolah. Setiap hari itulah pekerjaan rutinnya mengantar dan menjemput anak ke Sekolah.

Selama mengobrol, mataku tak pernah lepas memandang dadanya yang menyembul indah dari balik t-shirt ketatnya. Seperti biasa, aku memakai topi sehingga aku leluasa saja menikmati buah dadanya. Walaupun tertutup, aku bisa membayangkan betapa indah isi yang ada dibaliknya. Sepasang buah dada yang luar biasa indah, putih, mulus, ooh.. Ingin rasanya aku meremas, mengulum, menjilat dan memelintir puting susunya sehingga ia menggelinjang, mengerang dan mendesah kenikmatan. Di akhir obrolan ia memberikan alamat dan nomor HP-nya dan mengundangku untuk datang ke rumahnya.

Sejak pertemuan kedua dengan Mbak Elga, hasratku untuk dapat bercinta dengannya semakin menggebu. Siang malam aku memikirkan cara bagaimana agar ia mau bercinta denganku. Aku ragu karena aku lihat ia termasuk wanita yang baik dan sopan, tidak pernah dia memancing pembicaraan yang mengarah ke urusan ranjang. Mungkin ia hanya butuh teman ngobrol saja pikirku.

Karena keinginanku yang sangat besar, aku putuskan untuk pergi ke rumahnya seminggu kemudian. Aku berangkat dari kos dengan hati deg-degan. Dalam hatiku berkata, kalau tidak dicoba, bagaimana aku dapat yang aku inginkan. Targetku hari itu adalah PDKT dengan Mbak Elga. Hari itu Selasa sekitar pukul 09.00, karena ia pasti di rumah hanya sendirian.

Setelah sekitar 15 menit kemudian, aku sampai di gerbang perumahan yang cukup mewah. Aku dihentikan oleh Satpam. Setelah aku jelaskan bahwa aku akan bertamu ke rumah Mbak Elga, aku diijinkan masuk setelah meninggalkan KTP. Dalam hatiku berkata, pantas Mbak Elga berani tinggal sendiri, rupanya keamanan perumahan ini sangat ketat, hanya ada satu pintu masuk. Aku segera mencari rumah ke arah yang ditunjukkan Satpam. Tak lama kemudian aku tiba di depan rumah bernomor 19. Lalu aku pencet bel di pagar rumah, dan beberapa saat kemudian kulihat Mbak Elga keluar.

“Eh.. Kamu Ris..” kata Mbak Elga sambil membukakan pintu.

“Lagi ngapain Mbak. Ngganggu ya..? Kataku basa-basi.

“Ah enggak, biasa lagi sibuk sama urusan rumah tangga, namanya juga ibu rumah tangga.. Ayo masuk, motormu masukin juga”

Ia menggunakan T-shirt dan celana pendek sehingga sepasang kakinya yang indah terlihat. Rumahnya cukup besar walau hanya 1 lantai.

“Kamu santai aja di sini”

“Iya Mbak..”

“Kamu sengaja ke sini?”

“Enggak Mbak, tadi mau ke rumah teman tapi orangnya pergi, rumahnya deket sini ya daripada langsung pulang, aku mampir ke sini” kataku berbohong.

“Kamu di sini dulu yach? Aku mau nyelesein nyuci dulu, tinggal dikit lagi kok, kamu kalo mo minum ambil sendiri yach..?” Katanya sambil meninggalkanku menuju ke belakang.

Aku lalu nonton teve. Deg-degan juga nih dada. Dalam pikiranku cuma pengen ngentot tuh cewek, tapi gimana ya caranya? Kurang lebih 15 menit, Mbak Elga selesai, lalu ia duduk dan kami pun mengobrol ke sana kemari. Mataku sesekali melirik pahanya yang putih mulus seakan menantangku untuk menjamahnya. Penisku tegang, kepalaku pusing, kacau!

“Oh iya.. Mumpung ada kamu, bantuin aku menggeser meja itu ya” katanya sambil menunjuk meja yang berisi beragam hiasan kecil di atasnya.

“Digeser kemana Mbak?” tanyaku sambil melangkah menuju meja yang dimaksud.

“Agak kesini dikit Ris, biar tidak terlalu mepet dengan pintu”

Kami berdua lalu menggeser meja tersebut. Ketika sudah selesai dan aku berniat duduk lagi di sofa, kakiku tersandung kaki meja sehingga keseimbanganku hilang. Badanku langsung saja menubruk badan Mbak Elga dan menindihnya di atas sofa. Wajahku menempel di wajahnya, sesaat kami hanya berpandangan, desahan hangat nafasnya kurasakan menerpa wajahku.

Kutatap matanya, kulihat bibirnya merekah merah begitu indah sehingga membuatku tak tahan untuk tidak menikmati bibir indah tersebut. Aku nekad, kalau dia marah, paling-paling aku ditampar, dan itu pernah aku alami. Kukecup lembut bibirnya dan kurasakan ia menyambut kecupanku, tetapi itu hanya sesaat karena ia melepaskan bibirnya dan mendorong badanku. Akupun tersadar dan segera berdiri. Aku lalu berjalan ke arah jendela, aku menerawang keluar. Aku merasa bersalah, tetapi juga bahagia. Kulihat Mbak Elga masih termenung duduk di atas sofa. Kami berdua terdiam beberapa saat lamanya.

Ke Bagian 2

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,photo cewek,photo cewek cantik,cewek manis,cewek perawan,cewek ngentot,indo cewek,model cewek,memek cewek,cewek bokep,cewek cewek bugil,cewek bugil abg,cewek indonesia

Cerita Hot – Tukar Pasangan 02

Sambungan dari bagian 01

Terlihat Richard memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nina dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Richard yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya. Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan Richard dan badan Nina terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard pada bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina, terdengar Richard berkata perlahan, “Niinn.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang.., boleh?”, terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Richard, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan tekanan badan Richard. Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, langsung saja Nina berteriak kecil, “Aduuh.., pelan-pelan.., sakit nih”, terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yang mengangkang itu terlihat menggelinjang. Kepala penis Richard yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Richard, sehingga belahan kemaluan Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Richard itu. Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Richard.

Richard menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, “Maaf.., Nin.., saya sudah menyakitimu.., maaf yaa.., Niin!”.

“aagghh.., jangan teerrlalu diipaksakan.., yaahh.., saayaa meerasa.., aakan.., terbelah.., niih.., sakiitt.., jangan.., diiterusiinn”.

Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Richard.

“Niinn.., saya mau masukkan lagi.., yaa.., dan tolong katakan yaa.., kalau Nina masih merasa sakit”, sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban Nina, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nina, terlihat muka Nina meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.

Terdengar Richard bertanya lagi, “Niinn.., sakit.., yaa?”, Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Nina.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Richard telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Richard, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Richard menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, “Blees”, Richard menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nina, “Aduuh”, sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Richard di dalam kemaluannya. Richard mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nina sejenak, agar tidak menambah sakit Nina sambil bertanya lagi, “Niinn.., sakit.., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!”, Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, “aagghh.., kit!”, lalu Richard mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Richard bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nina dalam pelukannya.

Tak selang lama kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang, “Aaduuh.., oohh.., sshh.., sshh”, kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Richard, Nina mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. Selang sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Richard yang masih tetap berayun-ayun itu.

aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.

“Dik.., ayo aku mau kamu”, suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lillian masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku hendak menerobos masuk.

“Lill.., kok masih rapet yahh”. Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. “Aagghh”, mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

“Ahh.., ahh”, Lillian makin keras teriakannya.

“Ayo Dik.., terus”.

“Enakk.., eemm.., mm!”.

Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, “Uuhh..hh..” “Lill.., boleh di dalam.., yaah”, aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.

“mm..”.

Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.

“Nih.., Lill.., terima yaa”.

Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian. Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, “..aagghh.., hhm!”, saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami. Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih. “Ahh..”. Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping Lillian.

Kini kami menyaksikan bagaimana Richard sedang mempermainkan Nina, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Richard, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Richard terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Richard mengerjai Nina dengan sangat brutal dan kasar. Nina benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Richard menyakiti Nina, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nina ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nina atas apa yang dilakukan oleh Richard terhadapnya.

Richard mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nina berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Nina ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nina sambil memegang belakang kepala Nina, dia membantu kepala Nina bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Nina. Kelihatan Nina telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Richard, hal ini dilakukan Richard kurang lebih 5 menit lamanya.

Richard kemudian berdiri dan mengangkat Nina, sambil berdiri Richard memeluk badan Nina erat-erat. Kelihatan tubuh Nina terkulai lemas dalam pelukan Richard yang ketat itu. Tubuh Nina digendong sambil kedua kaki Nina melingkar pada perut Richard dan langsung Richard memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Nina. Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nina terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Richard menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, “aagghh!”, Nina terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Richard. Kaki Nina terlihat merangkul pinggang Richard, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Richard. Richard berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nina. Pantat Nina terlihat merekah dan tiba-tiba Richard memasukkan jarinya ke lubang pantat Nina. “Ooohh!”. Mendapat serangan yang demikian serunya dari Richard, badan Nina terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Richard. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

Ketika Richard merasa capai, Nina diturunkan dan Richard duduk pada sofa. Nina diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nina terkangkang di samping paha Richard dan Richard memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina dari bawah. Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Richard memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Nina yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Richard menyentuh paha Nina. Kedua tangan Richard memegang pinggang Nina dan membantu Nina memompa penis Richard secara teratur, setiap kali penis Richard masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Richard. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.

Kemudian Richard mendorong Nina tertelungkup pada sofa dengan pantat Nina agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Richard akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling disukai oleh Nina. Dari belakang pantat Nina, Richard menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nina dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nina dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Nina. Jari jempol tangan kiri Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nina setengah berteriak, “aagghh!”, badannya meliuk-liuk mendapat serangan Richard yang dahsyat itu. Badan Nina dicoba ditarik ke depan, tapi Richard tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nina dan mengikuti arah badan Nina bergerak.

Nina benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan, “Ooohhmm.., aaduhh!”. Richard mencapai payudara Nina dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan Nina bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, “Aahh.., aahh.., sshh.., sshh!”. Nina mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Richard mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nina, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Nina dari belakang. Sementara badan Nina bergetar-getar dalam orgasmenya, Richard sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Nina ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nina sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Nina agak tenang, Richard mencabut penisnya dan menjilat vagina Nina dari belakang. Vagina Nina dibersihkan oleh lidah Richard. Kemudian badan Nina dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Richard memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nina ikut aktif membantu memasukkan penis Richard ke vaginanya. Kaki Nina diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Richard. Richard terus menerus memompa vagina Nina. Badan Nina yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Richard, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Richard. Kadang-kadang terlihat tangan Nina meraba dan meremas pantat Richard, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Richard. Gerakan pantat Richard bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nina, tiba-tiba, “Ooohh.., oohh!”, dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak, Richard menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nina ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nina, pantat Richard terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nina, sambil kedua tangannya mendekap badan Nina erat-erat. Dari mulut Nina terdengar suara keluhan, “Sssh.., sshh.., hhmm.., hhmm!”, menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Richard kemudian merebahkan diri di atas badan Nina yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nina. Nina melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat. Aku tidak bisa melihat ekspresi Richard karena terhalang olah tubuh Nina. Yang jelas dari sela-sela selangkangan Nina mengalir cairan mani. Kemudian Ninapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Richard dengan mulutnya, itu membuat Richard mengelinjang keenakan. Malam itu kami pulang menjelang subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.

TAMAT

Tags : Cerita hot,cerita 18sx, cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis cantik, telanjang gadis indonesia,gadis telanjang,foto telanjang,artis bugil,cewek telanjang,indo bugil,cewek bugil,gambar telanjang,smu bugil,gambar bugil,wanita bugil

Cerita Hot – Tukar Pasangan 01

Nama saya Dikky, saya berumur 28 tahun, baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Richard Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain golf. Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang advertising. Menurut cerita-cerita teman-teman istri Richard, yang berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood. Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Richard, hanya melihat fotonya yang terletak di meja kerja Richard. Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga Nina istri saya, yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Richard sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Suatu hari Richard mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.

“Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam”.

“Lho, ada acara apa boss?”, kataku sok akrab.

“Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu”.

“Okelah!”, kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi.

“Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?”.

“Tau, katanya sih, ada proyek apa.., yang mau didiskusikan”.

“Ooo.., gitu ya”, sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so.., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.

“Oh Dikky dan Nina yah?, silakan.., masuk.., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard”.

Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.

“Hallo Mam.., kenalin, ini Nina istriku”.

Setelah Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Richard mengajakku ke teras balkon apartemennya.

“Gini lho Dik.., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini.., ini.., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu”.

“Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!”.

Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.

Senyum Richard segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.

“Eh Dik.., gimana Lillian menurut penilaian kamu?”, sambil bisik-bisik.

“Ya.., amat cantik, seperti bintang film”, kataku dengan polos.

“Seksi nggak?”.

“Lha.., ya.., jelas dong”.

“Umpama.., ini umpama saja loo.., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?”.

Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, “Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti.., udah deh pokoknya kalau kau setuju.., selanjutnya serahkan pada saya.., aman kok!”.

Membayangkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nina dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Richard telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi, “Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo making love style-nya gimana sih?”.

Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, “Dia tidak suka style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!”.

“Wow.., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ.., itu membuat saya sangat terangsang!”, kata Richard.

“Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job” lanjutnya.

Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.

Kemudian lanjut Richard meyakinkanku, “Oke deh.., enjoy aja nanti, biar aku yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks.., jadi setuju aja”.

“Nanti minuman Nina aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani.., Oke.., yaa!”, saya agak terkejut juga, apakah Richard akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak rela aku. Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat-cepat menambahkan, “Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja”, kemudian dia menjelaskan selanjutnya, “Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nina di sampingku”.

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Richard. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar. Melihat tanda-tanda itu, Richard mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nina, “Nin.., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!”, dan tampa menunggu jawaban Nina, Richard segera berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah. Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku. “Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok”. Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Richard mulai bergerilya di pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap halus. Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut. Terlihat tindakan Richard semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga kancing terakhir. BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, “Apakah Nina telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nina pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Richard?”. Nina tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Richard dikulitnya dan ciuman nafsu Richardpun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Richard yang sedang duduk di sampingku. Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil. Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu, “aahh.., aaghh.., aagghh”, tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Richard telah meningkatkan aksinya terhadap Nina, terlihat Nina telah dibuat polos oleh Richard dan terbaring lunglai di sofa. Badan Nina yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Richard. Kemudian Richard menarik Nina berdiri, dengan Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Nina, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka, menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Richard terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Richard berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Richard meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nina yang bersandar lemas pada badan Richard, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri. Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow.., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain. Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan dengan suara keras, ” Ooohh.., oohh.., sshh.., sshh”. Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, “Oooh.., aagghh!”, diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha Nina yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nina yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yang mungil itu. Terlihat badan Nina menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Richard dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus menggerinjal-gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan, “Ahh.., yaa.., yaa.., jilatin.., Ummhh”. Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot penisku. “Aahh.., Dik.., akuu.., aakkuu.., oohh.., hh!”, dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Richard. Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.

Bersambung ke bagian 02

Tags : Cerita hot,cerita 18sx, cerita merangsang, bugil, 17 tahun keatas,indocerita 17 tahun,cerita seru 17 tahun, telanjang,bugil,artis,gadis,cerita,cerita sex,cerita seks,cerita sexs

Cerita Hot – Sepi Sendiri

Sambil melemparkan kertas yang sudah lecek itu ke lantai, Fani menghenyakkan tubuhnya dengan kesal ke kasur. Matanya menerawang, wajahnya tampak galau. Sudah 2 bulan berlalu sejak Ema pindah ke Surabaya mengikuti orang tuanya yang dipindah tugas ke sana. Fani, sang siswa kelas 2 SMP berwajah cantik, berambut hitam panjang dan lurus, dengan tinggi 162 cm dan berat 48 kg, seorang anak kecil yang baru memasuki masa puber dan baru mulai menjelajahi seksualitas tubuhnya, merindukan kekasihnya, Ema, sang adik kelas yang berwajah cantik berambut cepak seperti lelaki. Fani merindukan kasih sayang dan kehangatan tubuhnya, serta merindukan sentuhan lembutnya. Namun surat dari Ema yang baru diterimanya siang itu seakan tak menunjukkan Ema juga merindukan dirinya. Segalanya baik-baik saja dan menyenangkan bagi Ema. Kesibukan pindahan dan mengurus sekolah baru dan segala tetek bengek lain membuat Ema tak sempat menulis surat lebih dini. Besok hari pertama liburan sekolah, membuat Fani merasa semakin kesepian dan sendirian. Air mata mulai mengambang di pelupuk mata Fani. Ia menggigit bibir menguatkan hati dan memeluk guling, berusaha melupakan kegalauan di hatinya. Fani jatuh tertidur dengan gelisah.

Esok paginya Fani keluar kamar dalam keadaan yang lebih tenang. Fani turun mendapatkan rumah sepi, hanya Iroh sendirian sedang mengepel lantai. Pembantu rumah tangga keluarga Fani ini baru berusia 22 tahun, belum menikah, namun tak seperti pembantu idaman para lelaki nakal yang umumnya seksi dan cantik. Walau berdada montok, Iroh bertubuh agak gemuk, berkulit hitam dan sama sekali tidak cantik.

“Mbak Iroh, Mama ke mana?”

“Tadi pergi pagi-pagi banget, Neng. Katanya ke rumah Bu Anwar,” jawab Iroh.

Setiap ke rumah Bu Anwar pasti Mama pulangnya baru sore banget, adiknya dibawa, berarti aku akan semakin kesepian dan sendirian seharian ini, pikir Fani. Ia pergi ke ruang makan, meninggalkan Iroh melanjutkan tugasnya, duduk dengan pasrah di meja makan, meminum segelas susu. Tak bersemangat, Fani memutuskan untuk pergi mandi, mungkin akan membangkitkan semangatnya.

Fani bermaksud mengatur keran air panas dan air dingin agar kehangatan air sesuai dengan yang ia inginkan. Namun Fani tak memperhatikan bahwa posisi pengatur air sedang ada di kiri, hingga saat membuka keran, air dingin tak mengucur dari keran ke dalam bathtub, melainkan langsung mengucur dengan deras dari shower di atas kepalanya, membasahi Fani yang belum buka pakaian. Dengan terkejut, Fani kontan menutup keran kembali. Fani terpana menatap dasternya yang basah cukup banyak dan melekat di pahanya. Namun kejadian ini memancing pikiran nakal dalam benaknya. Ia tersenyum nakal.

Kali ini Fani memindahkan posisi pengatur air lebih dahulu, lalu mulai mengatur kedua keran hingga puas dengan kehangatan air yang mengucur dari keran. Lalu, tanpa membuka dasternya, Fani memindahkan posisi pengatur air hingga air hangat mengucur dari shower, membasahi seluruh tubuhnya sekaligus seluruh pakaiannya. Fani berdiri di bawah kucuran air, meraba-raba tubuhnya dari balik dasternya yang telah basah kuyup dan melekat di tubuhnya. Ia sabuni tubuh yang masih dibalut daster basah itu dengan sabun cair hingga berbusa melimpah. Fani terkikik geli melihat pemandangan ini. Kenakalan ini membangkitkan semangatnya kembali, membuatnya berani. Sendirian tak berarti tak bisa menikmati suasana, pikirnya. Gesekan tangannya tiba di selangkangannya dan Fani pun menyelipkan tangannya ke balik daster basahnya dan menyabuni selangkangannya yang masih terbalut celana dalam.

“Mmmhh..” Pikiran nakal dan sentuhan pada bagian peka di tubuhnya mulai membangkitkan birahi Fani. Ia melanjutkan sentuhan-sentuhan lembutnya pada selangkangannya, lalu mulai menyelipkan sebelah jarinya ke dalam celana dalamnya, menyentuh bibir vaginanya yang telah basah kuyup, selain oleh air hangat dari shower, mungkin oleh lendir gairahnya juga.

“Mmmhh..” Fani kembali mendesah merasakan setruman rangsangan hangat dan lembut yang disebabkan oleh sentuhan jarinya sendiri itu. Pikirannya semakin nakal dan melayang ke khayalan sensual yang telah lama tertanam dalam benaknya, namun tak pernah benar-benar ia khayalkan. “Mmmhh..” Dengan mata terpejam, jarinya kembali bergerak memberi gesekan lembut pada bibir vaginanya, lagi, lagi, lagi, dan “CLACK!” Tersentak dari khayalannya, Fani membuka mata mendapatkan Iroh di pintu kamar mandi dengan mata terbeliak memandangnya.

“Ehh, ma’ap, Neng! Kok Neng Fani mandi pintunya nggak dikunci?”

Fani sudah tak ingat bahwa ia lupa mengunci pintu karena benaknya terlalu disibukkan dengan khayalan nakalnya untuk mandi tanpa melepas pakaian.

“Lagian kok Neng Fani mandi masih pakai daster sih?” tanya Iroh lagi sambil matanya menyapu seluruh tubuh Fani, dan terhenti dengan terkejut pada tangan Fani yang terselip ke balik dasternya, terjepit selangkangannya.

“Ma’ap, Neng.. ma’ap..” kata Iroh terbata-bata sambil beranjak keluar dan menarik pintu kamar mandi.

“Mbak!” sentak Fani.

Iroh terhenti dalam keadaan pintu setengah tertutup.

“Masuk, Mbak!” kata Fani.

Iroh tak bergerak.

“Sini!” sentak Fani lagi.

Dengan ragu, Iroh pun masuk kembali ke kamar mandi. Fani sendiri baru menyadari bahwa tangannya masih terjepit di selangkangannya, namun tatapan Iroh pada tubuhnya yang terbalut daster basah melekat, penuh busa sabun, dengan tangan di selangkangan, tatapan Iroh pada kenakalannya, tak membuat Fani merasa malu atau takut, sebaliknya hal itu semakin membangkitkan birahi dalam dirinya. Rasa tertangkap basah sedang berbuat nakal membuat dirinya merasa jalang. Fani sangat menyukai perasaan itu dan ia sangat terangsang karenanya. Fani melepas tangannya dari selangkangannya dan menatap Iroh yang tertunduk tak berani menatap majikan mudanya ini.

“Mbak Iroh tutup pintunya dulu, terus duduk di kloset,” kata Fani memerintahkan, kali ini dengan lembut dan tak menyentak. Iroh dengan bingung menjalankan perintah majikannya. Ia duduk di kloset duduk yang tertutup itu, namun tetap menunduk tak berani memandang Fani. “Santai aja, Mbak,” kata Fani lagi dengan lembut, “Mbak lihat ke sini dong,” lanjut Fani dengan nada memohon namun terbersit sedikit nada nakal pada suaranya. Iroh ragu dan tak langsung berani menatap hingga Fani melanjutkan dengan manja, “Mbaak.. ayo dong.. Nggak papa kok.”

Iroh akhirnya berani mengangkat kepala mendapatkan Fani tersenyum nakal ke arahnya, lalu menarik dasternya yang telah basah kuyup melekat pada tubuhnya itu secara perlahan dan menggoda. Masih terus terpercik air hangat dari shower, Fani bahkan menggoyang-goyangkan pantatnya perlahan dengan nakal sementara dasternya semakin tertarik ke atas, menampilkan celana dalam yang sama basahnya. Iroh menelan ludah antara canggung dan bingung menyaksikan strip show nakal majikan belianya yang cantik ini. Akhirnya seluruh daster terlepas dan Fani menyabetkan daster basah itu ke arah Iroh sehingga air menciprat deras pada sang pembantu.

“Ah!” pekik Iroh terkejut.

“Neng Fani nakal! Iroh basah nih!” sentak Iroh walaupun tak bernada marah, bahkan ia terkikik geli setelah itu.

Fani tersenyum menyadari Iroh sudah semakin rileks menghadapinya, dan kata-kata “nakal” dari mulut sang pembantu membuat darahnya berdesir dan semakin membangkitkan gairahnya.

Fani menjatuhkan daster ke lantai dan mini set di dada mungilnya mulai dilepas dan segera menyusul sang daster di lantai. Di bawah percikan shower, Fani yang kini tinggal memakai celana dalam mulai meraba-raba buah dada dan puting mungilnya dengan lembut. Kepalanya terdongak ke atas dan bibir tergigit merasakan birahi yang mulai semakin merebak dalam tubuhnya. Mendadak Fani menengok dan menatap Iroh yang tampak menyukai pertunjukan sensual di depannya. Sepenuhnya menyadari ada yang menyaksikan kenakalannya membuat rangsangan dalam diri Fani semakin meledak-ledak. Dengan gerak semakin menggoda, Fani mengangkat kedua tangan ke kepala, mempertontonkan ketiaknya yang putih mulus tanpa bulu, sambil menggoyang-goyang pantat dan dadanya dengan lembut, perlahan dan sensual, di bawah kucuran deras air hangat yang menetes-netes dari tubuhnya. Fani lalu menyibak rambutnya yang panjang hitam dan basah itu hingga tersampir di depan dadanya. Ia menatap mata Iroh lalu menggerakkan bibirnya memberi kecupan jarak jauh sampai berbunyi, “Cup!” Iroh hanya bisa tersenyum kecut melihat ini.

Fani berbalik lalu mulai melorotkan celana dalamnya, juga secara perlahan dengan gerakan pantat yang semakin lama semakin menyembul keluar itu, menggoda Iroh yang menelan ludah menyaksikannya. Fani menungging dan melepas celana dalam dari pergelangan kakinya, namun mempertahankan posisi itu beberapa saat sambil menggoyang pantat mulusnya dengan nakal dan menggoda. Fani kembali berbalik menghadap Iroh, lalu ia melempar celana dalamnya secara asal hingga menceplok keras di cermin, membasahi cermin yang berkabut oleh hawa panas dari air shower, lalu perlahan-lahan celana dalam basah sang gadis nakal merosot hingga mendarat di wastafel. Fani mengangkat sebelah kakinya ke pinggir bathtub sehingga pahanya yang kini mengangkang lebar itu mempertontonkan vaginanya yang telah merekah penuh birahi dan basah kuyup oleh guyuran air hangat dan lelehan lendir gairah. Tidak membuang waktu, Fani langsung mendaratkan jarinya menggesek-gesek vagina mudanya yang berwarna merah muda itu dari bawah ke atas secara perlahan dan menggoda, membuat Iroh menggigit bibir mengkhayalkan kenikmatan nakal yang kini dirasakan sang majikan belia.

“Mmm.. mm.. mm.. oohh..” desah Fani mulai terdengar di sela nafasnya yang tersengal-sengal menahan gairah selagi jarinya menggesek-gesek vaginanya. Gesekan jari Fani berhenti di ujung atas vaginanya dan kini ia mempermainkan klitorisnya yang telah mengacung keras penuh birahi itu dengan ujung jarinya, sementara sebelah tangannya naik kembali meraba-raba puting mungilnya. “Ohh.. ohh.. ohh.. mmhh..” Fani sedikit membuka matanya yang terpejam untuk melihat Iroh menggigit bibir sambil kedua tangannya meremas-remas ujung roknya, sementara kedua pahanya dirapatkan dan saling bergesek-gesek, tanda ia sendiri sudah mulai terangsang dengan pemandangan di depannya ini, dan mungkin ditambah dengan khayalan di benaknya sendiri. Pemandangan itu membuat Fani semakin terangsang dan mulai semakin liar menggesek-gesek klitoris dan vaginanya, sementara tangan satunya mulai meremas-remas buah dadanya dengan kasar. Desah dan rintihan pun mulai semakin sering terlepas dari bibir mungilnya.

“Ngh.. ngh.. ngh.. ohh.. ohh.. ngh.. ngh..” di antara keliaran gesekan jari dan remasan tangannya, dengan birahi yang mulai meledak-ledak, Fani memasukkan jarinya yang telah dibasahi lendir gairah ke dalam mulutnya, menghisap lendir hangat itu dengan penuh kenikmatan, lalu kembali digesek-gesekkan pada vaginanya. Terus Fani mengulangi itu berkali-kali, sementara aliran air hangat meleleh dari kepala melewati dadanya yang terus diremas-remas dengan liar, turun ke vaginanya yang merekah mendapatkan serangan rangsangan hebat dari jarinya.

Semakin liar dan bernafsu, Fani kini menggunakan dua jari untuk menjepit klitorisnya dari atas sambil kedua jarinya itu menggesek-gesek vaginanya yang telah melelehkan lendir panas, sementara tubuhnya mulai bergelinjang tak terkendali dan mulutnya semakin liar merintih dan mendesah. “Ngghh.. gghh.. ohh.. ohh.. Mbak.. Mbak.. Mbakk.. ohh..” Rangsangan dan kenikmatan gairah pada tubuh Fani mulai merebak mencapai klimaksnya. Dengan tubuh bergelinjang semakin liar dan gesekan jari pada vagina yang juga semakin kasar dan bernafsu, serta remasan pada buah dadanya yang juga semakin kasar dan liar, Fani merasakan setruman rangsangan penuh kenikmatan merebak dari vaginanya ke seluruh penjuru tubuhnya secara perlahan namun terasa tak kunjung berakhir. Iroh melotot tegang dengan tubuh panas-dingin melihat Fani menggelinjang hebat. “Ahh.. ahh.. ahh.. ahh!” Fani menjerit-jerit tak terkendali merasakan kenikmatan puncak yang walaupun sebenarnya hanya berlangsung beberapa detik ini, namun terasa seperti berjam-jam meledak-ledak dalam dirinya, sementara kedua tangannya dengan kasar meremas vagina dan buah dadanya yang menjadi pusat kenikmatan terhebat yang pernah ia rasakan selama hidupnya ini.

“Gggaahh..” Dengan lenguhan terakhirnya, Fani melepas ledakan orgasme yang membuat seluruh tubuhnya lemas bagai tak bertulang, lalu ia pun menggelosor di bathtub, duduk telanjang dengan mata terpejam penuh kenikmatan sementara air hangat masih terus mengucur menyiram tubuhnya.

Iroh menghela nafas panjang disusul nafas yang terengah-engah setelah menyaksikan klimaks yang dinikmati majikannya. Tak terasa, ternyata Iroh pun banyak menahan nafas selama pertunjukan nakal penuh gairah ini digelar oleh Fani. “Mbak, tolong ambilin handuk dong,” pinta Fani pelan dan lembut di sela nafasnya yang juga tersengal-sengal. Iroh langsung melesat keluar, selain ingin mengambil handuk, juga sangat membutuhkan udara segar untuk paru-parunya yang terasa penuh kabut.

Fani menyelesaikan mandinya, lalu mengeringkan badan dengan handuk. Dengan tubuh dibalut handuk, Fani keluar kamar mandi dan menghampiri Iroh yang masih duduk saja di meja makan, kebingungan, tak tahu harus berbuat apa. Fani mengecup pipi Iroh, lalu tersenyum. “Makasih ya, Mbak Iroh, udah nemenin Fani. Kapan-kapan lagi ya?” tukas Fani ceria, seakan itu hanya kejadian biasa yang setiap hari bisa terjadi di setiap keluarga normal. Iroh hanya bisa mengangguk dan Fani berlenggok meninggalkannya dengan perasaan puas dan ringan.

TAMAT

Tags : cerita panas, setengah baya, cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,indocerita 17 tahun,cerita seru 17 tahun,memek 17 tahun, foto cewek bugil indonesia, artis indonesia bugil, gambar bugil, video indonesia bugil, memek bugil

Cerita Hot – Jude, Guru Privatku

Memiliki rupa yang cantik tidak selamanya menguntungkan. Memang banyak lelaki yang tertarik, atau mungkin hanya sekedar melirik. Ada kalanya wajah menentukan dalam mendapatkan posisi di suatu pekerjaan. Atau bahkan wajah dapat dikomersiilkan pula.

Tapi aku tidak pernah mengharapkan wajah yang cantik seperti yang kumiliki saat ini. Aku juga tidak pernah menghendaki tinggi badan 163 centimeter dengan berat 52 kilogram. Tidak juga kulit putih merona dengan dada ukuran 36B. Tidak! Sungguh, semua itu justru membawa bencana bagiku.

Bagaimana tidak bencana. Karena postur tubuh dan wajah yang bisa dinilai delapan, aku beberapa kali mengalami percobaan pemerkosaan. Paling awal ketika aku masih duduk di bangku esempe kelas tiga. Aku hampir saja diperkosa oleh salah seorang murid laki-laki di toilet. Murid laki-laki yang ternyata seorang alkoholik itu kemudian dikeluarkan secara tidak hormat dari sekolah. Tapi akupun akhirnya pindah sekolah karena masih trauma.

Di sekolah yang baru pun aku tak bisa tenang karena salah seorang satpamnya sering menjahilin aku. Kadang menggoda-goda, bahkan pernah sampai menyingkap rokku ke atas dari belakang. Sampai pada puncaknya, aku digiring ke gudang sekolah dengan alasan dipanggil oleh salah seorang guru. Untung saja waktu itu seorang temanku tahu gelagat tak beres yang tampak dari si Satpam brengsek itu. Ia dan beberapa teman lain segera memanggil guru-guru ketika aku sudah mulai terpojok. Aku selamat dan satpam itu meringkuk sebulan di sel pengap.

Dua kali menjadi korban percobaan pemerkosaan, orang tuaku segera mengadakan upacara ruwatan. Walaupun papa mamaku bukan orang Jawa tulen (Tionghoa), tapi mereka percaya bahwa upacara ruwatan bisa menolak bahaya.

Selama dua tahun aku baik-baik saja. Tak ada lagi kejadian percobaan pemerkosaan atas diriku. Hanya kalau colak-colek sih memang masih sering terjadi, tapi selama masih sopan tak apalah. Tapi ketika aku duduk di bangku kelas tiga esemu. Kejadian itu terulang lagi. Teman sekelasku mengajakku berdugem ria ke diskotik. Aku pikir tak apalah sekali-kali, biar nggak kuper. Ini kan Jakarta, pikirku saat itu. Aku memang tak ikut minum-minum yang berbau alkohol, tapi aku tak tahu kalau jus jeruk yang aku pesan telah dimasuki obat tidur oleh temanku itu. Waktu dia menyeretku ke mobilnya aku masih sedikit ingat. Waktu dia memaksa menciumku aku juga masih ingat. Lalu dengan segala kekuatan yang tersisa aku berusaha berontak dan menjerit-jerit minta tolong. Aku kembali beruntung karena suara teriakanku terdengar oleh security diskotik yang kemudian datang menolongku.

Sejak itu aku merasa tak betah tinggal di Jakarta. Akhirnya aku segera dipindahkan ke Yogyakarta, tinggal bersama keluarga tanteku sambil terus melanjutkan sekolah. Awalnya ketenangan mulai mendatangiku. Hidupku berjalan secara wajar lurus teratur. Tanpa ada gangguan yang berarti, apalagi gangguan kejiwaan tentang trauma perkosaan. Aku sibuk sekolah dan juga ikutan les privat bahasa Inggris.

Tapi memasuki bulan kelima peristiwa itu benar-benar terjadi. Aku benar-benar diperkosa. Dan yang lebih kelewat batas. Bukannya lelaki yang memperkosaku, tapi wanita. Yah, aku diperkosa lesbian!! Dan lebih menyakitkan, yang melakukannya adalah guru privatku sendiri. Namanya Jude Kofl. Umurnya 25 tahun, tujuh tahun diatasku. Ia orang Wales yang sudah tujuh tahun menetap di Indonesia. Jadi Jude, begitu aku memanggilnya, cukup fasih berbahasa Indonesia. Jude tinggal tak sampai satu kilometer dari tempatku tinggal. Aku cukup berjalan kaki jika ingin ke rumah kontrakannya.

Kejadian itu bermula pada saat aku datang untuk les privat ke tempat Jude. Kadangkala aku memang datang ke tempat Jude kalau aku bosan belajar di rumahku sendiri, itupun kami lakukan dengan janjian dulu. Sebelum kejadian itu aku tidak pernah berpikiran macam-macam ataupun curiga kepada Jude. Sama sekali tidak! Memang pernah aku menangkap basah Jude yang memandangi dadaku lekat-lekat, pernah juga dia menepuk pantatku. Tapi aku kira itu hanya sekedar iseng saja.

Siang itu aku pergi ke tempat Jude. Ditengah jalan tiba-tiba hujan menyerang bumi. Aku yang tak bawa payung berlari-lari menembus hujan. Deras sekali hujan itu sampai-sampai aku benar-benar basah kuyup. Sampai di rumah Jude dia sudah menyongsong kedatanganku. Heran aku karena Jude masih mengenakan daster tipis tak bermotif alias polos. Sehingga apa yang tersimpan di balik daster itu terlihat cukup membayang. Lebih heran lagi karena Jude menyongsongku sampai ikut berhujan-hujan.

“Aduh Mel, kehujanan yah? Sampai basah begini..” sambutnya dengan dialek Britishnya.

“Jude, kenapa kamu juga ikut-ikutan hujan-hujanan sih, jadi sama-sama basah kan.”

“Nggak apa-apa nanti saya temani you sama-sama mengeringkan badan.”

Kami masuk lewat pintu garasi. Jude mengunci pintu garasi, aku tak menaruh kecurigaan sama sekali. Bahkan ketika aku diajaknya ke kamar mandinya, aku juga tak punya rasa curiga. Kamar mandi itu cukup luas dengan perabotan yang mahal, walau tak semahal milik tanteku. Di depanku nampak cermin lebar dan besar sehingga tubuh setiap orang yang bercermin kelihatan utuh.

“Ini handuknya, buka saja pakaian you. Aku ambilkan baju kering, nanti you masuk angin.”

Jude keluar untuk mengambil baju kering. Aku segera melepas semua pakaianku, kecuali CD dan BH lalu memasukkannya ke tempat pakaian kotor di sudut ruangan.

“Ini pakaiannya,”

Aku terperanjat. Jude menyerahkan baju kering itu tapi tubuh Jude sama sekali tak memakai selembar kain pun. Aku tak berani menutup muka karena takut Jude tersinggung. Tapi aku juga tak berani menatap payudara Jude yang besar banget. Kira-kira sebesar semangka dan nampak ranum banget, tanda ingin segera dipetik. Berani taruhan, milik Jude nggak kalah sama milik si superstar Pamela Anderson.

“Lho kenapa tidak you lepas semuanya?” tanya Jude tanpa peduli akan rasa heranku.

“Jude, kenapa kamu nggak pakai baju kayak gitu sih?”

Jude hanya tersenyum nakal sambil sekali-sekali memandang ke arah dadaku yang terpantul di cermin. Kemudian Jude melangkah ke arahku. Aku jadi was-was, tapi aku takut. Aku kembali teringat pada peristiwa percobaan pemerkosaanku.

Jude berdiri tegak di belakangku dengan senyum mengembang di bibir tipisnya. Jemarinya yang lentik mulai meraba-raba mengerayangi pundakku.

“Jude! Apa-apaan sih, geli tahu!”

Aku menepis tangannya yang mulai menjalar ke depan. Tapi secepat kilat Jude menempelkan pistol di leherku. Aku kaget banget, tak percaya Jude akan melakukan itu kepadaku.

“Jude, jangan main-main!” aku mulai terisak ketakutan.

“It’s gun, Mel and I tak sedang main-main. Aku ingin you nurut saja sama aku punya mau.” Ujar Jade mendesis-desis di telinga Jade.

“Maumu apa Jude?”

“Aku mau sama ini.. ini juga ha..ha..”

“Auh..”

Seketika aku menjerit ketika Jude menyambar payudaraku kemudian meremas kemaluanku dengan kanan kirinya. Tahulah aku kalau sebenarnya Jude itu sakit, pikirannya nggak waras khususnya jiwa sex-nya. Buah dadaku masih terasa sakit karena disambar jemari Jude. Aku harus berusaha menenangkan Jude.

“Jude ingat dong, aku ini Melinda. Please, lepaskan aku..”

“Oh.. baby, aku bergairah sekali sama you.. oh.. ikut saja mau aku, yah..” Jude mendesah-desah sambil menggosok-gosokkan kewanitaannya di pantatku. Sedangkan buah dadanya sudah sejak tadi menempel hangat di punggungku. Matanya menyipit menahan gelegak birahinya.

“Jude, jangan dong, jangan aku..”

Muka Jude merah padam, matanya seketika terbelalak marah. Nampaknya ia mulai tersinggung atas penolakanku. Ujung pistol itu makin melekat di dekat urat-urat leherku.

“You can choose, play with me or.. you dead!”

Aah.. Dadaku serasa sesak. Aku tak bisa bernafas, apalagi berfikir tenang. Tak kusangka ternyata Jude orang yang berbahaya.

“Okey, okey Jude, do what do you want. Tapi tolong, jangan sakiti aku please..” rintihku membuat Jude tertawa penuh kemenangan.

Wajah wanita yang sebenarnya mirip dengan Victoria Beckham itu semakin nampak cantik ketika kulit pipinya merah merona. Jude meletakkan pistolnya di atas meja. Kemudian dia mulai menggerayangiku.

Jude mulai mencumbui pundakku. Merinding tubuhku ketika merasakan nafasnya menyembur hangat di sekitar leherku, apalagi tangannya menjalar mengusap-usap perutku. Udara dingin karena CD dan BHku yang basah membuatku semakin merinding.

Jemari Jade yang semula merambat di sekitar perut kini naik dan semakin naik. Dia singkapkan begitu saja BHku hingga kedua bukit kembarku itu lolos begitu saja dari kain tipis itu. Setiap sentuhan Jade tanpa sadar aku resapi, jiwaku goyah ketika jari-jari haus itu mengusap-usap dengan lembut. Aku tak tahu kalau saat itu Jade tersenyum menang ketika melihatku menikmati setiap sentuhannya dengan mata tertutup.

“Ah.. ehg.. gimana baby sweety, asyik?” kata Jude sambil meremas-remas kedua buah dadaku.

“Engh..” hanya itu yang bisa aku jawab. Deburan birahiku mulai terpancing.

“Engh..” aku mendongak-dongak ketika kedua puting susuku diplintir oleh Jude “Juude..ohh..”

Aku tak tahan lagi kakiku yang sejak tadi lemas kini tak bisa menyangga tubuhku. Akupun terjatuh ke lantai kamar mandi yang dingin. Jude langsung saja menubrukku setelah sebelumnya melucuti BH dan CDku. Kini kami sama-sama telah telanjang bagai bayi yang baru lahir.

“You cantik banget Mel, ehgh..” Jude melumat bibirku dengan binal.

“Balaslah Mel, hisaplah bibirku.”

Aku balas menghisapnya, balas menggigit-gigit kecil bibir Jude. Terasa enak dan berbau wangi. Jude menuntun tanganku agar menyentuh buah dadanya yang verry verry montok. Dengan sedikit gemetar aku memegang buah dadanya lalu meremas-remasnya.

“Ah.. ugh.. Mel, oh..” Jude mendesis merasakan kenikmatan remasan tanganku. Begitupun aku, meletup-letup gairahku ketika Jude kembali meremas dan memelintir kedua bukit kembarku.

“Teruslah Mel, terus ..”

Lalu Jude melepaskan ciumannya dari bibirku.

“Agh.. Oh.. Juude..”

Aku terpekik ketika ternyata Jude mengalihkan cumbuannya pada buah dadaku secara bergantian. Buah dadaku rasanya mau meledak.

“Ehg.. No!!” teriakku ketika jemari Jude menelusuri daerah kewanitaanku yang berbulu lebat.

“Come on Girl, enjoy this game. Ini masih pemanasan honey..”

Pemanasan dia bilang? Lendir vaginaku sudah mengucur deras dia bilang masih pemanasan. Rasanya sudah capek, tapi aku tak berani menolak. Aku hanya bisa pasrah menjadi pemuas nafsu sakit Jude. Walau aku akui kalau game ini melambungkan jiwaku ke awang-awang.

Jude merebahkan diri sambil merenggangkan kedua pahanya. Bukit kemaluannya nampak jelas di pangkal paha. Plontos licin. Lalu Jude memintaku untuk mencumbui vaginanya. Mulanya aku jijik, tapi karena Jude mendorong kepalaku masuk ke selakangannya akupun segera menciumi kewanitaan Jude. Aroma wangi menyebar di sekitar goa itu. Lama kelamaan aku menciuminya penuh nafsu, bahkan makin lama aku makin berani menjilatinya. Juga mempermainkan klitnya yang mungil dan mengemaskan.

“Ahh.. uegh..” teriak Jude sedikit mengejan.

Lalu beberapa kali goa itu menyemburkan lendir berbau harum.

“Mel, hisap Mel.. please..” rengek Jude.

Sroop.. tandas sudah aku hisap lendir asin itu.

Suur.. kini ganti vaginaku yang kembali menyemburkan lendir kawin.

“Jude aku keluar..” ujarku kepada Jude.

“Oya?” Jude segera mendorongku merebah di lantai. Lalu kepalanya segela menyusup ke sela-sela selakanganku.

Gadis bule itu menjilati lendir-lendir yang berserakan di berbagai belantara yang tumbuh di goa milikku. Aku bergelinjangan menahan segala keindahan yang ada. Jude pandai sekali memainkan lidahnya. Menyusuri dinding-dinding vaginaku yang masih perawan.

“Aaah..” kugigit bibirku kuat kuat ketika Jude menghisap klit-ku, lendir kawinkupun kembali menyembur dan dengan penuh nafsu Jude menghisapinya kembali.

“Mmm.. delicious taste.” Gumamnya.

Jude segera memasukkan batang dildo yang aku tak tahu dari mana asalnya ke dalam lubang kawinku.

“Ahh..!! Jude sakit..”

“Tahan sweety.. nanti juga enak..”

Jude terus saja memaksakan dildo itu masuk ke vaginaku. Walaupun perih sekali akhirnya dildo itu terbenam juga ke dalam vaginaku. Jude menggoyang-goyangkan batang dildo itu seirama. Antara perih dan nikmat yang aku rasakan. Jude semakin keras mengocok-ngocok batang dildo itu. Tiba-tiba tubuhku mengejang, nafasku bagai hilang. Dan sekali lagi lendir vaginaku keluar tapi kali ini disertai dengan darah. Setelah itu tubuhku pun melemas.

Air mataku meleleh, aku yakin perawanku telah hilang. Aku sudah tak pedulikan lagi sekelilingku. Sayup-sayup masih kudengar suara erangan Jude yang masih memuaskan dirinya sendiri. Aku sudah lelah, lelah lahir batin. Hingga akhirnya yang kutemui hanya ruang gelap.

Esoknya aku terbangun diatas rajang besi yang asing bagiku. Disampingku selembar surat tergeletak dan beberapa lembar seratus ribuan. Ternyata Jude meninggalkannya sebelum pergi. Dia tulis dalam suratnya permintaan maafnya atas kejadian kemarin sore. Dan dia tulis juga bahwa dia takkan pernah kembali untuk menggangguku lagi. Aku pergi dari rumah kontrakan terkutuk itu seraya bertekad akan memendam petaka itu sendiri.

TAMAT

Tags : cerita panas, setengah baya, cerita sex, foto ngentot, smu bugil, gadis indonesia, gambar bokep,indocerita 17 tahun,cerita seru 17 tahun,memek 17 tahun, foto cewek bugil indonesia, artis indonesia bugil, gambar bugil, video indonesia bugil, memek bugil

Cerita Hot – Mantan Anak Ibu Kost

Pengalaman aku kali ini berawal beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2004 -2008. Saat itu aku baru saja mendapatkan kerjaku di kota Surabaya sehingga untuk mendapatkan rumah dalam waktu dekat tidak mungkin aku lakukan karena terus terang saja, aku belum mendapatkan tabungan yang cukup untuk membeli rumah. Akhirnya aku putuskan untuk kost didaerah dekat kantor.

Akhirnya aku dapatkan tempat kost yang aku inginkan, perlu pembaca ketahui, nenek kostku mempunyai cucu perempuan yang saat itu masih berada dibawah bangku SMP, sebut saja namanya Endah. Endah adalah sosok yang mengasyikkan jika dilihat, walaupun dia masih dibangku SMP, Endah mempunyai bentuk tubuh yang montok dan setelah aku banding-bandingkan, Endah mirip dengan seorang selebitris di Indonesia yang masih single sampai sekarang. Oya, sebelumnya namaku Dandy, 30 tahun seorang karyawan di salah satu perusahaan di Surabaya.

Singkat cerita, tanpa terasa 2 tahun sudah aku menjalani masa kostku dan karena aku termasuk orang yang supel, aku cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Dan karakter aku itu membuat Endah yang semakin hari semakin ranum dan sexy, tergila-gila dengan aku. Sampai suatu hari aku beranikan diri untuk mencium bibirnya, diluar dugaanku Endah membalas dengan buasnya. Sampai akhirnya aktivitas itu menjadi kegiatan rutin antara aku dengan Endah, sepulang kantor atau memanfaatkan waktu-waktu sepi di kost-kostan. Setiap melakukan hal itu, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelinap di balik CD nya dan sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya. Dan walaupun aku hanya menggesekkan adik kecilku tetapi setiap aktivitas itu, aku selalu mencapai klimaks. 4 tahun ternyata waktu yang sedikit untuk menikmati hal itu. Sampai akhirnya aku harus keluar dari kost-kostan dan Endah harus kuliah di kota dingin Malang.

Setelah sekian tahun lamanya aku tidak mendengar kabar tentang Endah, di tahun 2009 aku iseng-iseng call Endah di rumahnya dan walhasil dari obrolan pertama di telepon tersebut, aku dapatkan nomor phone dia di Malang dan juga dia memberikan nomor HP. Akhirnya kita berdua sering kontak via telephone, walaupun aku sudah berstatus nggak bujang lagi, tetapi dia tetap saja bilang kalau masih sayang sama aku. Sampai akhirnya kita janjian untuk ketemu saat dia week end, karena setiap hari itu Endah selalu rajin pulang ke Surabaya.

Pucuk ditunggu ulam pun tiba, dengan perasaan deg-degan akhirnya aku bertemu dengan sosok Endah yang dulu masih lugu dan centil, sekarang tumbuh menjadi gadis yang sexy, sintal dengan ukuran bra 34. Waw, semakin aku menelan ludah setiap melihat tubuhnya yang sexy.

“Mas Dandy, gimana khabarnya,” tanya Endah merusak pikiranku yang jorok.

“Ee.. baik, bagaimana dengan kamu?” jawabku gugup.

Kita berdua bercerita panjang lebar setelah sekaian lama nggak ketemu, Sampai akhirnya aku harus antar dia balik ke rumahnya di sUrabaya.

“En, kamu sudah punya pacar..?” tanyaku.

“Lagi blank nih Mas.. ” jawab Endha tangkas

“O yah, kamu masih inget nggak saat aku ajarin kamu berciuman dulu?” godaku.

“Ihh, Mas Dandy emang bandel kok,” sambil mencubit lenganku.

“Aow..,” aku meringis kesakitan.

“Kamu mau nggak kalau aku terusin pelajarannya,” tanyaku sekali lagi.

“Mau aja asal Mas yang ajarin,” jawaban Endah membuat aku merinding.

Setelah kita bercanda dan bercerita panjang lebar, akhirnya aku menawarkan diri untuk ketemu minggu depannya lagi.

“Endah, minggu depan ketemu lagi yuk,” ajakku.

“Boleh deh Mas..,” jawab Endah dengan ceria.

“Tapi nginep ya di hotel?” godaku.

“Lho ngapain?” Endah balas bertanya.

“Katanya mau lanjutin pelajarannya..” aku mencoba memancing .

“Nakaall Mas Dandy.. nih.”

Tanpa terasa akhirnya Endah harus turun di dekat rumahnya.

“Ma kasih ya Mas, sampai ketemu minggu depan,” sambil pamit Endah mengecup pipiku. Alamak, darah mudaku bergejolak menerima sentuhan bibirnya yang mungil. Aku perhatikan lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobil starletku, sembari aku membayangkan seandainya aku bisa menikmati tubuh kamu Endah, duh betapa bahagainya diriku.

Satu minggu tanpa terasa aku lewatin, sampailah aku ketemu dengan Endah. Kali ini aku sudah booking hotel berbintang di pinggiran kota untuk satu malam. Tepat pukul 16.30, sepulang kantor aku bergegas mengemasi pekerjaan aku dan meluncur di tempat yang sudah kita sepakati bersama.

Bulu kudukku merinding saat dia memasuki mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf kelaki-lakianku.

Tanpa pikir panjang, aku segera meluncur menuju hotel yang sudah aku booking sehari sebelumnya. Jujur saja, buat Endah ini adalah hal yang pertama masuk di hotel, sehingga dia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Setelah chek ni, aku bergegas menuju lift untuk langsung ke kamar.

“Mas, aku mau mandi dulu ya..?” pinta Endah.

“Oke silahkan, apa mau aku mandiin,” godaku.

“Nggak ah, nakal Mas Dandy nih..” sambil menjawab seperti itu, Endah bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Endah berjalan gontai menuju kamar mandi. Mataku benar-benar tidak bisa berkedip melihat pemandangan tubuh Endah yang benar-benar menggairahkan. Pikiranku melayang saat membayangkan kemolekan tubuhnya.

20 menit berikutnya Endah keluar kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, hingga membuat darah sex aku naik ke ubun-ubun. Akan tetapi aku berusaha mengendalikan gejolak nafsuku di depan Endah karena memang di depan dia, aku adalah figur seorang kakak yang baik.

“O ya Endah, kamu mau makan apa sekalian pesannya,” tanyaku untuk menutupi gejolak bathinku.

“Terserah Mas deh,” jawabnya.

Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit dan tanpa terasa kami sudah bercerita panjang lebar, untuk sekedar melepas kangen. Kita berdua bercengkrama, bercanda cerita tentang apapun, sampai akhirnya..

“En, kamu serius mau lanjutin pelajarannya,” tanyaku serius.

“He eh Mas Dandy,” jawabnya.

“Endah..” aku tidak meneruskan pertanyaanku karena dengan cepat aku langsung menyerbu bibir Endah yang mungil.

“Mas..” Endah mendesah sambil memeluk badanku erat, tangannya yang bandel mulai meraba daerah sensitifku, sesekali memainkan rambutku. Endah mengelus kudukku sehingga membuat aku terangsang hebat.

Lidah Endah yang nakal, sesekali mengimbangi lidahku yag menjelajah seluruh bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Endah. Pengait BH nya terlepas,

“Mas.. kamu memang guru yang baik,” sambil aku benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan payudaranya yang montok.

Sekitar 15 aku bercumbu dengan Endah, aku semakin penasaran dengan apa yang ada dibalik CD nya. Dengan perlahan aku mulai berusaha membuka CD yang dikenakan oleh Endah dan kegiatan aku semakin mudah karena Endah berusaha mengangkat pantatnya sehingga memudahkan aku untuk mempreteli CD nya. Alamak! bulu yang tumbuh masih halus sekali dan baunya wow.. ranum sekali segar, tanpa berpikir panjang aku segera membuka kedua pahanya dan mengunci dengan lenganku sehingga vagina Endah yang masih merah terpampang jelas didepan mataku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menjelajahi setiap mm permukaan vagina Endah.

“Oh.. Mas Dandy.. asyik sekali Mas.. ughh,” rintih Endah saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya. Tubuh Endah seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk dalam-dalam lubang vaginanya. Sesekali tangannya meremas rambutku yang sedikit gondrong, dan hal itu membuat gairahku semakin naik.

“Mas Dandy.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dulu-dulu Mas,” rengek Endah sambil melihat lidahku sedang mengerjai vaginanya. Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Endah melayang. Ternyata Endah type orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.

“Mas.. Mas Dandy, Endah kebelet pipis Mas.. aduh,” rintih Enda.

“Pipis aja sayang di mulut Mas..” jawabku.

“Mas.. aduh.. Endah nggak kuat..” Endah menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.

“Aduh Mas Dandy.. sudah sayang.. uh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aakhh..” kata Endah. Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Endah merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.

Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Endah kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.

“Wow.. panjang sekali Mas Dandy.. aku suka banget.”

Endah mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya dia sangat pandai mengoral cowok.

“Aakhh.. Endah.. kamu pinter tuh,” erangku.

Endah tidak menjawab pujianku, dia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap penisku, aku merem melek setiap penisku masuk dalam mulutnya.

Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Endah sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.

Tidak selang berapa lama,

“Mmm, Mas Dandy.. aku.. pipis lagi.. oh..” Endah menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Endah dihadapanku dan,

“Endah kamu masih virgin?” tanyaku.

“Mungkin sudah tidak Mas,?” jawab Endah.

Aku sedikit kaget sembari bertanya, “Siapa yang lakukan pertama?”

“Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah.”

Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk adik kecilku yang sudah mulai menegang 7 kali lipat dari biasanya. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar vagina Endah, penisku mulai mencari lubangnya dan bless.

“Mas Dandy.. enak sekali sayang.”

Endah membantu mempermudah aku untuk memasukan penisku, sambil mendekap tubuhku, dia mulai memutar pinggulnya, sehingga penisku terasa ada yang memijit.

“Ooh.. Mas Dandy, kenapa tidak dari dulu kau berikan kenikmatan ini padaku..” Endah berkelenjotan menerima sodokan penisku.

“Crek crekk crek” penisku keluar masuk dalam lubang vaginanya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.

“Mas.. Endah, pipis lagi.. ahh..” Endah menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.

Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Endah sehingga posisi Endah sekarang seperti doggi style. Dengan leluasa aku bisa mengentot Endah dari belakang dengan keringat bercucuran.

“Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uughh..” Endah merintih saat penisku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku. Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Endah, sehingga kalau dia butuh lagi pasti mencariku.

45 menit sudah pergumulan ini terjadi, entah berapa kali sudah Endah orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.

“Endah.. Mas mau keluar nih..,” rintihku.

“Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..,” pinta Endah.

“Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh.”

Aku merintih saat dia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.

“Endah.. ohh Mas keluar..,” secepat kilat aku mencabut penisku dan mengarahkan ke mulut Endah.

“Aowww..” spermaku muncrat diwajah Endah. Endah menjilati penisku dengn lahap sampai tidak tesisa sedikitpun spermaku yang keluar.

“Mas, kamu memang guru jempolan.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Dandy baru sekali.. kamu hebat Mas,” cerita Endah.

“Kamu suka sayang,” tanyaku.

“Suka banget, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?” balas Endah bertanya.

“Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu.”

Endah memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost, karena dia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.

TAMAT

Tags : cerita hot, cerita seks, cewek smu bugil,hp tante girang, foto telanjang neng kartika, gadis bandung telanjang,gadis indonesia bugil telanjang abg bugil,gadis pontianak telanjang,gambar telanjang cewek cantik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.